Respon Cepat

Respon Cepat
Loading...

Jual Buku Novel Jalan Menikung

Judul: Jalan Menikung (Para Priyayi 2)
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti
Tebal: 184 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Harga: Rp. 60.000 (belum ongkir)
Stok kosong


Masih ingat Para Priyayi, kisah tentang keluarga besar Sastro Darsono dari Wanagalih? Dalam Jalan Menikung ini kisah keluarga Sastro Darsono berlanjut dengan kehidupan Harimurti-Sulistianingsih bersama anak tunggal mereka, Eko, yang belajar di Sunnybrook College, Connecticut, Amerika Serikat. Sukses dalam studi dan ingin kembali ke tanah air, ternyata Eko tersandung oleh masa lalu ayahnya. Harimurti dipecat dari pekerjaannya, anjuran sang ayah ia tetap tinggal di Sunnybrook dan kemudian bekerja pada sebuah perusahaan penerbitan di New York. Sementara itu, Eko terpikat pada Claire Levin, putri induk semangnya yang Yahudi-Amerika.

Perkawinan Eko dengan seorang Yahudi memicu perdebatan hangat di antara orangtuanya dan juga di antara suami istri Lantip, kakak angkat Harimurti. Akankah Eko tercerabut dari akarnya, yaitu kehilangan keindonesiaannya, kejawaan, kepriyayian, dan keislaman? Kunjungannya ke Indonesia membuat Eko sadar bahwa dia telah menempuh jalan menikung dari kerabat besarnya.
Kebijaksanaan Para Priyayi (Jawa)

Apakah kepriayian Jawa berporos pada kebijaksanaan (wisdom) sebagai  kelenturan sikap dan sekaligus nilai yang menentukan perilaku dan menjadi “wisdom” untuk menghadapi perubahan zaman serta pilihan-pilihan kehidupan?

Bagaimana pula para priayi dengan tradisi ketika “trah” (darah priayi) yang menurun dihayati oleh generasi-generasi berikutnya? Tetap dirawat mati-matian secara tafsir penghayatan fisik? Secara semangat lentur, tapi tetap berprinsip mengacu ke kebijaksanaan yang disesuaikan dengan perubahan zaman? Ataukah ibarat seorang pemain ski air: ia memainkan ombak laut sekaligus dipermainkan? Apakah “wisdom” itu tidak mengatur manusia Jawa seperti etika Barat mengatur orang barat?

Novel Para Priyayi 2 karya Umar Kayam ini mencoba menanggapi dengan  jernih lewat tiga pengisahan. Yang pertama, perilaku hidup generasi berikut dari keturunan (trah) Sastrodarsono; generasi anak-anaknya dan generasi cucu. Di sana dipaparkan generasi mana yang lebih menghayati warisan kepriayian sebagai status, kulit formalitas. Generasi yang lebih muda menghayati isi semangatnya, pun ketika ditabrakkan pada pilihan jalan menikung perkawinan beda ras (Eko dan Claire) sekaligus beda agama: yang satu Jawa-Islam dan si Claire Amerika-Yahudi.

Jalan menikung ini justru, oleh generasi muda yang sudah pasca-Indonesia dan lintas agama, diselesaikan manis secara “esensial” (mendasar) lewat perkawinan sipil dengan pilihan perekat utama mereka, yaitu cinta itu sendiri. Jadi, kemanusiaan menjadi ungkapan paling dewasa ke-Jawa-an priayi yang mengatasi beda ras dan agama.

Sebuah simbol generasi baru humanis universalkah generasi pasca-Indonesia priayi itu? Inilah generasi Eko (anak dari Harimurti dan Sulistianingsih, turunan langsung keluarga besar Sastrodarsono, sebagai Para Priyayi 1).

Dengan paralel (penyejajaran) serupa, Anna Aditomo Nugroho, yang kaya raya sebagai anak pengusaha priayi Tommi, memilih menikahi Boy Saputro, yang keturunan Cina, dengan pilihan cinta tulus manusia dan pilihan kemanusiaan, meskipun sang ayah—yang tidak mau darah priayinya dicampuri darah Cina—menolak perkawinan anaknya ini dengan tidak hadir dan tidak membiayainya lantaran pilihan itu.

Pengisahan kedua ditunjukkan lewat penghayatan kelenturan semangat “wisdom” priayi dalam tawakal (tidak menyerah), manakala Harimurti pada puncak-puncak karirnya di perusahaan penerbitan buku tetap saja harus mundur karena kena politik bersih lingkungan meski tidak bersalah.

Begitu pula si Eko, yang dengan semangat cinta tanah air dengan sumpahnya mau berbakti kepada bangsa ini setelah menyelesaikan studi di Sunny Brook, Amerika Serikat, dengan tawakal tidak jadi pulang dan bahkan hidup di sana dengan generasi barunya lantaran konsekuensi politik dendam kesumat bersih lingkungan dan politik irasionalitas bangsanya sendiri.

Dua (2) pengisahan Jalan Menikung di atas, yaitu perkawinan lintas agama dan lintas ras serta pilihan priayi untuk memuliakan kemanusiaan dan melindungi hidup sesama orang banyak, dikalimatkan Kayam dalam sindiran halus tetapi tajam.

“Ini soal darah cucu-cucu saya nanti, Hari. Saya tidak mau kalau darah priayi Sastrodarsono ditambah darah pejuang angkatan ’45 Nugroho lantas tercampur dengan darah Cina.” (kata Tommi)

Dalam hati Lantip, ia heran akan ketidakpekaan Tommi terhadap perasaan orang lain. “Maunya, semua dimulai dari sudut dirinya sendiri. Ini sindrom apa?” pikir Lantip.

Dia lantas ingat Embah atau Eyang Sastrodarsono. Meski priayi kecil, pandangan hidup serta kepekaannya terhadap kehidupan priayi dua puluh empat karat.

“Inti semangat priayi adalah keikhlasan untuk mengabdi dan mengayomi hidup orang banyak atau wong cilik.” (halaman 83-84)

Pengisahan yang ketiga, Umar Kayam menunjuk nilai hormat terhadap leluhur dan orang tua dengan memuliakan makamnya, menanam dalam dan menjunjung tinggi orang tua dan yang dituakan (mendhem jero, mikul dhuwur), yang ekspresinya adalah pemugaran makam (Bab XII). Selain hormat kepada yang berjasa melahirkan kehidupan, bingkai-bingkai penyelesaian konflik atau masalah-masalah jalan simpang kehidupan secara priayi adalah pembicaraan bersama dalam musyawarah keluarga besar, tempat kebersamaan dihayati dan diperbaharui tali-temali pengikatnya, termasuk pula perhelatan-perhelatan perkawinan. Sebab, kebersamaan yang saling menghormati dalam menghormati keragaman hidup itu ibarat satu mangkuk penuh macam-macam buah cherry (menurut penghayatan “tepa salira”: menghormati keragaman sesama generasi Harimurti, halaman 4).

Tiga pengisahan di atas mau menggarisbawahi secara susastra bahwa “wisdom” bagi orang Jawa (priayi) adalah kebijaksanaan untuk tidak hanya tahu atau “ngerti kawruh“, tetapi juga “laku” itu sendiri. Jadi, pemahaman dari dalam, sesuatu yang dimengerti (intuisi rasa batin) dari dalam dirinya sendiri.

Wisdom ini dapat juga menjadi semacam kompas atau nurani, sesuatu yang bercahaya, menyentuh, tidak memaksa, tetapi bersuara di hati kita untuk mengatakan kebenaran ini atau itu. Dari sini orang Jawa memandang sosok tenang, hening, sebagai sosok bijaksana, yang dalam tiga pengisahan di atas dipusatkan pada tokoh Lantip (simbolis sekali lantaran ia berarti tajam dan awas, sementara hening bernuansa pengendapan diri dan mampu memberi pertimbangan bijaksana).

Si Lantiplah, “nurani” priayi, cahaya wisdom dalam soal-soal amat pelik dan berat, yang menjadi terang di gelap-gelap dan buram-buram Jalan Menikung-nya Umar Kayam.

Novel ini sebagai teks memberi pengertian yang tidak hitam-putih  mengenai “stereotip” priayi Jawa, yang selama ini diwacanakan tetapi dikontekskan problematikanya secara dialektis pada bagaimana sikap hidup sebagai “wisdom” itu menghadapi persoalan-persoalan pokok kehidupan zaman ini seperti  kawin antaragama, antar-ras atau bangsa.

Namun, sebagai konteks itulah novel Umar Kayam, ketika berusaha menggeluti konflik-konflik nilai benturan-benturan pendapat umum dalam nilai yang sehat secara budaya dibandingkan dengan novel-novel sebelumnya, yaitu Bawuk, Sri Sumarah, Para Priyayi 1, memunculkan pertanyaan-pertanyaan narasi yang mengganjal kelancaran teks dan konteksnya.

Pertanyaan kritis pertama adalah bagaimana kelanjutan persoalan Harimurti yang tidak bersih lingkungan dan menyandang beban trauma sejarah dendam bangsa ini sebagai eks-PKI. Cukupkah itu dijawab dengan kisah bahwa ia harus mengundurkan diri dari pekerjaannya kendati bosnya adalah seorang mantan brigjen yang ternyata tetap pengecut bila udara Indonesia umumnya menuduh dia melindungi orang yang tidak bersih lingkungan? Pada Sri Sumarah dan Bawuk, teks narasi secara menarik dan mengasyikkan mampu menjawab dengan ujaran problem moral, dan dengan keberanian kemerdekaan memilih si istri untuk tetap mendampingi suami yang eks-PKI dengan pengorbanan harus berpisah dengan anak-anak yang dititipkan ke para orang tua dan mertua. Pada novel Jalan Menikung, eksplorasi ini menghilang dan lalu pindah ke tokoh-tokoh lain.

Pertanyaan kedua, Bab XI, yaitu “Sowan-Sowan”, serta Bab XII, yaitu  ”Peresmian Pemugaran Makam”, di satu  pihak emang muncul sebagai teks  nilai priayi Jawa generasi baru yang merajutkan tali persaudaraan dengan “silaturahmi” serta memberi wujud hormat kepada leluhur dengan pemugaran makam.

Namun, di lain pihak, untuk seorang novelis (dan penulis cerpen Kunang-Kunang di Manhattan sekaliber Pak Kayam), nada sastrawi narasinya yang kita harapkan memunculkan nuansa tragis, apalagi “tragedis” (dalam konflik Yahudi bertemu Islam dan Amerika bertemu Jawa serta bagaimana dendam sejarah yang diterus-teruskan dalam wujud cap PKI yang sungguh mematikan sesama secara konteks budaya sosial, dan terutama politik itu), ternyata berlangsung datar-datar saja dengan seluruh bingkai “mangan ora mangan angger kumpul” (nilai makan bersama sebagai tali pengikat keluarga besar)! Ataukah memang ruang luas Jawa mau dilukiskan ilustratif dan mampu mencerap gado-gado apa saja, lengkap dengan persoalan indo, mestizo, yang dilukiskan Pak Kayam sebagai sesuatu yang membuat terheran-heran orang asing (orang lain) yang sulit mencerna keindoan kita sebagai jawaban sinis, menyindir, tetapi faktanya memang demikian dan apa boleh buat? Beberapa hari kemudian, Eko dan Claire berkunjung ke rumah Marie dan Maridjan di daerah Simpruk. Juga di rumah itu, Eko dan Claire dibuat terheran-heran melihat arsitektur dengan gaya hacienda, seakan mereka itu sudah menjadi tuan tanah Meksiko saja.

Ditata rumah itu pula menurut gaya “House and Garden” …, dari mana Bude Marie dan Pakde Maridjan mendapat ide membuat rumah dengan semangat Mexico?” (halaman 128-129)

Lepas dari pertanyaan-pertanyaan di atas, novel Jalan Menikung ini tetap enak dibaca untuk menangkap “wisdom Jawa”, tentu saja dengan catatan kritis di atas.

Jual Buku Ayat-ayat Api

Judul: Ayat-ayat Api (kumpulan sajak)
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti
Tebal: 149 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Harga: Rp. 40.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Kumpulan sajak ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama berisi sejumlah sajak — yang sudah diubah di sana-sini, yang pernah dimuat dalam Sihir Hujan, Kuala Lumpur, 1984. Bagian kedua adalah sejumlah sajak yang pernah terbit terbatas dalam rangka pembacaan puisi di Pusat Kebudayaan Jepang, 1998. Bagian ketiga adalah sejumlah sajak yang ditulis tahun 1998-1999, belum pernah terbit sebagai buku.

Jual Buku Umar Kayam Ziarah Lebaran

Judul: Ziarah Lebaran
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti
Kondisi: Stok lama (bagus)
Tebal: 82 halaman
Harga: Rp. 45.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Umar Kayam tentu saja seorang realis. Namun, realisme Umar Kayam bukan realisme borjuis, Bukan pula realisme sosialis. Realisme Umar Kayam adalah realisme kultural. (Jika) Realisme borjuis cenderung mendekati kehidupan secara psikologis, realisme sosialis secara sosiologis-politis, sedangkan realisme Umar Kayam mendekati hal tersebut secara antropologis. Setidaknya di Indonesia, realisme kultural dalam pengertian di atas benar-benar merupakan sumbangan Umar Kayam yang signifikan dalam sejarah sastra Indonesia, sebagaimana terlihat dalam cerpen-cerpen yang ada di kumpulan ini.

Cerpen di dalamnya begitu sederhana. Seputar lebaran dan pulang kampung tentunya. Keduanya begitu berkitan erat. Saat lebaran secara tak langsung kita merasa berkewajiban untuk pulang kampung. Dari sekedar mengunjungi saudara di kampung atau menziarahi makam orang tersayang. Tapi ternyata pulang kampung itu tak sesederhana yang bisa dibayangkan. Ada banyak pernak-pernik yang menlingkupinya. Kejadiannya sering kita lihat tiap tahun. Namun, karena 'seringnya' itu kita luput melihatnya lebih detil.

