Respon Cepat

Respon Cepat

Jual Buku Psikologi Kepribadian Lynn Wilcox

Judul: Psikologi Kepribadian
Penulis: Lynn Wilcox
Penerbit: Ircisod
Tebal: 412 halaman
Kondisi: Buku baru (bagus)
Terjual Jakarta Selatan


 Apa jadinya bila seseorang merasa bingung dengan pikiran dan perilakunya sendiri? Ada dualisme kepribadian dalam dirinya, yang satu mengarah pada keburukan dan yang lain mengajak pada kebaikan. Aktualisasi kepribadiannya kemudian ditentukan sepenuhnya oleh “nilai mana” yang memenangkan pertarungan kepribadian tersebut.

Dan ternyata, mayoritas kita justru mengidap problem kepribadian itu, yang pada tingkat lanjut berakibat pada dominannya rasa berdosa, bersalah, gelisah, bahkan dalam beberapa kasus berakhir dengan kegilaan atau bunuh diri. Tak seorang pun menginginkan hal ini terjadi!

Lantas, apa yang mesti dilakukan?

Buku ini adalah salah satu pegangannya. Melalui lembar demi lembarnya, kita diajak untuk memahami integritas pribadi kita ke arah yang positif, dengan menggunakan metode psikoterapi Barat dan Islam (metode sufi). Proses konseling yang diajukan bersifat konseptual, komparatif, dan praktis. Sehingga, ada kalanya psikoterapi Barat dan Islam bisa dijalankan secara beriringan atau berdasarkan prosedur masing-masing.

Anda tinggal memilih; proses konseling Barat atau Islam, atau keduanya sekaligus. Yang pasti, proses apa pun yang Anda terapkan, semuanya bertujuan untuk membentuk kepribadian yang kokoh, sehat, dan penuh dedikasi.

Selamat menemukan kepribadian Anda!

Jual Buku Il Principle Niccolo Machiavelli

Judul: Il Principle (Sang Pangeran)
Penulis: Niccolo Machiavelli
Penerbit: Narasi, 2008
Tebal: 184 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 30.000 (blm ongkir)
Order: SMS 085225918312


Niccolo Machiavelli dilahirkan di Florence, Italia, pada tahun 1469. Ia sempat dipecat, ditahan dan disiksa karena dituduh berkomplot melawan penguasa Medici. Karena bersikeras dirinya tak bersalah, Machiavelli lalu dibebaskan. Ia mulai menulis karya-karya, di antaranya Il Principle (The Prince), The Discourse upon the First Ten Books of Titus Livius, The Art of War, A History of Florence, dan La Mandragola. Dan di antara semua karyanya itu, II Principle adalah yang paling diingat orang karena isinya dianggap melegalkan tipumuslihat, kelicikan, dusta, serta kekejaman dalam menggapai kekuasaan. Sebagai contoh, Machiavelli menulis:

... Membunuh sahabat seperjuangan, mengkhianati temanteman sendiri, tidak memiliki iman, tidak memiliki rasa kasihan dan tidak memiliki agama; kesemua hal ini tidak dapat digolongkan sebagai tindakan yang bermoral, namun dapat memberikan kekuatan ...

... Manusia tidak segan-segan (Iebih) membela orang yang mereka takuti dibanding yang mereka cinta


Table of Contents
Daftar Isi 9 SANG PANGERAN Niccolo Mahiavelli untuk Lorenzo the Magnificent, Putra Piero Di Medici 13 1. Jenis-jenis Pemerintahan dan Bagaimana Mereka Dibentuk ....o.. ::: 17 4. Mengapa Kerajaan Darius, yang Diduduki oleh Alexander, Tidak Memberontak Setelah Kematiann ya 37 5. Cara Memerintah Kota-kota atau Dominion-dominion yang Sebelumnya Diduduki untuk Hidup dalam Undang-undang Mereka Sendiri 42

Jual Buku Arkeologi Pengetahuan

Judul: Arkeologi Pengetahuan
Penulis: Michel Foucault
Penerbit: Ircisod, 2012
Tebal: 408 halaman
Kondisi: Buku baru (bagus)
Terjual Bantul


Selepas merampungkan karya-karyanya yang terkenal seperti Madness and Civilization, The Birth of Clinic, atau The Order of Thing, Foucault kembali melahirkan sebuah karya fenomenalnya, yakni The Archeology of Knowledge atau yang kenal sebagai Arkeologi Pengetahuan. Melalui karyanya ini, dia seolah ingin meneguhkan eksistensinya sebagai filsuf murni yang mumpuni di zamannya.