Sayang, tiga cerpen terakhirnya tidak bernuansa ziarah lebaran. Lebih kepada cerpen tentang korupsi, kolusi dan nepotisme. 'Budaya' yang berkembang saat cerpen-cerpen ini dibuat, bahkan hingga resensi sederhana ini dituliskan.

Jual Buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Judul: Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti
Tebal: 260 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 70.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Inilah New York, dan Umar Kyam bercerita dari dalamnya. New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Raksasa ini entah karena kena penyakit apa, tidak pernah merasa kenyang biar dia sudah makan berapa ribu manusia. Karena itu mulutnya terus saja menganga tidak sempat menutup. Segala manusia, putih hitam, kuning, coklat, besar, kecil, ditelannya tanpa pilih-pilih lagi”. Umar Kayam mengutip perubahan itu dalam cerita Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa, cerita kedua dan yang terpanjang dalam kumpulan ini. Secara tipikal, dia tidak menyatakan adakah dia setuju atau tidak dengan karikatur tentang New York tersebut. Namun 6 buah cerita pendek yang ditulisnya selama ia hidup di kota itu semuanya dengan latar Manhatan (sebuah “belantara”, katanya) menampilkan kota jutaan itu sebagai dunia yang menarik, tapi murung. “Aku melihat ke luar jendela. Ribuan pencakar langit kelihatan seperti gunduk-gunduk bukit yang hitam, kaku dan garang.”

Begitulah, New York sebuah paradoks. Jutaan manusia hidup di dalamnya, tapi ia nampaknya lengang. Di apartemennya sang isteri Indonesia kesepian, juga seorang wanita ganjil yang memasang namanya sebagai Madame Schlitz: seorang wanita entah dari mana, tinggal hanya bersama seekor anjing yang dilatihnya menyanyi, sembari ia sendiri belajar yoga dan kepada tamunya menceritakan biografinya yang mungkin tidak betul — untuk kemudian menghilang tanpa bekas.

Atau Jane dan Marno. Si wanita berpisah dari suaminya dan si pria berpisah dari isteri dan tanah airnya. Mereka berpacaran. Kemudian rutin dan bosan. Si wanita mengulang-ulang cerita yang lapuk untuk mengisi kehampaan bicara, tapi si pria terkenang akan hal lain: isterinya, bunyi cengkerik dan “ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa”. Keduanya berpisah. Dan lihatlah si Sybil : gadis 15 tahun yang tersia-sia (ibunya yang miskin lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur bersama majikannya), tiba-tiba saja menemukan semacam penglepasan diri dalam suatu tindakan tanpa rencana, ia membunuh si Susan, 6 tahun, yang seharusnya dijaganya.

Lebih merasa tersiksa lagi kakek Charlie Si kakek menjalani hari-hari tuanya di Central Park, main karousel setiap hari seperti anak-anak membayangkan dan sebagai tokoh legendaris ketua suku Indian Chief Sitting Bull, untuk kemudian menemui “pacarnya”, nenek Martha, dengan siapa ia menaburkan makanan untuk burung-burung seraya mengeluarkan perlakuan buruk anak dan menantu mereka masing-masing Chief Sittilg Bull bisa merupakan ilustrasi yang baik buat studi Simone de Bouvoire tentang nasib orang-orang lanjut usia di masyarakat industri oknum yang tak lagi berguna, seperti sepah, yang mencari harga dirinya dalam hal-hal yang kacau oleh ketinggalan zaman.

Donat Cerita Chief Sitting Bull ini menunjukkan kemampuan Kayam yang khas dengan secercah sketsa saja, ia sekaligus menampilkan beberapa tokoh lengkap dengan konteks sosial dan liku-liku psikhologisnya — seolah-olah tak sengaja. Kayam nampak mempunyai wawasan tentang soal-soal ini, tapi lebih dari itu ia memang mempunyai antena yang bisa menangkap vibrasi yang halus. Tapi serentak dengan itu, dikendalikannya kepekaannya untuk menghindari kesentimentilan. Ciri Kayam di sini juga adalah humor: rasa humornya adalah semacam daya tolak dan daya tarik. Dalam saat-saatnya yang baik Kayam bercerita seperti bergurau, tertawa atau senyum — tapi kita segera tahu bahwa yang kita hadapi ialah hidup yang duka dan ungu. Kayam berkelakar sembari mementaskan tragedi.

Ketika si “aku” dalam There Goes Tatum dirampok orang Negro yang mengancamnya dengan pisau, ia masih sempat melucu: “Di tengah gerimis hujan itu aku dengar ‘klik’ dan bung Negro mencoba-coba ketajaman pisaunya pada janggutnya. Aku sangka cuma Richard Widmark atau Jack Palance yang bisa begitu. Tahu-tahu ada bakat terpendam ketemu di tengah hujan gerimis di Riverside Park”. Meskipun begitu, cerita tersebut bukanlah termasuk yang istimewa.

Dari kumpulan ini yang terbaik di samping Madame Schlitz dan Chief Sitting Bull – adalah Secangkir Kopi, Sepotong Donat, yang belum pernah diterbitkan sebelumnya. Dalam cerita sepanjang halaman ini tiba-tiba jelaslah di mana kepedihan New York tertumpuk: dalam kehidupan rutin di sebuah coffee house, pada jam 10 pagi. Pada hari itu Peggy seperti biasa melayani para pembeli kopi dan donat, bagaikan mesin – dan mendadak kita tahu bahwa tadi malam bapaknya mabuk lagi dan memukuli ibunya. Peggy gagal memenuhi janji pada pacarnya, seorang pemuda yang dalam kesibukan kedai itu duduk diam-diam sambil menuliskan surat-surat di atas serbet kertas, menuntut jawab. Pada hari itu juga hadir Jim, langganan tetap yang tiba-tiba mengumumkan pembebasannya dari standarisasi hidup dan kelaziman di seluruh Amerika: ia tak lagi memesan kopi dan kue donat. Tapi seperti kuwalat yada hidup Amerikanya sendiri selama ini, tiba-tiba terhenyak, sakit. Dan rutin pun kembali, begitu Jim pergi.

Dan setelah Umar Kayam menceritakan moment-moment itu dengan ringan, komik dan seolah-olah tanpa haru, cerita kemudian meninggalkan kita dalam rasa aneh dan sayu. Di sini pun Kayam mencoretkan begitu saja asosiasi-asosiasi yang cepat, dengan perbendaharaan nama dan istilah yang mungkin tak segera ditangkap oleh mereka yang tak terlalu kenal dengan dunia di mana cerita berlangsung. Tapi senantiasa yang tampil ialah seorang penulis yang pandai menyusun cerita secara hemat tapi efektif, seperti garis-garis yang tak sepenuhnya selesai tapi justru bisa menahan kita untuk membacanya, biar kita dalam gerbong kereta yang sesak dan panas sekalipun.

Tidak seperti banyak sastrawan Indoneia yang lain, Umar Kayam (kini 42 tahun) menampilkan diri sebagai pengarang dalam usia yang relatif lambat, setelah ia menjadi sarjana penuh dan sementara ia masih jadi pejabat tinggi Pemerintah. Tapi meskipun cerita Seribu kunang-kunang di Manhattan itu sendiri kini terasa hambar semenjak 4 tahun yang lalu terbit dan mendapt hadiah Horison keseluruhan kumpulan ini memang mendukung reputasi Kayam yang kini umum diakui. Sementara itu cerita-cerita pendeknya yang ditulisnya di dalam negeri yang dilakukan Kayam bukan dalam bahasa dan struktur prosa Indonesia (seperti yang sering disangka), melainkan terutama dalam sikapnya sebagai pencerita: bahwa kesusasteraan bisa meninggalkan pretensi “kebesaran” sementara ia sekaligus bisa serius — tanpa bertampang gawat, angker, susah-payah, mentereng atau pun “sok-absurd”.

Goenawan Mohamad, 19 Mei 1973

Jual Buku Satrio Piningit ing Kampung Pingit

Judul: Satrio Piningit ing Kampung Pingit (Mangan Ora Mangan Kumpul-4)
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti
Tebal: 269 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Harga: Rp. 80.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Sebagai guru besar pada Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Umar Kayam memang sudah meletakkan baju toganya empat tahun lalu. Tapi, tangannya tak pernah mau berhenti menuangkan idenya ke dalam tulisan, baik berupa novel, cerita pendek, maupun esai. Di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, misalnya, setiap Selasa ia mengisi rubrik Kolom Umar Kayam.

Ada 75 judul tulisan dimuat dalam rentang 1997-1999 di harian itu, lalu dikumpulkan dalam buku ini, yang merupakan seri keempat dari buku Mangan Ora Mangan Kumpul. Semuanya dikemas dalam gaya guyonan, atau "gleyengan" dalam istilah sastrawan Sapardi Djoko Damono, sebuah bentuk penyampaian sindiran, protes, nasihat, dan usul, sambil becanda.

Aneka tema, mulai persoalan rumah tangga sampai masalah yang sedang hangat di masyarakat, tak pernah luput dari mata penanya. Misalnya, kreativitas wong cilik mengais pendapatan sampingan di masa krisis moneter, kesulitan membedakan gambar partai politik yang bermiripan, kekhawatiran membubungnya harga kertas, dan gejolak era reformasi.

Tema itu lalu "dimainkan" oleh "dramatic personae" yang juga unik: Pak Ageng, Prof. Dr. Lembahamba, Mas Prasodjo, Beny Prakoso, Tolo- Tolo, Mr. Rigen, dan Ms. Nansiyem. Simak saja tulisan berjudul Satrio Piningit, yang ditulisnya pada musim kampanye pemilu. Saat itu beredar kabar akan munculnya seorang satrio piningit.

Umar Kayam menanggapinya dengan enteng. Satrio Piningit, yang konon sosoknya masih "disembunyikan" itu, jangan-jangan berada di Kampung Pingit, Kecamatan Tegalrejo, tepatnya di sebelah barat Tugu Kota Yogyakarta. Diulas juga tokoh-tokoh yang setia di bidangnya, antara lain: ulang tahun ke-80 pelukis senior Widayat, meninggalnya Profesor Masri Singarimbun, yang dikenal dengan kampanye kondomnya.

Oleh: Joko Syahban

Jual Buku Novel Para Priyayi

Judul: Para Priyayi (sebuah novel)
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti
Tebal: 343 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 75.000 (blm ongkir)
Order: SMS 085225918312


Novel ini bercerita tentang Soedarsono seorang anak dari keluarga buruh tani yang oleh orang tua dan sanak saudaranya diharapkan dapat menjadi “sang pemula” untuk membangun dinasti keluarga priyayi kecil. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten ia bisa sekolah dan kemudian menjadi guru desa.

Dari sinilah ia memasuki dunia elite birokrasi sebagai priyayi pangreh praja. Ketiga anaknya melawati zaman Belanda dan zaman Jepang tumbuh sebagai guru opsir peta dan istri asisten wedana. Cita-cita keluarganya berhasil. Benarkah? Lalu apakah sesungguhnya “priyayi” itu? Status kelas? Pandangan dunia kelas menengah elite birokrasi? Sekadar gaya hidup? Atau kesemuanya?

Cara bertutur dalam novel ini terbilang unik, Umar kayam membagi bab-bab dalam novelnya sesuai dengan nama tokoh-tokohnya dan bercerita sebagai orang pertama di tiap bab nya. Tiap bab menceritakan tokoh utama dengan ringan, diplomatis, sopan, berkesan basa-basi, tapi barmakna sangat dalam. Antara bab satu dengan yang lain tetap menjadi bagian yang utuh dan menjadi satu kesatuan cerita walau tetap bisa di baca terpisah.

Cerita para priyayi dimulai dari sebuah tempat bernama Wanagalih, kota fiksi yang merupakan tempat pertemuan Bengawan Solo dan Kali Mediun. Agak aneh juga sih kenapa pak Umar Kayam memakai kota fiksi sebagai pusat ceritanya sedang semua setting tempat dan waktu lain bukan rekaan. Setting waktu berjalan di 3 jaman, mulai dari jaman pendudukan Belanda, Jepang dan Indonesia merdeka pada akhir 60an. Jaman-jaman yang penuh konflik dan sangat berbeda satu dengan lain nya, hingga menimbulkan perbenturan budaya antara tradisi kesultanan Jawa kuno dan pengaruh budaya serta pendidikan barat yang membuat meluasnya definisi priyayi dari sekedar keturunan langsung atau tidak langsung (saudara jauh) dari keluarga kesultanan hingga meluas munculnya priyayi-priyayi baru dari kalangan guru, dokter, dan pegawai-pegawai kesultanan/keresidenan/gupermen.

Lalu di mulailah perjalanan Soedarsono yang semula adalah putra dari seorang petani biasa Mas Atmokasan membangun keluarga Priyayi. Dengan bantuan majikan orang tua nya Ndoro Seten, Soedarsono berhasil memperoleh beslit ( atau SK di jaman sekarang ) guru bantu di sebuah sekolah desa di ploso. Sedikit demi sedikit, Soedarsono belajar menjadi seorang priyayi Jawa,  seorang Priyagung, Priyayi agung. Yang kemudian membuat dirinya mengganti nama nya menjadi Sastro Darsono karena di rasa nama Sudarsono tak mampu lagi menaungi kepriyayian keluarga besar nya.

Keluarga Sastro Darsono perlahan berhasil membangun dinasti priyayi mereka sendiri. Kelahiran 3 anak mereka Noegroho, Hardoyo dan Sumini menambah lengkap keluarga priyayi mereka. Semua anak mereka pun sukses megikuti jejak Sastro Darsono menjadi seorang priyayi. Noegroho yang menjadi Guru HIS kemudian banting setir ikut PETA pada jaman pendudukan Jepang, dan kemudian pindah menjadi perwira TNI pada jaman kemerdekaan. Hardoyo, menjadi seorang abdi Mangkunegaran dan menantunya Harjono (suami Soemini) seorang Asisten Wedana.