Secara garis besar, pendekatan sejarah arkeologi pengetahuan menitikberatkan pada aspek diskontinuitas peristiwa sejarah yang dikaji. Ini berbeda dengan pendekatan sosiologi pengetahuan yang berambisi selalu ingin memperlihatkan hubungan antara pemikiran dan realitas sosial. Pendekatan buku ini justru sebaliknya. Fakta sejarah, baik dalam bentuknya yang berupa realitas sosial maupun produk pemikiran, ingin dilihat sebagai bagian-bagian yang terkadang terpisah, tetapi dalam beberapa hal menyatu.

Tidak heran bila dalam buku ini Foucault lebih memilih menggunakan terminologi "retakan", "ambang", "batas", "seri", dan "transformasi" untuk melihat peristiwa masa lampau, dan bukan melihat peristiwa sejarah sebagai rangkaian fakta yang selalu "berpengaruh" dan membentuk sebuah gugusan "tradisi".

Foucault juga menyebutkan beberapa perbedaan antara arkeologi pengetahuan dan sejarah pemikiran. Sejarah pemikiran lebih banyak berkonsentrasi pada penemuan pemikiran-pemikiran baru, sedangkan sejarah pemikiran lebih berorientasi pada esensi atau substansi sebuah ide daripada tingkat permukaannya. "Sedangkan arkeologi pengetahuan mengungkapkan seluruh kontradiksi yang terdapat dalam setiap diskursus pemikiran." (halaman 75).

Sebagaimana dijelaskan buku ini, "Kegunaan arkeologi pengetahuan untuk melihat suatu sistem pemikiran atau dalam istilah Foucault disebut formasi diskursif lebih dikenal dengan wacana." (halaman 296). Aplikasinya melewati tiga tahapan: positivitas, apriori historis, dan arsip.

Positivitas adalah tahapan analisis yang dipakai untuk melihat apakah terjadi komunikasi pemikiran antara para tokoh di suatu negara dan tokoh di wilayah lainnya. Tolok ukurnya dapat melalui apriori historis yang terdapat dalam setiap penyataan para pemikir tersebut. Misalnya, apakah apriori historis yang berada dalam nalar pikir dan gerak pemikir Indonesia sama dengan yang dipikirkan tokoh lain di dunia dalam suatu fase sejarah yang sama.

Medium yang digunakan untuk melihat positivitas tersebut adalah "arsip" sebab merupakan sistem pernyataan yang dihasilkan dari apriori historis tiap orang yang saat itu ambil peranan dalam sejarah, sekecil apa pun.

Dalam tema foucaultian, arsip seringkali disebut sebagai sistem pembentukan dan transformasi pernyataan-pernyataan. Maka dari itu, pendekatan arkeologi pengetahuan menitikberatkan pada studi dan analisis pernyataan, sedangkan peristiwa faktual historis ditempatkan sebagai pembanding terhadap pernyataan yang muncul, apakah sesuai atau tidak. Menurut Foucault, "Setiap pernyataan yang sudah berbentuk arsip merupakan fenomena otonom yang di dalamnya sudah terkandung realitas sosial pada saat arsip itu dilahirkan." (halaman 380).

Jadi, sebagai sebuah model analisis sejarah, arkeologi pengetahuan lebih "menghargai" setiap pemikiran yang lahir dalam setiap fase sejarah. Model ini tidak hanya melihat sebuah periode sejarah sebagai bagian dari keseluruhan masa, tapi periode sejarah sebagai kesatuan dari pemikiran-pemikiran yang lahir beserta seluruh dinamika yang terjadi dalam fase itu.

Diresensi Zainul Mun'im, tinggal di Yogyakarta

Jual Buku Surat-Surat Adik R.A. Kartini

Judul: Surat-Surat Adik R.A. Kartini
Penyusun: Frits G.P. Jaquet
Penerbit: Djambatan, 2005
Tebal: 321 halaman
Kondisi: Stok lama (cukup)
Stok Kosong


Namanya nyaris berada di bawah bayang-bayang kebesaran nama kakaknya, Kartini. Padahal perjuangannya dalam meninggikan derajat perempuan dan menolong kaum lemah tak bisa dibilang sedikit. Salah satu penyebabnya, Kardinah tak seerat Kartini dalam bersahabat dengan Nyonya Abendanon atau Nyonya Ovink-Soer.

Lahir di Jepara pada 1 Maret 1881, Kardinah merupakan anak ke-7 Bupati Jepara RM Sosroningrat. Dia anak pertama dari selir (garwa ampil) bupati bernama M.A. Ngasirah.

Ayahnya selalu menularkan kepekaan sosial kepada anak-anaknya. “Setelah sudah agak besar, kami sering disuruh oleh rama (bapak) untuk ikut meninjau tempat-tempat penderitaan rakyat. Maksud rama supaya kami melihat sendiri dari dekat bencana-bencana yang menimpa rakyat itu dan mendapat kesan bagaimana susahnya hidup mereka yang melarat dan hina itu,” tulis Kardinah dalam suratnya tanggal 25 Maret 1964 kepada Sitisoemandari Soeroto, penulis Kartini Sebuah Biografi.

Selain memberikan pendidikan formal seperti ELS (Europese Lagere School), ayahnya memanggilkan guru ke rumah. Bersama saudara-saudaranya, mereka membaca, belajar, dan berdiskusi. Mereka kemudian bercita-cita untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak perempuan.

Setelah menikah dengan Patih Soejitno, anak Bupati Tegal Ario Reksonegoro, pada 24 Januari 1902, Kardinah mulai mewujudkan cita-cita Het Klaverblad (daun semanggi) atau “Tiga Saudara” –julukan yang Nyonya Ovink-Soer, istri asisten residen Jepara, berikan kepada Kartini, Rukmini, dan Kardinah.

“Kardinah yakin posisi sosialnya mewajibkannya untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat –sebagai bentuk tanggung jawab itu, sebagaimana saudara perempuannya, Roekmini, dia berpikir bahwa tidak semestinya orang asing saja yang harus berbuat, meski jelas sekali mereka juga punya tanggung jawab– juga merefleksikan peran politik dalam komunitas politik Jawa secara umum," tulis Joost Coté dalam Realizing the dream of R.A. Kartini: Her Sisters′ Letters from Colonial Java.

Kardinah menggunakan model pendidikan yang digariskan Kartini: ibu menjadi pusat kehidupan rumah tangga. “Tak ada yang lebih baik daripada pendidikan seorang ibu yang telah tercerdaskan,” tulis Ahmad Fatkhudin dalam skripsinya di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, “Kardinah Reksonegoro, Peranan dan Pemikirannya dalam Pengembangan Masyarakat Tegal Tahun 1908–1945”.

Kardinah tak puas terhadap kebijakan pemerintah kolonial yang membatasi akses pendidikan kaum bumiputera. Hanya anak bangsawan yang bisa mendapatkan pendidikan baik dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. “Berapa banyak bangsa kami, saya bertanya pada diri sendiri, yang mampu untuk belajar di sekolah-sekolah seperti itu?” tulis Kardinah dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon tanggal 15 Juli 1911. Lebih lanjut, “Apakah itu adil? Atau apakah yang seharusnya menjadi contoh bisa membantu masyarakat pribumi untuk maju?”