Seperti hal nya para priyayi lain nya, Sastro Darsono pun perduli pada keluarga besar nya. Seperti dikisahkan pada suatu waktu mereka mengambil dan merawat keponakan-keponakan mereka yang tidak mampu untuk di sekolahkan dan 'ngenger' di rumah mereka. Misalnya Soenandar, seorang keponakan jauh mereka yang di rawat dan di beri pendidikan yang sama dengan anak-anak Sastro sendiri meski pada akhirnya tidak berguna karena Soenandar lebih memilih jalan bergabung dengan gerombolan rampok. Tapi siapa sangka, dari Soenandar lah lahir seorang anak haram yang kemudian menjadi penyelamat keluarga besar Sastro Darsono. Wage atau kemudian lebih di kenal dengan Lantip, cucu Sastro Darsono atau anak Soenandar yang lahir di luar nikah ternyata berhasil menjungkir balikkan kisah hidup dinasti priyayi Sastro Darsono. Lantip inilah yang pada akhirnya berhasil mewarisi jiwa priyayi Eyang kakung Sastro Darsono.

Lantip yang sejak kecil ikut eyang kakung Sastro Darsono di karenakan matinya Soenandar dalam sebuah peristiwa perampokan berubah menjadi dewa penyelamat bagi keluarga besar Eyang kakung Sastro Darsono.Cucu eyang Sastro Darsono lain nya kemudian hidup sebagai anak jaman mereka. Menjadi anak kelas menengah birokrat yang manja seperti Marie yang kemudian di ketahui hamil di luar nikah,  Harimurti putra Hardoyo yang terlibat di Lekra dan Gestapu. Sedang Lantip sendiri, dia lah yang kemudian menunjukkan makna "priyayi" dan "kepriyayian" itu.

Pada akhir novel ini di ceritakan Eyang kakung Sastro Darsono akhirnya meninggal dunia, dan setelah melalu serangkaian dialong tentang siapa yang akan memberikan pidato perpisahan akhirnya di tunjuklah Lantip yang akan memberikan pidato perpisahan.

"Calon yang lebih pantas dan paling besar jasanya buat keluarga besar kita. Dialah orang yang paling ikhlas,tulus, dan tanpa pamrih berbakti kepada kita semua.Dialah priyayi yang sesungguhnya lebih daripada kita semua. Dia adalah kakang Lantip." Jelas Harimurti meyakinkan yang lain saat menunjuk Lantip sebagai pembaca pidato selamat jalan di pemakaman Eyang kakung Sastro Darsono.

Dialog lain yang mengajak kita sedikit merenung adalah dialog Lantip dengan pakde nya sesaat setelah selesai pemakaman.

“Kalau menurut kamu, apa arti kata priyayi itu, Tip?”
“Sesungguhnya saya tidak pernah tahu, Pakde. Kata itu tidak terlalu penting bagi saya.”

Lewat novel ini Umar Kayam seakan ingin menyampakan bahwa "priyayi" hanyalah sebuah retorika belaka. Inti dari priyayi sesungguhnya adalah sikap hidup. Sikap hidup terpuji yang bisa di lakukan oleh siapa saja. Merekalah Priyayi sesungguhnya.

Jual Buku Putu Wijaya Goro-Goro

Judul: Goro-Goro 
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti, 2002
Tebal: 496 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Stok Kosong


Berasal dari rubrik tetap dalam tabloid Tokoh, suplemen harian Bali Post, yang sekarang berkembang menjadi koran perempuan, kumpulan sketsa ini menampilkan tokoh Amat beserta keluarganya untuk mengajak para pembaca berbincang-bincang mengenai masalah-masalah aktual seputar kehidupan sehari-hari. Dengan gayanya yang berseloroh dan nakal itu, penulis menggoda untuk memikirkan kembali soal-soal remeh di balik tema-tema besar di bidang sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan pada umumnya, yang karena berbagai kesibukan sering tercecer dari perhatian.

Jual Buku Putu Wijaya Zig Zag

Judul: Zig Zag (kumpulan cerpen)
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1996
Tebal: 456 halaman
Kondisi: Buku stok lama (cukup)
Harga: Rp. 80.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Seberapa kali kita meminta jalan lurus kepada Tuhan dalam rentang  muncul –tenggelamnya mentari? Dan seberapa sering Tuhan memberikannya? Jika Tuhan benar-benar memberikan kelurusan jalan apakah kita sendiri sudah siap menjalani “kelurusan” itu sendiri? Atau jangan-jangan kita memang tidak peduli dengan permintaan kecuali sebatas kata yang tak bertuah, hanya mengikuti kerutinan supaya dianggap alim? Atau bisa pula, sebenarnya, memang kita sedang menikmati jalan ketidaklurusan itu!

Saya sendiri juga merasakan hal yang sama: meminta tetapi seakan-akan terus menjauh dari yang diminta. Hingga menyeret pikiran: apakah saya telah menjalani rutinitas yang tak pernah saya pahami? Menjebak diri pada hal yang sebenarnya “mabuk” di dalamnya. Berkali saya ucapkan dalam laku, berkali pula kemunafikan muncul. Jika ada yang bilang: “Engkau masih mempertimbangkan untung-rugi, menjaga nama baik, tidak menuruti kata hati!” ya, benar adanya, seyogyanya harus saya akui jika selama ini kehati-hatian menjaga nama baik selayaknya menjaga “emas” dari tilapan pencuri. Jangan sampai nama baik tercemar sehingga diri hambar di mata khalayak. Bukankah nama baik itu sangat penting di tengah kancah kehidupan masyarakat yang masih menilik “siapa dia”?

Atau, saya sendiri sebetulnya salah mengartikan do’a itu? Yang selalu saya pahami sebagai permintaan “jalan lurus”?  “ihdina ash-shisirothol al-mustaqim” itu tak lain jalan “wong kang manggeh kabegjan”, jalan orang yang meraih kebahagian. Begitu salah satu syair Jawa yang di bawakan Kyai Kanjeng. Jadi, bukan jalan lurus, jalan yang tanpa tikungan dan turun naik, tetapi jalan kebahagiaan. Dan kebahagiaan jarang sekali bisa ditempuh dengan mudah, lancar tanpa ada halangan. Kebahagian itu penuh liku.

Nabi yang oleh Tuhan dijanjikan kehidupan bahagia di akhirat harus menjalani kehidupannya dengan berbagai cemoohan, sangka buruk, intimidasi agar mendapatkan kebahagian. Sri Rama demi mendapat Dewi Sinta harus “toh nyowo” menghadapi Dasamuka. Begitu pula dengan Pandawa, demi mendapatkan tahta yang sah, mereka harus rela hidup dalam pembuangan lebih dari dasa tahun dan kemudian disusul dengan pecah perang saudara (kurawa). Mengapa itu semua dilakukan? Jawabnya, ya, karena dalam diri Dewi Sinta, di atas “dampar kencono” ada kebahagian. Meski kebahagiaan bukanlah Dewi Sinta atau dampar kencono itu sendiri

Marilah kita renungkan: adakah manusia yang menjalani kehidupan manusia ini dengan lurus? Para nabi, itu jawaban yang sering muncul. Tetapi benarkah para nabi itu tak pernah salah? Tentunya pernah, sebagai manusia para nabi juga mengalami salah meski tingkat dan kualitas salahnya berbeda dengan manusia biasa. Nabi Musa pernah meminta Tuhan menunjukkan diri supaya ia (Musa) bisa melihat dan memantapi keyakinannya. Meski ketika Tuhan hendak mengejawantah Musa sendiri tak kuat menerima gejala Tuhan. Nabi Sulaiman, yang terkenal kaya dan cerdas merasa ingin menggantikan Tuhan dengan menjamin kebutuhan makan makhluk tetapi gagal hanya gara-gara makanannya tidak mencukupi untuk golongan ikan. Nabi Muhammad juga mengalami hal yang sama, merasa malu ketika Beliau dakwah di antara kaum bangsawan Quraisy tiba-tiba nyelonong lelaki buta dan menanyakan beberapa hal.

Benar-salah, sadar-tak sadar yang dijalani manusia dalam hidupnya sepertinya garam-gula, cabe-penyedap rasa dalam komposisi sambal. Jika salah satu kelebihan takaran maka rasa enak sebagai sambal lenyap. Itu semua hanya sebagai pemertegas keeksistensian manusia. Maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengatur kadar porsi bahan-bahan tersebut.

Manusia memang tak bisa diterka. Manusia itu “tan kinoyo opo”. Meski seperangkat ilmu bermunculan yang mencoba menganalisa perilaku dan menetapkan sifat-sifatnya, tetapi rasanya juga tidak seratus persen benar. Semakin diterka, manusia akan bermanuver dengan sikap lain. Manusia bukan baranga mekanis yang bisa ditentukan dengan Teori Newton. Meminjam istilah Heisenberg, manusia hidup merunut “Azaz Ketidakpastian”. Sulit ditentukan “abang-ijo”nya.

Membaca “Zig Zag” kumpulan cerpennya Putu Wijaya kita akan disadarkan kembali jika: kita masih manusia yang memiliki berbagai kemungkinan. Inilah jalan zig zag manusia. Jalan yang tak bisa diterka dan dengan mudah kita simpulkan hanya dengan berdiri di salah satu ujungnya kecuali kita sendiri mencebur ke dalamnya. Putu wijaya, oleh Kang Sobari (Mohammad Sobari) sebagai “Khorikul”: kyai yang melihat dimensi kehidupan dengan cara tidak lumrah, berhasil melakonkan cerita-ceritanya dengan menjungkir balikkan logika umum. Penuh zig-zag.

Putu wijaya adalah dalang yang bisa saja melakonkan kebaikan Pandawa di awal cerita tetapi di akhir cerita bisa berkebalikan. Ia mampu merubah hijau menjadi merah. Sebab Pandawa, jika crita itu masih mengacu kehidupan manusia, tentunya tak bisa luput dari sifat-sifat baik-buruk. Pandawa boleh saja menelikung dalam lakon baiknya yang selama ini diterima dalam pagelaran wayang.

Namun, siapkah kita menerima tokoh yang telah beberapa abad ditelanjangi baju kebaikannya dan digantikan dengan baju keburukan? Rasanya kok tidak. Tak hanya dalam cerita wayang ketidaksiapan itu kita tunjukkan tetapi dalam ranah kehidupan lain. Jika ada tokoh, lembaga atau hal lain yang kita elu-elukan tiba “kepleset” ramai-ramai kita tidak mempercayai jika memang ia “kepleset”. Kita bela mati-matian, seakan noktah hitam tak layak bersentuhan. Banyak yang terjebak pada awal, sehingga buta pada akhir. Silau dengan penampilan, tatkala yang berpenampilan diam-diam berbuat keburukan tetap saja dibela tanpa nalar yang lumrah. Ngono yo ngono tapi ojo ngono.

Khoirul Anwar, Esais dan penggiat Sastra Pedalaman, tinggal di Yogyakarta

Jual Buku Ritumpanna Welenrennge: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik Galigo

Judul: Ritumpanna Welenrennge: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik Galigo
Penyusun: Fachruddin Ambo Enre
Penerbit: YOI, 1999
Tebal: 697 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Terjual Wajo


Terdiri dari lima buah bab, buku yang ditulis berdasarkan disertasi Fachruddin Ambo Enre ini berusaha menelaah salah satu episode dalam La Galigo yang berjudul Ritumpanna Welenrennge. Episode ini merupakan salah satu cuplikan cerita yang paling luas dikenal di kalangan masyarakat Bugis umum, masyarakat tempat asal-muasal epos La Galigo.

Episode Ritumpanna Welenrennge (RW) atau “pohon Welenrennge yang ditebang” menceritakan tentang keinginan kuat Sawerigading untuk membuktikan keberadan adik kembarnya -We Tenriabeng- setelah mendengar keberadaan mengenai sang adik dari Pallawagauq, sepupunya yang menjadi raja di Tompo Tikkaq. Setelah berhasil mengetahui kebenaran cerita tersebut dan bertemu langsung dengan We Tenriabeng, Sawerigading jatuh cinta (uh oh!). Namun, berhubung karena mereka bersaudara, pernikahan tidak bisa dilangsungkan. We Tenriabeng pun menyuruh sang kakak untuk berlayar ke negri Cina menemui seorang putri yang kecantikannya mirip dengan dirinya. Untuk berangkat menemui putri Cina bernama We Cudai tersebut, Sawerigading bersama pengawalnya menebang pohon Welenrennge sebagai bahan pembuatan perahu.

Pada bab pendahuluan dari buku ini, diterangkan mengenai karya terdahulu yang sempat membahas dan usaha pengumpulan naskah I La Galigo. Adalah Th. S. Raffles yang dianggap memperkenalkan kisah ini kepada dunia luar melalui bukunya The History of Java yang diterbitkan pada tahun 1817. Selang setengah abad kemudian, barulah B.F. Matthes yang memulai pengumpulan dan penyalinan naskah I La Galigo dengan bantuan Colliq Pujie. Matthes berhasil mengumpulkan 26 buku yang kemudian diserahkannya ke Nederlandsche Bijbelgenootschap (NBG).