Banyak priyayi, termasuk bupati Pemalang, tertarik dengan model pendidikan yang Kardinah lakukan di rumahnya. Mereka menitipkan anak-anak mereka. Bersama suaminya, yang pada 8 Juli 1908 diangkat jadi bupati Tegal, Kardinah berjuang mendirikan sebuah sekolah. “Kini suami dan saya mempunyai rencana untuk mendirikan sebuah sekolah sendiri bagi anak-anak pejabat bawahan dari sumbangan-sumbangan kolektif,” tulis Kardinah kepada Abendanon dalam suratnya tanggal 15 Juli 1911, sebagaimana dimuat dalam Surat-surat Adik R.A. Kartini karya Frits G.P. Jaquet.

Untuk mewujudkannya, Kardinah mengumpulkan dana dari penjualan bukunya; dua jilid buku memasak dan dua jilid buku mengenai batik. Dia juga mendapat bantuan dana dari istri Asisten Residen Tegal HM de Stuers, istri kontrolir Tegal E. van den Bos, dan istri Patih Tegal Raden Ayu Soemodirdjo. Kardinah lalu mendirikan sekolah kepandaian putri Wismo Pranowo (WP) pada 1 Maret 1916. Biaya operasional ditanggung masyarakat yang mampu, selain dari hasil pasar amal dan sumbangan. Segala keperluan sekolah diberikan secara cuma-cuma. Tiap murid hanya dibebankan uang sekolah 50 sen.

Mata pelajaran di WP antara lain bahasa Belanda, dasar pendidikan kebangsaan dan kebudayaan Jawa, Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), mengaji Alquran, membatik, dan pendidikan watak. Kardinah ikut mengajar. Begitu pula Ki Hajar Dewantoro. Meski menggunakan sistem pendidikan yang ditetapkan Kartini, WP bukan Sekolah Kartini karena biaya operasional tak ditanggung gubernemen.

Awalnya sekolah itu hanya menempati bekas gedung kantor kabupaten, dengan murid 150 orang. Tapi tahun 1924 sudah terdapat 200 murid dan enam ruang belajar. Banyak pihak tertarik dengan model pendidikan WP. Dewi Sartika, tokoh pendidikan Priangan, salah satunya. Bersama adiknya, Sari Pamerat, dia berkunjung ke Tegal untuk mempelajari sistem pendidikan WP. Mereka juga ikut mengajar selama empat bulan. Pemerintah akhirnya mengambil-alih sekolah itu dan mengubahnya jadi Kopschool (sekolah kejuruan bagi kaum perempuan) dan Onderbouwschool (sekolah rendah)– pada 24 Oktober 1924 dengan kompensasi f 16.000.

“Saya merasa ini sebagai tugas saya, tugas suci saya kepada saudari kami, yang dengannya kami pernah memimpikan mimpi itu, yang dengannya kami membangun cita-cita itu, dan menawarkan diri saya sekarang untuk tujuan yang kami selalu tuju, demi kebaikan kita semua,” tulis Kardinah dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon.

Bersama kakaknya, Sosro Kartono, Kardinah juga mendirikan sebuah perpustakaan yang diberi nama Panti Sastra. Dananya didapat secara swadaya.

Kardinah juga prihatin dengan kondisi kesehatan rakyat di Tegal, terutama ketika tahu murid-muridnya melahirkan tanpa dukungan tenaga dan fasilitas memadai. “Orang sakit kok ditidurkan di tikar, bagaimana itu?” ujar Kardinah tak puas. Dia mencurahkan perhatiannya pada dunia kesehatan, dengan membangun fasilitas kesehatan dan memperbaiki pengetahuan medis masyarakat yang kala itu lebih percaya pada klenik.

Pada 1927 Kardinah mendirikan Kardinah Ziekenhuis atau Rumah Sakit Kardinah. Dana dari kompensasi WP dan hasil penjualan buku-bukunya serta keuntungan penjualan kerajinan tangan buatan murid-murid WP. Residen Pekalongan Schilling termasuk orang yang mendukung niatnya dengan membantu pendanaan. Schilling pula yang minta rumah sakit itu dinamai Kardinah. Pemerintah pusat dan daerah ikut mensubsidi. Rumah Sakit Kardinah, "merupakan lambang pengabdian yang nyata dari Tiga Saudara kepada kemanusiaan, seperti yang mereka idam-idamkan bersama,” tulis Fatkhudin.