Usaha pengumpulan naskah juga dilakukan oleh Schoemann yang berhasil mengoleksi 19 buku yang kesemuanya merupakan naskah salinan. Semua buku tersebut kemudian dibeli oleh Perpustakaan Negra Prusia di Berlin. Usaha pengumpulan naskah yang paling luas bisa dikatakan diperoleh Rijksuniversiteits Bibliotheek (RUB) di Leiden, Belanda pada tahun 1920 melalui bantuan Prof. Dr. J.C.G Jonker. Dia berhasil mengumpulkan 67 buku tulis dan sebuah naskah lontar. Tujuh buah diantaranya adalah naskah asli dan sisanya berupa salinan. Naskah-naskah tersebut dikumpulkan selama masa jabatannya sebagai taal ambtenaar di Makassar antara tahun 1886-1896. Penelaahan isi I La Galigo dari segi sistem pelapisan masyarakat yang berlaku di kalangan masyarakat Bugis pertama kali diusahakan oleh H.J. Friedericy. Barulah selang puluhan tahun kemudian, Mattulada (Sejarawan asli dari Sulawesi Selatan) juga menelaah isi La Galigo sebagai sumber informasi sejarah perkembangan ketatanegaraan di kalangan orang Bugis.

Telaah naskah merupakan inti dari bab II buku ini. Penulis menggunakan tujuh naskah salinan episode RW berbeda. Sebuah naskah yang didapatnya dari Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara (YKSST) di Ujung Pandang, lima dari perpustakaan universitas (RUB) di Leiden, dan satu lagi langsung dari anggota masyarakat Sulawesi Selatan sebagai pelengkap. Penulis juga menceritakan kesulitannya dalam menelaah naskah-naskah tersebut, antara lain: perbedaan dan persamaan pada episode yang sama, penanda batas awal dan batas akhir masing-masing adegan dalam episode tersebut, serta pencarian naskah lain yang menjelaskan sebab dan akibat dari adegan-adegan yang terjadi dalam episode RW. Penulisan lontarak dan penggunaan kata-kata dalam ketujuh naskah yang sudah berumur ratusan tahun ini juga ikut ditelaah sebab dapat memberikan informasi mengenai kapan dan dimana kira-kira naskah tersebut dibuat ataupun disalin. Wuih, ribet ya!

Jika telaah naskah menjadi inti dalam bab II, telaah struktur kini menjadi perhatian utama dalam bab III. Mengapa RW dikategorikan sebagai sureq dan bukannya lontaraq? Dari sifatnya, sureq itu mengindikasikan sastra, sedangkan lontaraq mengindikasikan pustaka. Sureq dibaca sambil berlagu, sedangkan lontaraq tidak. Dari segi indikasi dalamnya, sureq berisikan cerita, sedangkan lontaraq menurut Cense adalah naskah tulis tangan yang biasanya berisi silsilah, catatan harian, atau kumpulan berbagai catatan, terutama yang menyangkut sejarah. Unsur yang memegang peranan penting dalam I La Galigo adalah ceritanya sebab jenisnya adalah puisi cerita yang memiliki rangkaian peristiwa kronologis yang memiliki akhir. Episode RW, misalnya, hanya merupakan sepotong episode, namun memiliki awal dan akhir sendiri. Setiap episode dalam I La Galigo sepertinya mengangkat tema yang berbeda-beda, meskipun ada juga yang memiliki tema yang sama. Mengenai latar, epidose RW kebanyakan berlatar tempat atau negeri. Tempat berpusat di istana Luwuq dan Wareq, Mangkuttu sebagai tempat pohon Welenrenng tumbuh, dan pelabuhan Luwuq sebagai pintu gerbang kerajaan tersebut. Negeri menjadi latar dari para pengawal yang diminta untuk menemani Sawerigading ke Cina, dan negeri yang rajanya diundang untuk menghadiri acara di Wareq. Mengenai bahasa dan periodus, I La Galigo banyak menggunakan kata yang tidak dipakai lagi dalam bahasa Bugis sekarang, seperti daramose = bantal seroja dan sinrangeng = usungan.

Selesai membahas telaah struktur, buku ini berlanjut ke bab IV yang merupakan bab kesimpulan. Di sini, penulis menyimpulkan uraian dan penjelasan yang telah dibahas dari bab I hingga bab III. Fachruddin Ambo Enre cukup bagus dalam menyusun bab ini sebab kesimpulannya dijabarkan melalui poin-poin yang memang menjadi intisari dari tiap babnya sehingga dapat dengan mudah dimengerti. Buku ini ditutup dengan bab V yang merupakan edisi naskah dan terjemahan dari episode RW.

Tertarik untuk membaca buku ini? Bukan merupakan topik sehari-hari yang menarik bagi kalangan anak muda memang, tapi dengan membacanya kita dapat semakin bangga akan kekayaan tradisi tulisan leluhur bangsa yang diwariskan kepada kita hingga hari ini.

Jual Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu

Judul: Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu
Penulis: P. Swantoro
Penerbit: Tembi dan KPG, 2002
Tebal: 461 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Terjual


Tidak kurang dari 200 buku diceritakan di sini dengan cara yang demikian rupa sehingga tampil seolah-olah pribadi yang hidup: bagaimana buku lahir, berkembang, bergerak, dan menggerakkan sang pencerita dalam kegiatannya sehari-hari. Di latar belakang masih tersembunyi sekitar tiga-ribuan buku lain milik pribadi sang pencerita yang memancarkan pengaruhnya.

Pada usianya 70 tahun, sang pencerita hendak memindahkan sebagian buku itu ke museum khusus di daerah tempat lahirnya, Yogyakarta dan sebagian lagi di rumahnya, dengan harapan akan dimanfaatkan oleh umum. Lewat karya ini, ia terlebih dulu ingin bercerita kepada cucu-cucunya, dan dengan itu kepada generasi mereka.

Polycarpus Swantoro bak seorang Don Quixote. Ia suka membaca buku dan seolah berdiam di masa silam. Sebagaimana Don Quixote tergila-gila oleh roman dan para ksatria (knight), Swantoro terpesona oleh buku sejarah dan para sarjana yang hidup seperti yogi. Dan kelihatannya ada yang terasa majenun (quixotic) dalam hidup wartawan senior Kompas ini. Itulah perkelanaannya ke pedalaman perpustakaan, seperti tanpa tujuan, dan melarutkan diri dalam berbagai bahan pembicaraan.

Buku karya P. Swantoro ini tak memiliki tema tunggal. Juga tak ada sistematik yang terjaga. Isinya beragam-ragam, dari politik hingga sastra, dari profil para sarjana pengkaji Indonesia hingga empu pembuat keris. Kenangan pribadi, minat akademis, dan gairah seorang kolektor barang antik bercampur di satu titik. Pemaparannya di-biarkan mengalir lancar sampai jauh, melewati berbagai kelokan, dan muaranya tidak begitu ketahuan.

Seperti tersirat dari judulnya, Dari Buku ke Buku: Sambung-Menyambung Menjadi Satu, buku ini memang bercerita seputar buku. Buku yang disinggung-singgungnya umumnya sudah tua dan langka serta isinya berkaitan dengan sejarah Indonesia. Misalnya The History of Java karangan Thomas Stanford Raffles (1811-1816), yang terbit pada 1817, atau Onrust op Java, De Jeugd van Pangeran Dipanegara: Een Historisch-Litteraire Studie karya S. van Praag, yang terbit pada 1947.

Jika Anda pencinta buku, karya P. Swantoro ini adalah contoh yang bagus perihal apa artinya menulis. Dalam buku ini, menulis dapat dilihat sebagai akibat dari membaca. Yang dituturkan di dalamnya adalah pengalaman sang penulis sewaktu membaca buku-buku yang dicari, dikumpulkan, dan dicintainya. Swantoro, kolektor buku yang berlatar belakang pendidikan di bidang sejarah itu, mengistilahkan pengalamannya sebagai "perkelanaan memori". Jadi, buku-buku penting yang dibicarakannya adalah yang melekat erat pada ingatannya.

Tapi buku ini bukan kolase resensi, melainkan lebih mendekati sebuah ensiklopedia, semacam kompas yang menunjukkan rujukan-rujukan utama yang kita perlukan manakala hendak meninjau sejarah Indonesia. Dan memang terasa sekali adanya tendensi untuk mempertautkan buku-buku yang dibahas dalam buku ini dengan sejarah negeri yang hebat ini. Malah judulnya itu tadi agaknya bisa mengundang asosiasi kepada pulau-pulau yang sambung-menyambung menjadi Indonesia. Katakanlah karya ini adalah semacam upaya melihat sejarah Indonesia dari sebuah ruang baca.

Menghadapi buku kayak begini, kita bisa bertanya: buku-buku penting apa yang tidak dibaca, atau tidak disinggung-disinggung, oleh Swantoro? Dengan kata lain, segi-segi penting apa saja dari sejarah Indonesia yang tidak disoroti atau cenderung tersembunyikan dalam buku ini? Pertanyaan seperti itu, rasanya, penting juga. Sebab, kita tahu, setiap teks cenderung menyembunyikan atau menyisihkan teks lainnya.

Ambil contoh perihal "Peristiwa 30 September 1965" yang menurut Swantoro merupakan "periode yang sangat penting dalam sejarah Indonesia." Anehnya, buku yang dikutip sehubungan dengan peristiwa itu cuma Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (1965-1966) karangan Hermawan Sulistyo. Dan, anehnya pula, peristiwa itu sendiri cuma dikomentari sambil lalu dalam ruang yang kurang dari dua halaman belaka.

Betapapun, buku ini terasa penting juga artinya. Bahkan, untuk jenisnya, buku ini mungkin yang pertama di Indonesia. Ditulis dengan kesadaran akan pentingnya sumber dan akurasi pengutipan ala wartawan kawakan, buku ini seperti menegaskan betapa pentingnya membaca dan menulis dalam hidup kita.

Juga terasa adanya kehendak untuk menyapa kaum muda dalam buku yang diluncurkan sehubungan dengan ulang tahun Swantoro yang ke-70 ini. Dalam buku ini, Swantoro mendudukkan diri sebagai seorang "kakek". Dan kalau Anda mau dianggap cucunya, Anda pasti merasakan semacam ajakan untuk berjalan-jalan sambil menghikmati sebuah pelajaran perihal asketisisme intelektual.

Namun, pada akhirnya, kita mungkin mesti meniru karakter "the curate" dalam bab keenam buku pertama roman klasik Don Quixote karya Miguel de Cervantes Saavedra yang termasyhur itu. Dengan apa yang oleh Cervantes disebut "pemeriksaan yang menyenangkan dan mengundang penasaran" (the pleasant and curious scrutiny) atas seabrek buku, kita mungkin bisa tahu buku-buku mana dari koleksi Swantoro yang betul-betul perlu kita baca dan tak perlu dilemparkan ke luar jendela.

Jual Buku Dogmatik Kritik (Jean Paul Sartre)

Judul: Dogmatik Kritik
Penulis: Jean Paul Sartre
Penerbit: Celepuk, 2004
Tebal: 134 halaman
Kondisi: Stok lama (cukup)
Terjual Gowa

Jual Buku Perang Paderi di Sumatera Barat (1803 - 1838)

Judul: Perang Paderi di Sumatera Barat (1803 - 1838)
Penulis: Muhamad Radjab
Penerbit: Kepustakaan Perguruan Kementerian P.P. dan K. 1954
Tebal: 432 halaman
Kondisi: Buku bekas (cukup)
Harga: Rp. 100.000 (belum ongkir)
Terjual Tangerang Selatan


Isi Buku:
1. Perbenturan agama dan adat
2. Api perang saudara mulai menjala
3. Tuanku suruaso minta tolong kepada inggeris
4. Kaum adat menjerahkan Minangkabau kepada belanda
5. Belanda menggempur Marapalam,tapi gagal
6. Paleri alahan pandjang mulai giat
7. Perdamaian lintau dengan padang
8. Naras dan marapalam djatuh
9. Pertempuran di katiagan dan lintau
10. Belanda menjerang ke bondjol dan rao
11. Lima puluh kota dan halaban
12. Rakjat berontak
13. Mengapa rakjat berontak
14. Belanda menjingkirkan kaki tangannja
15. Pemberontakan rakjat makin hebat
16. Pemberontakan rakjat di rao dan sekitarnja
17. Pertempuran di kamang dan lundar
18. Pembalasan dendam belanda di guguk sigandang
19. Pertempuran di sekitar lundar
20. Gagalnja pertjobaan ke bondjol
21. Van den bosch ketjewa
22. Paderi mengenjahkan belanda dari rao
23. Perkelahian di tepi sinamar dan masang
24. Perang di bondjol dan sekitarnya
25. Peperangan di sekitar rao
26. Pertempuran disekitar bondjol
27. Pertempuran di bondjol
28. Bondjol djatuh
29. Pemimpin dan penghianat
30. Dalu-dalu djatuh pula
31. Belanda memperluas djadjahannja ke kubung XIII
32. Pemberontakan di batipuh
33. Rakjat dimana-mana berontak
34. Pemberontakan rakjat di pauh
35. Pemberontakan rakjat di bukit sebelas
36. Sungai pagu dan serbuan belanda kesana
37. Perlawanan rakjat di III dan XII kota
lampiran 1: Kontrak penjerahan kerandjaan minangkabau kepada belanda
lampiran 2: Persetudjuan masang
lampiran 3: persetudjuan keramat - de stuers
bibliografi

Jual Buku Sejarah Sosial Ummat Islam

Judul: Sejarah Sosial Ummat Islam
Penulis: Ira M. Lapidus
Penerbit: Rajawali Press, 2000
Tebal: 664 halaman
Kondisi: Buku bekas (cukup)
Harga: Rp. 60.000 (belum ongkir)
Terjual Boyolali


Dari sejarah umat Islam di dunia, Islam telah menampilkan signifikansi besar pada peradaban bangsa-bangsa. Akan tetapi ketika bersentuhan dengan kekuasaan, Islam seringkali mengalami proses ideologisasi yang berorientasi kekuasaan serta bercorak formalistik. Menjadikan Islam sebagai wahana politik, terutama di Indonesia, kemudian mendapatkan tantangan dari Islam kultural yang telah memposisikan diri sebagai alternatif pesan Islam mengakhiri era transisi menuju demokrasi.