Tak lama kemudian Kardinah juga membangun sebuah rumah penampungan bagi orang-orang miskin di sekitar Kardinah Ziekenhuis.

Pemerintah Hindia Belanda mengapresiasi jasa-jasa Kardinah dengan menganugerahkan bintang Ridder van Oranje Nassau –pemerintah Indonesia sendiri pada 21 Desember 1969 menganugerahkan Lencana Kebaktian Sosial Republik Indonesia.

Tak lama setelah Indonesia merdeka, diikuti revolusi sosial di berbagai daerah, Kardinah dan keluarganya ditangkap Gerombolan Kutil. Kardinah dan keluarganya dianggap lambang feodalisme. Selain diancam akan dibunuh, mereka dipakaikan baju dari goni lalu diarak keliling kota. Sejak itu keberadaan Kardinah tak diketahui.

Menurut Anton Lucas dalam Peristiwa Tiga Daerah, setelah ditangkap dan diarak keliling kota, arak-arakan berhenti di depan RS Kardinah. Mereka lalu dibawa dengan sebuah truk ke Talang dan ditahan di rumah Wedana Adiwerna selama seminggu. Para priyayi Pekalongan dan perwira Tentara Keamanan Rakyat, yang menganggap tindakan Adiwerna tak sesuai norma-norma budaya Jawa, menyelamatkan Kardinah pada 13 November 1945. Kardinah lalu dibawa ke Salatiga.

Namun menurut Kardinah kepada Sumiati Sardjoe, istri walikota Tegal Sardjoe, kisahnya lain. Waktu dirinya diarak keliling kota, arak-arakan berhenti di depan Rumah Sakit Kardinah. Dia lalu pura-pura sakit dan dirawat. Malamnya dia diselamatkan orang-orang yang simpatik. Mereka membawanya ke Salatiga.

Titik terang datang pada 1970. Sumiati, yang gigih mencari keberadaan Kardinah, mendapat informasi ketika menghadiri pertemuan Gabungan Organisasi Wanita di Semarang: Kardinah tinggal di Salatiga. Awalnya dia tak bisa menemuinya karena Kardinah trauma setiapkali mendengar kata Tegal. Tapi akhirnya, setahun kemudian, Kardinah berkunjung ke Tegal atas undangan Sumiati. "Kedatangannya di Tegal disambut haru warga Tegal," tulis Fatkhudin. Kardinah memanfaatkan kunjungannya itu untuk berziarah ke makam suaminya.

Tak lama berselang, setelah kunjungannya itu, pada 5 Juli 1971 Kardinah wafat. Dia dimakamkan di samping makam suaminya.

Jual Buku Negara Marxis dan Revolusi Proletariat

Judul: Negara Marxis dan Revolusi Proletariat
Penulis: Nur Sayyid Santoso Kristeva, M.A
Penerbit: Pustaka Pelajar, 2011
Tebal: 1045 halaman (hard cover)
Kondisi: Buku baru (bagus)
Harga: Rp. 175.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Gagasan Marx tentang Negara sesungguhnya menjadi kunci penting untuk memahami pemikiran besar Marx secara menyeluruh. Sayangnya, Das Kapital, sebagai magnum opus Marx tidak secara eksplisit memaparkan dasar-dasar teoretik Negara meskipun sesungguhnya Marx telah memberikan kritik yang mendasar dan radikal mengenai permasalahan ekonomi politik dan konsep sejarah perkembangan masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh proses produksi kapital dan tidak bisa lepas dari gagasan tentang Negara. Dengan mengambil pengalaman sejarah dari tahun-tahun revolusi 1848-1851 sebagai landasannya, Marx secara konsisten membangun materialisme dialektika. Ajaran-ajaran itu sesungguhnya mengandung ikhtisar pengalaman yang disinari oleh suatu pandangan filsafat yang matang tentang dunia dan pengetahuan yang kaya mengenai Negara. Ajarannya mengandung penjelasan tentang masalah-masalah: bagaimana terjadinya Negara borjuis? Mesin-mesin Negara apa saja yang diperlukan oleh kekuasaan borjuis ditinjau dari segi sejarah? Perubahan-perubahan apa yang dialami olehnya? Evolusi apa yang dijalankannya dalam revolusi-revolusi borjuis dan dihadapan aksi-aksi independen dari kelas-kelas tertindas? Dan juga apa tugas-tugas proletariat dalam menghadapi mesin-mesin Negara ini?