Kehadiran buku ini setidaknya diharapkan mampu menjadi obor terang. Dalam buku ini, Lapidus menggambarkan bagaimana Islam di Timur Tengah, Asia Tengah dan Selatan termasuk Indonesia, ditafsirkan dan diposisikan oleh pemeluknya, sehingga dapat berdialog dengan situasi kesejahteraan umat Islam dan menghargai keanekaragaman karakter bangsa-bangsa yang memeluk Islam. Buku ini layak menjadi cerminan sejarah bagi siapa saja yang ingin memahami dinamika Islam dalam pergumulannya dengan masalah sosial, politik, budaya dan ekonomi.

Jual Buku Banjir Ibukota: Tinjauan Historis dan Pandangan ke Depan Serangkaian Pemikiran Strategi Terpadu Jangka Panjang

Judul: Banjir Ibukota: Tinjauan Historis dan Pandangan ke Depan Serangkaian Pemikiran Strategi Terpadu Jangka Panjang
Penulis: A. R. Soehoed
Penerbit: Djambatan, 2002
Tebal: 123 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Harga: Rp. 35.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312

Jual Buku Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda

Judul: Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda
Penulis: Tineke Hellwig
Penerbit: YOI, 2007
Tebal: 134 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Terjual Malang


Secara keseluruhan, buku ini menganalisis citra kaum perempuan pada zaman Hindia Belanda melalui novel sebagai karya sastra.

Tineke mengawali bukunya dengan menceritakan sejarah Hindia Belanda. Penemuan Asia Tenggara pertama kali oleh seorang Portugis, Affonso de Albuquerque. Kedatangan bangsa Belanda pertama, dipimpin Cornelis de Houtman, pada 1596. Pendirian Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Tindakan Jan Pieterszoon Coen mendirikan markas besar VOC di Pulau Jawa, tepatnya di Jacatra (yang kemudian diubah menjadi Batavia). Serta, perkembangan VOC selanjutnya.

Menjelang akhir abad ke-18, VOC bangkrut. Tetapi, penjajahan terus berlanjut. Tineke menceritakan kehidupan sosial di Hindia Belanda yang terbagi atas golongan-golongan. Golongan atas adalah orang Belanda atau Eropa. Golongan menengah terdiri atas orang Indo dan Tionghoa. Lalu, penduduk pribumi sebagai golongan bawah.

Tineke kemudian menceritakan mengenai perempuan yang berada di Hindia Belanda. Dengan tujuan akhir untuk menciptakan komunitas yang stabil dan permanen di kepulauan nusantara, kompeni membatasi imigrasi perempuan dari negeri Belanda. “Selama 250 tahun pertama, hanya sedikit perempuan Eropa menetap di tanah jajahan ini,” tulis Tineke.

Begitupun dengan perempuan Tionghoa. ”Sampai bagian akhir abad ke-19, jarang sekali perempuan Tionghoa bermigrasi ke Hindia Belanda,” lanjut Tineke.

Akibatnya, dalam pola yang mirip, lelaki Belanda (dan Eropa) serta lelaki Tionghoa menikahi perempuan lokal.

Masalah yang timbul selanjutnya, bagi lelaki Belanda (dan Eropa), adalah masalah agama. Lelaki kristen dilarang menikahi perempuan nonkristen.

”Dalam era VOC, orang Eropa selalu memerlukan izin untuk menikah. Garis pemisah utama dalam masa ini ialah agama, bukan ras,” cerita Tineke, ”Karena keadaan itu, banyak laki-laki yang tak pernah mengawini perempuan Asia, melainkan hidup dengannya sebagai gundik atau nyai.”

Setelah VOC tidak ada lagi, larangan bagi orang kristen mengawini perempuan yang bukan kristen tetap berlaku. Sehingga, pergundikan tetap berlanjut. Selain pergundikan, pelacuran pun merajalela.

Memasuki Bab Empat, Tineke menguraikan bahasa teks dan para pengarang karya sastra yang akan ia analisis. Bahasa teks terdiri atas bahasa Belanda dan bahasa Melayu. ”Jelas bahwa karena perbedaan dalam bahasa, isi buku ditujukan kepada khalayak pembaca yang sama sekali berbeda,” tutur Tineke.

Ada sebelas pengarang yang dianalisis karya sastranya oleh Tineke. Lima orang menulis karyanya dalam bahasa Belanda yaitu Louis Couperus (1863-1928), P.A. Daum (1850-1898), Annie Foore (1847-1890, nama aslinya Francoise Ijzerman-Junius), Melati Van Java (1853-1927, nama aslinya Nicoline Maria Christine Sloot), dan Therese Hoven (1860-1941).

Sisanya, menulis dalam bahasa Melayu. Empat orang diantara pengarang berbahasa Melayu ini merupakan pengarang Tionghoa yaitu Gouw Peng Liang (1869-1928), Th. M. Phoa Sr. (1883-1928, Phoa Tjoen Huat), Thio Tjin Boen (1885-1940), dan Njoo Cheong Seng (1902-1962).

Dua pengarang terakhir adalah Herman Kommer (1873-......) dan G. Francis (1860-.....)

Tineke kemudian meringkas karya sastra dari sebelas pengarang yang telah disebutkan di atas. De Stille Kracht (Kekuatan Gaib) milik Louis Couperus, De Familie van de Resident (Keluarga Sang Residen) milik Melati Van Java, Indische Toestanden (Keadaan di Hindia) dan De Ware Schuldige (Yang Sesungguhnya Bersalah) milik Therese Hoven, Willie’s Mama dan Geketend (Terbelenggu) milik Annie Foore, Nummer Elf (Nomor Sebelas) milik P.A. Daum, Tjerita Njai Dasima milik G. Francis, Tjerita Njai Paina milik H. Kommer, Tjerita Controleur Malheure milik Th. H. Phoa, Njai Warsih milik Thio Tjin Boen, Tjerita Nona Diana milik Gouw Peng Liang, dan terakhir Nona Olanda Sebagi Istri Tionghoa milik Njoo Cheong Seng.

Ada 21 tokoh perempuan dari 13 karya sastra di atas. Tineke memberikan pandangannya terhadap 21 tokoh perempuan tersebut. Pada paragraf terakhir, pada bab terakhir, Tineke menulis, ”Jelas bahwa hubungan kolonial dalam masyarakat Hindia menyebabkan banyak perasaan tidak puas dan memerlukan sangat banyak usaha penyesuaian. Karena kekuasaan kolonial dapat diidentifikasikan dengan lelaki kulit putih, maka perempuan menduduki tempat yang lebih rendah. Ini benar bagi perempuan Eropa, dan lebih-lebih bagi perempuan pribumi dan Indo. Kita sudah sangat terbiasa dengan pandangan lelaki kulit putih, berkat studi-studi sejarah dan studi-studi sastra. Mungkin telah tiba waktunya untuk menduduki titik pandang kritikus dan berpaling pada perspektif-perspektif lain, yaitu perspektif kaum perempuan, apakah yang berkebangsaan Eropa, Indo ataupun Indonesia.

Jual Buku Wanita Bali Tempo Doeloe: Perspektif Masa Kini

Judul: Wanita Bali Tempo Doeloe: Perspektif Masa Kini
Penulis: I Nyoman Darma Putra
Penerbit: Pustaka Larasan, 2007
Tebal: 204 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Terjual Jogja

Cita-cita perjuangan R.A. Kartini sesungguhnya sudah masuk dalam wacana tentang kesetaraan gender di kalangan wanita intelektual Bali pada tahun 1930-an. Tak hanya pemikirannya, nama Kartini juga sering disebut dalam artikel-artikel yang ditulis wanita Bali pada masa itu. Hal ini berlanjut terus tahun 1950-an, bahkan lebih frekuentif dan intensif. Bedanya, pada era 1930-an, sketsa wajah Kartini tak pernah muncul dalam majalah.

Inilah cuplikan gambaran wanita Bali tempo dulu yang ditulis I Nyoman Darma Putra dalam buku "Wanita Bali Tempo Doeloe, Perspektif Masa Kini" ini. Di buku yang kini sudah memasuki cetakan kedua ini, Darma Putra bermaksud menyelamatkan tulisan-tulisan yang dibuat wanita Bali tempo dulu, agar pesan yang hendak mereka sampaikan dapat dijadikan bahan renungan. Hal ini terkait dengan ramainya muncul wacana kesetaraan gender dalam kehidupan sosial dewasa ini.

Lantas, kembali persoalan menarik tadi, mengapa pada era 1930-an sketsa wajah Kartini tak pernah muncul dalam majalah? "Hal ini terjadi mungkin karena teknik cetak majalah belum begitu maju seperti saat itu. Baru pada era 1950-an, sketsa wajah Kartini dicetak lewat majalah-majalah mengiringi pembahasan terhadap perjuangan dan pikirannya," demikian tulis Darma Putra.

Selanjutnya disebutkan, majalah Bhakti dan Damai yang terbit kala itu lantas berulang-ulang memuat gambar wajah R.A. Kartini, misalnya sebagai cover majalah atau ilustrasi artikel di halaman dalam. Kedua majalah itu sering tampil dengan "edisi Kartini" untuk penerbitan bulan April, berdekatan dengan peringatan hari Kartini 21 April. Pada edisi khusus itu, dimuat banyak artikel tentang wanita, tentang Kartini dan tentang gerakan wanita internasional. Pembahasan tentang isu wanita menjadi lebih mendalam dan luas.

Perihal istilah emansipasi, itu muncul dalam sejumlah artikel yang dimuat di rubrik "Ruangan Wanita" di kedua majalah tersebut. Emansipasi di situ diartikan sebagai "persamaan hak-hak". Sementara pada tahun 1930-an, walaupun semangat kesetaraan perempuan dengan laki-laki di bidang pendidikan dan kehidupan sosial banyak dibahas, istilah emansipasi memang belum muncul.

Penggunaan istilah emansipasi misalnya, bisa dilihat dalam tulisan Asri yang dimuat di majalah Bhakti terbitan 1 Januari 1953. Di situ, Asri menyebutkan tokoh-tokoh pejuang wanita secara internasional, menyebutkan tokoh-tokoh pejuang wanita dunia, sebelum akhirnya menguraikan cita-cita Kartini dan pengertian emansipasi serta model wanita atau ibu ideal dalam konteks Indonesia.

Asri mensejajarkan kedudukan Kartini dengan tokoh pejuang wanita dunia. Dia menulis, "Jika Amerika punya Eleanor Roosevelt, Rusia punya Pauline Molotov, India punya Vijaya Laksmi Pandit, maka bagi kita di Indonesia punya Ibu Kartini. Seorang bangsawan putri yang di lingkar tembok tebal, keinsafan dan semangatnya pun adalah setebal tembok yang memagarinya pula."

Atas fenomena ini, Darma Putra lantas mengulas kesadaran akan ketokohan Kartini bisa dilihat sebagai modal dasar utama dalam pergerakan memajukan kaum wanita Indonesia. Perjuangan wanita Indonesia mendapat inspirasi dari cita-cita Kartini. Perjuangan yang dicanangkan Kartini belum usai, namun cita-cita itu diteruskan oleh organisasi wanita seperti Wanito Oetomo, Poetri Indonesia, hingga Wanito Moelio. "Organisasi wanita Bali yang ada pada tahun 1930-an, Poetri Bali Sadar, tidak disebutkan secara eksplisit dalam artikel ini," tulis Darma Putra.

Berbagai isu sekitar kesenjangan kedudukan wanita di masyarakat menjadi masalah perjuangan organisasi itu. Mereka misalnya ikut membicarakan secara serius adat poligami yang banyak dibahas tahun 1950-an dari sudut pandang agama. Ketika sampai pada topik emansipasi, dalam tulisan Asri, disebutkan bahwa kesadaran akan persamaan hak hanya ada di kalangan wanita intelek. Pernyataan ini tak hanya melukiskan ketimpangan, tetapi juga harapan agar kesadaran emansipasi bisa merata di berbagai lapisan kaum wanita.

Asri melihat bahwa pengertian emansipasi perlu diluruskan. Emansipasi, tulis Asri, menuntut adanya hak-hak sebagai manusia yang diperkosa oleh kaum laki-laki, atau dengan lain kata, usaha wanita melepaskan diri dari perbudakan kaum laki-laki. "Perjuangan persamaan hak harus dibedakan dengan perjuangan persamaan gaya," papar Asri.

Disinyalemen masih banyak wanita pada masa itu yang salah paham dengan emansipasi. Emansipasi adalah usaha perjuangan persamaan hak, bukan persamaan gaya. Sebagai ilustrasi disebutkan bahwa wanita yang memperjuangkan emansipasi bukanlah untuk bisa berpakaian secara laki-laki, merokok, menyetir otot, tenis, piknik, dan berdansa. Menurut Asri, jika wanita berusaha untuk tampil seperti itu, itu artinya mereka memperjuangkan persamaan gaya, bukan persamaan hak.

Wanita yang mengejar persamaan gaya, menurut Asri, condong menjadi wanita cantik dan modern. Wanita seperti ini justru menambah beban suami. Mereka sering mengorek kantong suami untuk memuaskan diri memenuhi gaya hidup modern. Ia tak sanggup hidup dengan suami yang berpenghasilan kecil. Wanita yang haus akan kegemerlapan dan foya-foya suatu saat akan terbang bagai kupu-kupu kalau suaminya tidak mampu memenuhi kebutuhan materialnya.

"Wanita yang tipe ini adalah contoh wanita yang keluar dari rel atau menyimpang dari tujuan perjuangan untuk kaum wanita yang sudah diperjuangkan berabad-abad," demikian Asri seraya menegaskan bahwa emansipasi harus diarahkan untuk melenyapkan adanya anggapan dan perbuatan sewenang-wenang dari kaum laki-laki yang di luar perikemanusiaan.

Penegasan cita-cita Kartini dan emansipasi juga ditulis oleh Ni Jasmin Oka di majalah Damai terbitan 17 April 1953. "Jasa Kartini bukan terletak pada apa yang diwujudkan waktu hidupnya. Jasanya justru terletak pada cita-citanya yang tinggi dan luhur, untuk kebangkitan kaum dan bangsanya," tulis Oka.

Pembelaan kritis terhadap pemikiran Kartini terutama mengenai dugaan bahwa Kartini terlalu memalingkan muka ke Barat dalam soal emansipasi juga ditulis Jasmin Oka. Hal itu, menurutnya, bukanlah dimaksudkan untuk menjelma sebagai orang Barat. "Namun, untuk mengambil dari Barat sifat-sifat yang dapat memajukan lingkungannya sendiri dengan tidak melahirkan sifat-sifat dan kebudayaan asli, supaya dapat ikut melangkah dengan bagian dunia lainnya," pendapat Oka.

Pemikiran Asri maupun Jasmin Oka, menurut Darma Putra, menunjukkan bahwa kalangan wanita intelektual Bali tempo dulu ikut aktif menafsirkan cita-cita Kartini terkait dengan konteks perkembangan zamannya. "Jika dilihat dari sudut pandang dewasa ini, beberapa penafsiran mereka tentang emansipasi tampak terlalu sempit seperti halnya pendapat yang tidak merestui wanita mengendarai mobil. Namun, banyak juga yang masih relevan dengan situasi sekarang, misalnya tentang perlunya kita terbuka dengan nilai Barat untuk meraih kemajuan tanpa melalaikan budaya sendiri," demikian Darma Putra.

Jual Buku Nasionalisme Baru Intelektual Indonesia Tahun 1920-an

Judul: Nasionalisme Baru Intelektual Indonesia Tahun 1920-an
Penulis: Frank Dont
Penerbit: GMUP, 2005
Tebal: 143 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama
Harga: Rp. 30.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Buku ini melacak fenomena Kelompok Studi dan pikiran kaum intelektual pribumi dalam pergerakan nasional Indonesia. Munculnya fenomena tersebut ditinjau dalam sebuah konteks yang juga dilacak sebagai faktor pendorong. Diajukan juga pertanyaan mengapa kelompok-kelompok tersebut muncul, perbedaan antara kelompok-kelompok tersebut dan mengapa kelompok-kelompok tersebut hanya muncul di beberapa tempat tertentu saja. Para anggota dan para pemimpinnya juga dilacak dan bentuk aktivitas kelompok tersebut juga diperhatikan. Akhirnya dilacak pula mengenai pengaruh kelompok tersebut terhadap masa depan pergerakan nasional dan asal-usul Kelompok Studi tersebut.

Melalui penelitian dalam tulisan-tulisan Kelompok Studi tersebut beberapa kesimpulan mengenai kelompok yang merupakan topik buku ini yaitu Perhimpoenan Indonesia, Algemeene Studieclub dan Indonesische Studieclub ditarik. Penelitian berdasarkan suatu kerangka teori nasionalisme dilaksanakan dalam mentalitas mereka sebagai kaum pemuda intelektual pribumi pada tahun 1920. Dari situ terdapat kesimpulan bahwa mereka mempunyai mentalitas nasionalisme Indonesia-pribumi yang sangat sesuai dengan teori nasionalis dan yang juga berupa ‘nation-building’. Faktor pendorong seperti modernisasi, pendidikan Barat dan evolusi politik juga sangat berpengaruh terhadap munculnya organisasi-organisasi tersebut. Hatta, Soetomo dan Iskaq dengan Soekarno menonjol sebagai pemimpin kelompok-kelompok tersebut. Buku ini berkesimpulan bahwa Nasionalisme Indonesia berdasarkan suatu konsep dari Perhimpoenan Indonesia berdasarkan konsep Nasionalisme Indis.

Buku Kalender Islam ke Arah Integrasi Muhammadiyah-NU

Judul: Kalender Islam ke Arah Integrasi Muhammadiyah-NU
Penulis: Prof. Dr. Susiknan Azhari
Penerbit: Museum Astronomi Islam, 2012
Tebal: 384 halaman

Dalam menentukan awal bulan Ramadan dan Syawal, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki model beragam dalam menggunakan metode hisab dan rukyat. Model pertama, menurut Susiknan Azhari, guru besar ilmu falak UIN Sunan Kaijaga, Yogyakarta, adalah konflik.

Pemicunya, persoalan politik dan cara pandang keagamaan dua ormas itu. Muhammadiyah berpandangan, antara wahyu dan akal harus berjalan seirama dalam rangka menuju masyarakat utama. Di sisi lain, NU berpendapat, dalam beragama harus melalui sanad (silsilah keilmuan) yang jelas atau melalui pendekatan mazhab agar diperoleh kepastian hukum.

Kaitannya dengan persoalan penetapan awal Ramadan dan Syawal, menurut penulis yang juga Direktur Museum Astronomi Islam Indonesia itu, NU mendasarkan pada rukyatul hilal (melihat hilal). Sebab rukyatul hilal dianggap memiliki sanad yang jelas melalui kitab-kitab yang mu'tabarah (sanad-nya tersambung hingga Nabi).

Sementara itu, Muhammadiyah mempertautkan antara dimensi ideal wahyu dan peradaban manusia. Sehingga Muhammadiyah tidak semata-mata menggunakan rukyat, melainkan juga menggunakan hisab (perhitungan). Pada awalnya, hisab yang digunakan Muhammadiyah adalah imkanur rukyat, kemudian hisab hakiki dengan kriteria ijtima' qabla al ghurub, dan sejak tahun 1938 M/1357 H hingga kini menggunakan hisab hakiki wujudul hilal. Adapun model kedua ialah independensi. Model ini dimaksudkan untuk menghindari konflik antara hisab dan rukyat. Pertimbangannya pragmatis. Lebih baik hisab dan rukyat dipisah dalam dua kawasan berbeda. Khususnya dalam penetapan awal Ramadan dan Syawal, guna menghindari perbedaan antara Muhammadiyah dan NU. Model ketiga adalah dialog dengan terbentuknya badan hisab dan rukyat. Model ini memotret hubungan yang konstruktif antara NU dan Muhammadiyah, terutama persoalan hisab dan rukyat. Pada model ini, setiap pihak mencoba saling memahami untuk mencari titik temu dengan memperhatikan aspek kesejajaran metode antara hisab dan rukyat. Dialog menekankan kemiripan dalam pra-anggapan dan metode. Namun model dialog tidak menawarkan kesatuan konseptual.

Model keempat adalah integrasi, yang merupakan konsekuensi logis sekaligus tuntutan alamiah dari pandangan dialog. Namun, sayangnya, menurut Susiknan, model ini baru pada tataran ide, sehingga perlu dibentuk upaya kerja sama akademik dan ilmiah. Model konflik sangat terasa pada 1992, 1993, dan 1994. Meskipun tidak terjadi kerusuhan dan percekcokan serius antara anggota Muhammadiyah dan NU pada tahun itu, banyak orang merasa kesucian bulan Ramadan dicemari dan kekhusyukan beribadah terganggu. Sebagai solusi, pasca-1994, berkembang model independensi, ketika disadari bahwa perbedaan itu hanya bersifat metodologis dan tidak perlu dibesar-besarkan. Perbedaan antara hisab dan rukyat tidak begitu bermakna. Perbedaan itu rahmat. Pada 1998, model dialog berkembang, ditandai dengan Musyawarah Ulama Ahli Hisab Rukyat dan Ormas Islam tentang kriteria imkanur rukyat Indonesia.

Kecenderungan ke model integrasi terjadi pada 2003, ketika diadakan Seminar Nasional Hisab dan Rukyat oleh Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Departemen Agama, yang ditindaklanjuti dengan Musyawarah Nasional Penyatuan Kalender Hijriah pada 18-19 Desember 2005 oleh Departemen Agama. Dengan munculnya model independensi tidak berarti ciri-ciri model konflik hilang. Sama halnya dengan kehadiran model dialog, tidak serta-merta ciri-ciri model konflik dan independensi berakhir. Begitu pula dengan kemunculan model integrasi, tidak berarti ciri-ciri model sebelumnya tidak ada. Dengan kata lain, tipologi hubungan Muhammadiyah dengan NU dalam menggunakan hisab dan rukyat lebih bersifat teoretis. Namun, pada tataran empiris, terjadi tumpang tindih model yang satu dengan lainnya.

Menurut Susiknan, baik Muhammadiyah maupun NU mengakui eksistensi hisab dan rukyat. Hanya saja, dalam prakteknya, NU mendasarkan pada rukyat, sedangkan Muhammadiyah berdasarkan hisab. Bagi NU, hisab hanya berfungsi sebagai "pembantu" pelaksanaan rukyatul hilal. Sedangkan bagi Muhammadiyah, hisab menjadi "penentu" awal bulan Qamariyah. Dengan kata lain, NU cenderung pada penampakan hilal, sedangkan Muhammadiyah lebih cenderung pada eksistensi hilal.

Untuk solusi, sebaiknya Muhammadiyah dan NU segera melakukan kajian kerja sama dengan pendekatan akademik-ilmiah melalui research development dari kalangan pemikir dan ahli di bidangnya. Sementara itu, pemerintah menjadi fasilitator tanpa intervensi agar kebersamaan dapat dikembangkan dalam memformulasikan kalender Islam nasional.

Ade Faizal Alami

Buku Soekarno dan Cina

Judul: Soekarno dan Cina
Penulis: Nurani Soyomukti
Penerbit: Garasi, 2012
Tebal: 330 halaman

Kehidupan keturunan Tionghoa semasa Orde Baru mengalami tekanan yang signifikan. Mereka terpaksa melepas budaya dan atribut bernuansa Tionghoa. Padahal, orang Tionghoa sudah menginjak Nusantara sekitar abad ke-14. Dalam catatan Cina terkuak, kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina.

Namun buku-buku sejarah nasional kurang mengungkapkan peran etnis Tionghoa. Peran mereka terbukti saat merebut kemerdekaan dan mengusir penjajahan Belanda. Mereka ambil bagian dalam menyuplai tenaga, logistik, dan menyelundupkan senjata dari Singapura untuk para gerilyawan. Bahkan mereka terlibat pertempuran Surabaya melawan Inggris, November 1945.

Kemunculan nasionalis Tionghoa di Indonesia dipengaruhi pemikiran modern di Tiongkok, yang dikenal dengan gerakan nasionalis, pimpinan Dr. Sun Yat Sen. Gerakan ini tertanam dalam organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Jakarta, yang rata-rata anggotanya berpendidikan Barat. Ketika itu, etnis Tionghoa diperlakukan diskrimatif di mata hukum dan peradilan Pemerintah Hindia Belanda, sehingga membangkitkan kesadaran nasional di kalangan mereka.

Melalui koran Sin Po milik peranakan Tionghoa, terungkap sikap agar orang Tionghoa yang tinggal di Hindia Belanda meninggalkan dan menarik diri dari institusi-institusi politik lokal, untuk terlibat aktif dalam dinamika politik di Tiongkok dan gerakan nasionalisme yang tumbuh. Setelah kekuasaan dinasti Tiongkok runtuh, orang-orang nasionalis kian yakin bahwa republik adalah sistem terbaik yang harus dijalankan Indonesia. Republik adalah tatanan pemerintahan yang banyak diidealkan tokoh pergerakan.

Secara garis besar, buku ini menguak peran etnis Tionghoa dalam sejarah perjuangan bangsa. Sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, gerakan pemuda Tionghoa aktif terlibat. Waktu itu, rumah milik Sie Kok Liong dijadikan tempat kongres pemuda. Ada empat pemuda keturunan Tionghoa lainnya selain Sie Kok Liong, yakni Kwee Thiam Hong, anggota Jong Sumatera. Ia aktif dalam pergerakan, sehingga namanya cukup dikenal di kalangan pejuang. Saat Sumpah Pemuda, ia mengajak tiga rekannya, Ong Kay Sing, Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie. Kini rumah itu menjadi Museum Sumpah Pemuda, tapi perannya kurang dihargai pemerintah.

Dalam pertempuran Surabaya, pemuda Tionghoa juga mengambil peran cukup besar. Gam Hiann Tjong dan Auwyang Tjoe Tek tergabung di Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI), di bawah pimpinan Bung Tomo. The Djoe Eng, pemain sepak bola terkenal masa itu, tergabung di Laskar Merah dan sebagian besar pemuda Tionghoa terlibat dalam Kebangkitan Rakyat Indonesia (KRIS).

Pada masa peralihan kekuasaan Jepang kepada Republik Indonesia, angkatan muda Tionghoa ikut membantu. Sebagai bentuk nasionalisme Indonesia, orang Tionghoa mendirikan partai politik, yakni Partai Tiongkok Indonesia (PTI). Kebetulan partai ini memiliki visi sama dengan PNI yang didirikan Soekarno.

Ketika Amir Sjarifoeddin membentuk kabinetnya, Siauw Giok Tjhan menjabat sebagai Menteri Negara yang mewakili etnis Tionghoa dan Dr. Ong Eng Die dari PNI sebagai Wakil Menteri Keuangan. Tokoh nasionalis Tionghoa di Indonesia berjuang tanpa pamrih, meskipun sering dibedakan. Misalnya Siauw Giok Tjhan yang tidak mendapat fasilitas perumahan pemerintah.

Soekarno dan tokoh-tokoh nasionalis lainnya selalu menyebut pengaruh nasionalisme Tiongkok ikut andil dalam mengusir penjajah. Bahkan Soekarno menyatakan bahwa Pancasila yang dijadikan sebagai dasar negara dipengaruhi pemikiran Dr. Sun Yat Sen. Hal itu terungkap dalam pidato yang kemudian dikenal sebagai "Pidato Kelahiran Pancasila''. Pembelaan Bung Karno terhadap etnis Tionghoa terlihat dalam kongres VIII Baperki, 14 Maret 1963.

Buku karya Nurani Soyomukti ini menyajikan pergolakan etnis Tionghoa yang cukup menarik, karena tulisannya diperkuat dengan penelurusan lika-liku perjalanan Tionghoa dan referensi yang akurat.

Fathurozi
Pengkaji budaya di Pancur Studies dan staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Jual Buku Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber

Judul: Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber
Penulis: Anthony Giddens
Penerbit: UI Press, 2009
Tebal: 342 halaman
Kondisi: Stok lama (cukup)
Harga: Rp. 50.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312



Menyajikan suatu analisis baru tentang karya tulis dari tiga penulis besar, tentang pembentukan suatu kerangka kerja dasar sosiologi kontemporer, dengan tujuan untuk menghapus kesimpangsiuran dan kesalahpahaman yang ada.

Jual Buku Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17

Judul: Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17
Penulis: Leonard Y. Andaya
Penerbit: Ininnawa & Media Kajian Sulawesi, 2004
Tebal: 483 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 70.000 (belum ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312


Buku yang ditulis seorang “Bugisianis” Leonard Y. Andaya (pengajar pada University of Auckland Selandia Baru) ini, bisa dikatakan cukup spektakuler. Ia mengungkapkan kisah budaya dan sejarah pergolakan politik di Sulawesi Selatan pada abad ke-17 sampai ke kisi-kisi paling terkecil sekalipun sehingga buku dengan judul asli “The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) In the Seventheenth Century” ini sangat patut mendapatkan perhatian untuk dibaca bagi generasi sekarang, meski oleh penulisnya memberikan beberapa catatan peringatan.

Andaya pada bagian pendahuluan mengemukakan dengan sangat hati-hati, bahwa sampai sekarang ini masih banyak orang Makassar yang mengenang kejatuhan Goa (baca: Kerajaan Gowa) dengan sangat getir; Mereka menganggap bahwa sebuah kerajaan “Indonesia” sejati, telah dihianati oleh kelompok “Indonesia” lainnya, dan menjadikan Belanda, sang “kolonial”, sebagai pemenang utamanya…..(hal. 2)

Andaya membahasakan seperti itu, karena disesalkan kalau standar sekarang setelah Indonesia merdeka, digunakan sebagai ukuran untuk mengevaluasi kejadian di abad ke-17, karena sentimen dari semangat nasionalisme sekarang tidak sama ukurannya pada masa kerajaan kala itu, dimana Indonesia (tanpa tanda petik) belum ada. Itu juga sebabnya, ketika standar masa lalu digunakan, Andaya melakukan penulisan Indonesia dengan tanda petik. Kalau menggunakan standar sekarang, maka kata Andaya orang Sulawesi Selatan, antara yang bersuku Bugis atau Makassar tidak akan pernah berhenti memperdebatkan peran tokoh masing-masing sebagai “Pahlawan Nasional” Indonesia sejati, dan siapa yang melakukan penghianatan.

Andaya sepertinya tidak ingin terjebak dengan ukuran dan perdebatan yang ikut berlanjut mempengaruhi konstalasi perpolitikan lokal Sulawesi Selatan sampai sekarang. Ia hanya ingin menyelesaikan ambisi penelitiannya untuk menggali dan mengungkit sejarah lokal di “Sulawesi Selatan” pada abad ke-17, karena menurutnya meski peristiwa sejarah lokal pada paruh abad ke-17 telah banyak diterbitkan, tetapi cenderung berorientasi regional dan hampir tidak ada yang membahas implikasi peristiwa tersebut terhadap wilayah “Sulawesi Selatan” secara keseluruhan. Itulah sehingga kalau mau dikatakan buku inilah yang berhasil mengungkit secara meluas implikasi itu, berangkat dari peran Arung Palakka yang ikut berperan meluluhlantahkan Benteng Somba Opu.

Kerajaan Gowa adalah salah satu dari tiga kerajaan tersohor di nusantara yang sangat diperhitungkan oleh VOC. Salah satu faktor pendukungnya, karena Gowa berada di posisi yang sangat strategis, tepat berada di kawasan perlintasan perdagangan sejumlah negara asing yang bermaksud memperebutkan hasil kekayaan bumi yang melimpah di semenanjung kepulauan Maluku. Dan strategi politik perekonomian yang diberlakukan para Raja-raja Gowa pada Abad 16, bahwa “Gowa adalah Negara yang terbuka bagi siapa saja”, kemudian sangat mendukung bertumbuhkembangnya Bandar Makassar sebagai pelabuhan transit pelayaran bagi siapa saja, dari dan menuju ke Maluku. Meskipun diberlakukan secara terbuka, tetapi para Raja-raja Gowa tidak mau menerima sistem kongsi, karena ia tidak mau didikte oleh negara asing.

Kondisi seperti itulah yang membikin gerah kaum komponi VOC yang bermarkas di Benteng Fort Rotterdam, sehingga secara diam-diam berkali-kali bermaksud menggempur Gowa yang dipandang oleh mereka sangat angkuh. Dan bertepatan dengan itu, sejumlah kerajaan lain di dataran “Sulawesi Selatan” yang telah ditaklukkan Gowa, sedang sengit-sengitnya terlibat pergolakan dan konflik kekuasaan. Sementara Kerajaan Bone yang menjadi seteru utama Gowa, sedang dalam puncak ketegangan untuk segera meladeni Gowa yang dipandang sangat arogan dengan kebesarannya. Lebih-lebih ketika Gowa mempekerjakan secara paksa ratusan masyarakat Bugis untuk menggali kanal pembatas antara Benteng Somba Opu dengan Benteng Panakukang yang dikuasai kompeni.

Momen itu kemudian dimanfaatkan oleh kompeni untuk menggalang kekuatan dengan Bone yang saat itu dimahkotai Arung Palakka sebagai Raja Bone. Tidak dapat terhindarkan lagi, Benteng Somba Opu pusat pemerintahan Gowa di gempur. Perang Makassar secara besar-besaran sudah terlanjur meletus. Kisah sejarah yang memilukan ini kemudian mencatat, tidak siapapun bisa membayangkan kalau kerajaan terbeser dan tersohor itu akhirnya lulu-lantah. Tahun 1669, Benteng Somba Opu yang menjadi simbol kedigjayaan Gowa hancur lebur rata dengan tanah jatuh ke tangan musuh, sekaligus inilah masa akhir keemasan kerajaan Gowa.

Demikian alur kisah diungkapkan secara akurat oleh Andaya dalam buku setebal 459 + xiv ini. Dikatakan akurat karena pada kisah sejarah sekecil apapun ikut diungkapkannya, misalnya isi sumpah Arung Palakka yang tidak akan pernah memotong rambutnya yang panjang sebelum ambisinya tercapai untuk menaklukkan Gowa. Tetapi sekaligus dari pengungkapan sebanyaknya hal-hal sekecil, buku ini menjadi rumit untuk dicermati alur sejarah yang diungkapkan. Apalagi dalam menulis buku ini, Andaya memiliki ambisi untuk mengcover banyak kepingan-kepingan kisah sejarah di daratan ”Sulawesi Selatan”, sehingga alur (akurat) yang diungkapkannya selalu berkelok jauh dari alur yang semestinya harus dituntaskan. Makanya membaca buku ini, seperti ketika menghadapi sebuah buku berbetuk novel.

Menulis buku ini, Andaya memiliki cukup banyak reference. Mulai dari wancara ahli sejarah, buku-buku hasil penelitian (lokal, nasional dan internasional), lontarak Bugis-Makassar, dan manuskrip sejarah di banyak perpustakaan nasional dan internasional, khususnya di KITLV Belanda, termasuk catatan harian Spieldman yang pernah bertugas sebagai Gubernur Hindia Belanda di Fort Rotterdam Makassar. Hanya saja, Andaya ikut pula mengandalkan pengungkapan sejarah dari sejumlah cerita rakyat yang terurai dalam lontara, padahal diketahui bahwa banyak cerita rakyat selain tidak memiliki urutan-urutan kejadian, juga tidak memiliki tingkat kebenaran pada kejadiannya secara faktual sejarah.

Arung Palakka dengan gelaran bahasa arab Sultan Sa’aduddin, setidak-tidaknya menjadi “pelaku utama” dalam babakan sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17 yang diungkapkan buku ini, sehingga meluas ikut pula terungkapkan kisah sejarah Kerajaan Luwu, Wajo, Soppeng, Ajatappareng dan Mandar serta lainnya, lengkap dengan tokoh dan pelakunya. Apa konsekuensi dari pergolakan politik lokal itu, ikut pula dikemukakan dalam buku ini. Termasuk kisah La Patau anak dari We Mappolobombang Da Upi saudara kandung Arung Palakka yang menggantikannya, apakah ia mampu mengemban warisan yang dipercayakan untuk meneruskan kedigjayaan Kerajaan Bone padanya.

Jual Buku Bali Berjuang

Judul: Bali Berjuang
Penulis: Nyoman S. Pendit
Penerbit: Sarad & Pustaka Larasan, 2008
Tebal: 476 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Harga: Rp. 90.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Buku ini menuturkan peristiwa sejarah yang sekitar zaman revolusi berdasarkan sudut pandang penulis

Jual Buku Sosiologi Agama: A Handbook

Judul: Sosiologi Agama: A Handbook
Penulis: Max Weber
Penerbit: Ircisod
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 70.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Buku pegangan wajib bagi siapapun yang ingin mendalami bidang sosiologi agama.

Jual Buku Haji Ali Shariati

Judul: Haji
Penulis: Dr. Ali Shariati
Penerbit: Pustaka, 1983
Tebal: 206 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 50.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Mengutip sebuah kata pendahuluan buku Dr. Ali Syariati pada  halaman pembukaan buku karyanya Hajj (The Pilgrimage) yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Pustaka menjadi Haji. Pada hakikatnya, ibadah haji adalah evolusi manusia menuju Allah. Ibadah haji merupakan sebuah demonstrasi simbolis dan falsafah penciptaan Adam. Gambaran selanjutnya, pelaksanaan ibadah haji dapat dikatakan sebagai suatu pertunjukan banyak hal secara serempak. Ibadah haji adalah sebuah pertunjukan tentang ‘penciptaan’, ‘sejarah’, ‘keesaan’, ‘ideologi Islam’, dan ‘ummah’.

Tulisan Dr.Syariati pada pembukaan di atas dan kemudian dilanjutkan dengan Ilustarsi yang Rasional. Menurut Syariati, “Allah adalah Sutradara. Tema yang di ciptakannya ialah tindakan orang-orang yang terlibat, pemeran utama terdiri dari Adam, Ibrahim, Hajar, dan Setan. Lokasi kejadiaanya ialah Masjid al-Haram, daerah Haram, Nas’a, Arafah, padang Masy’ar dan Mina. Simbol-simbol yang penting adalah Ka’bah, Shafa, Marwah, siang, malam, matahari terbit, matahari terbenam, berhala dan upacara kurban. Pakaian dan make up-nya adalah ihram, halgh dan taqshir (mencukur sebagian rambut kepala). Dan yang paling terakhir adalah peran-peran dalam pertunjukkan ini adalah hanya seseorang, yaitu dirimu sendiri. Dijelaskan pula di dalam ritual ibadah haji semua bangsa tak peduli SARA adalah actor penting di dalam Pagelaran ini. Yang dimana kita berperan sebagai. Adam, Ibrahim dan Hajar dalam Konfrontasi antara ‘Allah dengan Setan’.

Haji dalam pemahaman Syariati adalah sebuah kepulangan Manusia kepada Allah Yang Mutlak.yang dimana tidak memiliki sebuah keterbatasan dan yang tidak dapat dipadankan oleh hal apapun. Kepulangan itu sendiri dalam pandanganya adalah sebuah gerak menuju suatu kesempurnaan, kebaikan, keindahan, pengetahuan, nilai, dan fakta. Dengan melakukan suatu perjalanan yang berujung pada keabadian ini, pada dasarnya tujuan manusia ialah bukan untuk binasa melainkan berkembang dan tujuan ini bukan untuk Allah melainkan untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya. Makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, nyata atau simbolik.

Semua itu pada akhirnya kemudian mengantarkan sesuatu pada ke-Universalan dengan Nilai-nilai kemanusiaan. Ihram yang dikenakan menurutnya ialah perlambang pola, prefensi, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu. “Tak dapat disangkal bahwa pakaian pada kenyataannya dan juga menurut Al-Quran berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau satu kelompok dengan lainnya,” tulis Syariati.

Syariati berpendapat bahwa pembedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis pada pemakainya. Di Miqat, tempat ritual ibadah haji dimulai, perbedaan tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan. Semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan.

Dalam miqat ini, SARA harus dilepaskan tak terkecuali pakaian yang dikenakan sehari-hari yang membedakan sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), atau domba (yang melambangkan penghambaan) harus ditinggalkan. Di Miqat, dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini. “Ia akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa,”  tandas Syariati.

Selanjutnya, Ka’bah yang dikunjungi di tengah-tengah Masjidil Haram, dalam pemahaman Syariati mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana terdapat Hijr Ismail yang arti harfiahnya pangkuan Ismail. Ali syariati secara tersirat menunjukkan kepada kita bahwa haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagi manusia. Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang “tampil beda” (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelumnya. Bukan malah berhaji dan pulan dengan sikap yang lebih buruk sebelum berangkat. Dan ini adalah kemestian. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah wisatawan yang berlibur ke tanah suci di musim haji, tidak lebih!

Jual Buku Pluralisme Menyelamatkan Agama-Agama

Judul: Pluralisme Menyelamatkan Agama-Agama
Penulis: Mohammad Shofan
Penerbit: Samudra Biru
Tebal: 193 halaman
Kondisi: Buku baru (bagus)
Harga: Rp. 30.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Teror atas nama agama yang seringkali dilakukan oleh umat Islam di Indonesia, adalah cermin kuat ideologi fundamentalisme Islam dengan pendekatan literalis dan formalis; absolutis dan anti-pluralis, dan sebagian lagi didasarkan pada pandangan yang apokaliptik mengenai misi-politik agama. Teologi kekerasan yang dianut para radikalis ini bisa dilacak pada teologi Wahhabi—sebagaimana yang dianut oleh Muhammadiyah—yang didirikan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb. Teologi Wahhabi secara terang-terangan mengafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah [inovasi], dan mengajak kaum Muslimin agar kembali kepada ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah Nabi.

Kebiasaan kaum Wahhabi yang mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin, menolak berbagai tafsir Al-Qur’ân yang dianggapnya mengandung bid’ah atau inovasi, dalam Negara yang sangat plural, seperti di Indonesia, sungguh merupakan cermin ketidakpahaman mereka terhadap pesan moral agama itu sendiri. Karenanya, tatkala pemerintah Saudi ‘terpaksa’ menggunakan telepon, TV, radio dan lain-lain, kaum Wahhabi ini melakukan perlawanan keras. Modernitas mengandaikan adanya perubahan, inovasi atau bid’ah.

Meskipun modernitas tidak begitu saja dilawankan dengan tradisi, tetapi tradisi tidaklah mesti sesuai dengan perkembangan zaman yang terus menerus berubah. Meminjam analisis Habermas, bahwa di dalam masyarakat modern yang plural, norma-norma sosial yang diberlakukan hanya dapat meraih validitasnya dari akal budi manusia. Hanya norma-norma yang didasarkan pada akal budi manusialah yang dapat mengikat interaksi diskursif antara kelompok dan individu yang berbeda-beda di dalam masyarakat plural. Dalam hal ini, Habermas sependapat dengan John Rawls, yang mengatakan bahwa di dalam masyarakat plural, kesepakatan hanya dapat dicapai, jika masing-masing pihak mau menekan kepentingan kelompoknya masing-masing, dan mencari irisan di antara kepentingan mereka.

Consensus hanya dapat dicapai dengan penerapan prinsip-prinsip dasar keadilan, yang mereka terima di dalam pandangan dunia normatif mereka. Ada semacam basis universal dalam upaya mencapai persetujuan dan kesepakatan tentang norma-norma umum, bahkan di dalam masyarakat plural, yang memiliki acuan nilai yang berbeda-beda. Hal inilah yang diyakini oleh Habermas dari bangunan epistemologisnya tentang teori tindakan komunikatif, yang membentuk interaksi sosial, dimana setiap partisipan interaksi dapat saling berupaya mencapai kesalingpengertian dalam proses pembentukan identitas, dan pengaturan kehidupan sosial.

Norma-norma moral menyediakan setiap orang dengan motif-motif kognitif rasional yang lemah, yang didasarkan pada argumentasi bahwa tidak ada alasan yang baik untuk melakukan sebaliknya, yakni melanggar norma moral, tetapi argumen tersebut sama sekali tidak menyediakan motif rasional bagi tindakan moral. Norma-norma moral menuntut adanya suatu diskursus praktis, yang harus dilaksanakan di tataran faktual real. Karenanya, norma-norma moral tidaklah cocok untuk mengatur interaksi sosial antara dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda, di mana relasi saling percaya belumlah terbentuk, sehingga membutuhkan waktu yang lebih banyak bagi proses diskursus praktis untuk menciptakan kesalingpemahaman.

Hal inilah yang ditekankan oleh Shofan dalam buku ini, meskipun Shofan secara eksplisit tidak mengatakan demikian. Namun dari keseluruhan isi buku ini, Shofan mengatakan bahwa dalam setiap tradisi keagamaan, selalu terkandung benih-benih ideologi atau teologi yang bersifat isolasionis (tiap agama hidup dan berkembang dalam “ghetto-nya” sendiri-sendiri), konfrontasionis (yang lain dan yang berbeda adalah pesaing yang perlu dicurigai), dan bahkan kebencian (yang lain dan yang berbeda adalah musuh yang harus ditaklukkan). Jika hal di atas tidak segera diatasi, maka bukan tidak mungkin apa yang menjadi kekhawatiran Shofan akan muncul, yakni fanatisisme akibat dari ketidakpercayaan diri untuk menghadapi perbedaan pemikiran, ekspresi kehidupan, kemudian menetapkan segala hal ihwal yang suci dianggap steril, tak pernah terkontaminasi, dan bersifat murni. Fanatisisme ini pada akhirnya merendahkan kemuliaan manusia sebagai hamba Tuhan, berupa pencapaian kebenaran dan martabat manusia. Shofan meyakini bahwa untuk menegakkan pluralisme tidaklah muda di tengah arus konservatisme yang semakin deras.

Menurutnya, pandangan normatif tentang pluralisme tidak boleh dibiarkan berhenti pada lembaran-lembaran teks, tetapi perlu dipahami dengan kerangka metodologis dalam menafsirkan dan mentransformasikannya. Untuk melakukan itu, menurut Shofan dibutuhkan kerja intelektual secara sungguh-sungguh. Shofan sangat sadar, bahwa kerja intelektual dalam mewujudkan pluralisme memerlukan keberanian. Dan Shofan sudah membuktikannya, dengan tetap memilih jalur intelektual yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran: ”memperjuangkan pluralisme”. Meskipun untuk hal itu, ia pernah menghadapi pilihan sulit dalam hidupnya. Shofan, yang saya kenal, adalah seorang ”pendiam yang aktif”, Ia diam dalam ”riuhnya suara”, Ia calm namun sesekali menggebrak, menuding, terkadang juga marah ketika mendapati sesuatu yang dinilainya tidak sesuai dengan kata hatinya. Tak berlebihan jika Shofan adalah pribadi yang—meminjam istilah Irshad Manji—”beriman tanpa rasa takut”. Baginya, sikap menutup diri dari dialog bukanlah merupakan suatu kekokohan dasar sejati dalam beriman, tapi merupakan kegoyahan.

Kekokohan yang sejati tidak memerlukan ”benteng” ketertutupan. Baiklah. Berbeda dengan Shofan yang banyak berbicara di tataran normativitas teks, saya ingin melihat fenomena keberagaman melalui legitimasi dari hukum positif, dengan sebuah pertanyaan: apakah yang merupakan hak mendasar yang harus dimiliki oleh setiap warga negara yang bebas dan setara, jika mereka ingin mengatur lalu lintas kehidupan sosial mereka dalam kerangka hukum positif. Ketika tujuan dari konstitusi hukum telah ditentukan, maka hukum positif, dengan elemen paksanya yang berupa sanksi, akan menentukan cara untuk mencapai tujuan tersebut, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk prosedur hukum.

Secara partikular, hak-hak legal mengandaikan bahwa setiap warga negara memiliki status hukum yang setara. Setiap warga negara haruslah sepakat satu sama lain tentang hak-hak kebebasan yang sangat mendasar, seperti hak untuk mendapatkan perlakuan yang setara, hak untuk berpartisipasi pada komunitas politik tertentu, dan hak bagi setiap orang untuk mendapat jaminan perlindungan hukum. Habermas mengajarkan kita untuk selalu menempatkan kesepakatan legal-politis yang rasional sebagai sebuah otoritas yang lebih tinggi daripada relasi etnis, golongan, ras maupun agama. Di dalam negara dengan begitu banyak “bangsa”, ikatan yang paling mungkin diantara dua orang yang berasal dari latar belakang “bangsa” yang berbeda adalah ikatan legal politis, yang dibentuk melalui proses diskursus untuk mencapai kesepakatan yang rasional. Hanya dengan kesadaran semacam itulah masyarakat majemuk, yang terdiri dari berbagai “bangsa” tapi satu “negara”, dapat tetap hidup bersama dengan stabil dan dinamis. Tesis ini disebut Habermas sebagai patriotisme konstitusional.

Mengingat kenyataan pluralisme agama dan pluralisme sosial dapat dijumpai di mana-mana. Maka tak bisa lain, kehadiran pluralisme, baik sebagai konsep pengetahuan maupun sebagai sebuah teori adalah merupkan hal yang wajar adanya—bukan malah ditolak, apalagi diharamkan. Belum lagi jika dikaitkan antara nilai-nilai Islam dengan masalah keindonesiaan. Keterpaduan antara keislaman dan keindonesiaan ini sebagai perwujudan dari nilai-nilai Islam yang universal, berkaitan dengan tradisi lokal Indonesia. Inilah yang selalu ditekankan oleh almarhum Nurcholish Madjid [Cak Nur] Rahimahullah.

Cak Nur pernah mengatakan bahwa wawasan asasi berdasarkan keislaman pada hakikatnya menyatu dengan wawasan asasi keindonesiaan berdasarkan nilai-nilai dalam Pancasila yang telah mantap sebagai nilai­-nilai kesepakatan luhur bangsa Indonesia. Kesejajaran itu menyatakan diri dalam bentuk hubungan saling menopang antara keduanya. Yaitu bahwa ajaran-ajaran agama (Islam) menyediakan bahan yang kaya dan tak habis-habisnya untuk pengisian nyata nilai-nilai Pancasila, dan Pancasila memberi kerangka konstitusional bagi pelaksanaan nilai-nilai keislaman di Indonesia sehingga semakin relevan dengan masalah bangsa dan Negara. Sampai sekarang Paramadina masih sangat konsisten dalam melakukan kegiatan-kegiatan di bidang advokasi sosial, baik menyangkut isu kebebasan beragama, pluralisme, training polisi, manajemen konflik, civic values, sampai peace building. Program seperti ini sudah dilakukan Paramadina di beberapa tempat: di Lampung, Makasar, Ternate, Sulawesi hingga Poso.

Berkaitan dengan training polisi dan isu kebebasan beragama, sepanjang tahun 2009-2010, Paramadina sudah melakukan lebih dari sepuluh kali, baik di Polda maupun Polres. Keseluruhan program pokok kegiatannya, tentu saja, diarahkan kepada peningkatan kemampuan menjawab tantangan zaman dan menyumbang tradisi intelektual yang terus menaik dalam masyarakat; peningkatkan dan penyebaran paham keagamaan Islam yang luas, mendalam, dan bersemangat keterbukaan dengan titik berat kepada: pertama, pemahaman sumber-sumber ajaran Islam, khususnya masa lahir dan proses pembentukannya, dalam kaitannya dengan lingkungan sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain. Kedua, penyadaran tentang sejarah pemikiran Islam, suatu hubungan dialektik antara ajaran dan peradaban yang terjadi dan berlangsung dalam panggung sejarah umat Islam. Ketiga, Apresiasi terhadap khazanah budaya dan peradaban Islam dan bangsa-bangsa Muslim.

Keempat, Penanaman semangat non-sektarian dan pengembangan serta pemeliharaan Ukhuwwah Islamiyyah yang berkonotasi dinamis dan kreatif. Kelima, pendalaman dan perluasan studi perbandingan mazhab-mazhab dan aliran-aliran dalam Islam, guna menghindari kecenderungan sikap anarkis dan eksklusivistik. Sejumlah Program kegiatan yang dirancang oleh Paramadina sangat menghargai perbedaan pendapat, dan memberi kebebasan seluas-luasnya kepada peserta untuk mengemukakan argumentasinya sekaitan dengan pemahaman keagamaan tertentu yang diyakininya selama ini. Karena iklim intelektual seperti itulah, sehingga tak berlebihan jika di Paramadina, upaya untuk melihat secara kritis terhadap pertumbuhan tradisi pemikiran Islam sangat dimungkinkan, karena pada urutannya kita bisa memilih manakah tradisi yang masih relevan untuk dipertahankan dan mana yang perlu direvisi. Dan, buku Shofan yang ada di hadapan pembaca ini, adalah bagian dari tradisi intelektual yang sudah lama dikembangkan oleh Paramadina, guna mengembangkan sikap-sikap penuh toleransi dan apresiatif terhadap kelompok­-kelompok agama lain untuk menciptakan masyarakat yang damai (salam) sebagaimana hal itu diajarkan oleh Islam. Sedikit saya singgung di sini, bahwa High Boarding School (SMU) Madania adalah salah satu bagian dari Paramadina yang bergerak di bidang penyediaan sekolah unggulan.

Dalam kurikulumnya—di samping merujuk kepada Kurikulum Pendidikan dan Kebudayaan—juga memberi bobot tambahan yang relevan dengan kehidupan modem serta mencerahkan intelektualitas dan spiritualitas siswanya. Kurikulum pendidikan agama, misalnya, diarahkan menjadi media penyadaran umat, sehingga tumbuh pemahaman yang tidak eksklusif. Membangun harmonisasi agama-agama di tengah kehidupan masyarakat plural yang menghasilkan corak paradigma beragama yang tidak rigid dan toleran. Hal itu penting dikembangkan, sebagaimana disinggung oleh Shofan dalam buku ini, mengingat guru-guru agama di sekolah yang berperan sebagai ujung tombak pendidikan agama dari tingkat yang paling bawah hingga yang paling tinggi nyaris kurang tersentuh oleh gelombang pergumulan pemikiran dan diskursus pemikiran keagamaan di seputar isu pluralisme dan dialog antar umat beragama.

Karena itulah, tidak terlalu mengherankan jika berkecambahnya bentuk-bentuk radikalisme agama yang dipraktikkan oleh sebagian umat menjadi ancaman serius bagi berlangsungnya pendidikan pluralisme yang menekankan pada adanya saling keterbukaaan dan dialog. Setiap agama memiliki concern bersama dalam persoalan publik yang menyangkut keadilan, kesejahteraan, kemanusiaan dan keberadaban. Oleh karena itu, setiap agama harus mencari titik-temu dalam membentuk semacam “civic religion” bagi pengelolaan ruang publik bersama. Dalam konteks keindonesian, civic religion itu tak lain adalah Pancasila

(Dinukil dari Pengantar oleh Taufik Hidayat dalam pengantar bukunya).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tolong like Facebook kami, trims

 
Blogger Widgets