Namun jawaban Marx belum merupakan rumusan yang eksplisit dan sistematis. oleh karena itu upaya untuk merumuskannya merupakan hal yang sangat penting. Marx adalah tokoh yang tidak dapat diabaikan dari sejaran dan pemikiran. Marxisme adalah konsekuensi logis dari Hegelianisme, bahkan filsafat pada umumnya. Bahwa perjuangan kelas proletariat dalam menjalankan tugas revolusioner memiliki peran penting dalam membentuk konsepsi negara Marx. Teori negara Marxis intinya bahwa negara adalah alat dari sebuah kelas yang berkuasa demi kepentingan kelas-kelas atas. Bahwa terbentuknya negara dideterminasi secara dialektis dalam proses sejarah pertentangan kelas dalam masyarakat.

Terkait dengan urgensi itulah buku ini ditulis. Buku ini berusaha menjawab secra sistematis bagaimana konsep pemikiran Karl Marx tentang negara dan revolusi sosial, dan bagaimana tugas-tugas proletariat di dalam revolusi sosial. Dalam buku ini penulis menganalisis ajaran Marx tentang negara dan tugas proletariat di dalam revolusi sosial. Diawali dari uraian tentang konsepsi Ideologi Marx, Konsepsi Negara Hegel, Marxis dan Engels. Negara adalah dominasi kelas berkuasa, maka untuk menciptakan tatanan sosialisme dibutuhkan peranan revolusioner proletariat dalam sejarah, dan puncak perjuangan kelas ini adalah diktatur proletariat untuk mempertahankan masyarakat sosialis. Kemudian penulis juga menganalisis dengan kritis bagaimana konsepsi revolusi sosialisme dalam proses perubahan sosial masyarakat. Serta bagaimana konsepsi tentang filsafat proletariat dalam tugasnya mendorong revolusi sosial. Konsepsi tentang filsafat proletariat memberikan dasar penting, dan menjadi jalan penghubung kepada Teori Negara Marxis. Namun demikian apa yang disajikan dalam buku ini lebih dari sekedar sistematisasi gagasan Marx tentang Negara. Dengan metode hermeneutis-interpretatif dan pendekatan kritis-filosofis serta heuristika, penulis menawarkan pemahaman baru terhadap dimensi pemikiran filsafat sosial dan politik tentang Negara dan revolusi sosial menurut Karl Marx. Tawaran ini menjadi penting—tidak berarti kita menelannya bulat-bulat—ketika sejarah hari ini mencatat bahwa Negara semakin vulgar menunjukkan diri sebagai alat kepentingan penguasa dan pemodal.

Jual Buku Ruh dan Jiwa: Tinjauan Filosofis dalam Perspektif Islam

Judul: Ruh dan Jiwa: Tinjauan Filosofis dalam Perspektif Islam
Penulis: Imam ar-Razi
Penerbit: Risalah Gusti, 2000
Tebal: 362 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Harga: Rp. 80.000 (blm ongkir)
Order: SMS 085225918312

Jual Buku Ibadah Perspektif Sufistik

Judul: Ibadah Perspektif Sufistik
Penulis: Imam al-Ghazali
Penerbit: Risalah Gusti, 1999
Tebal: 190 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 40.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Ibadah dalam pengertian islam bukan semata-mata melaksanakan ritus yang diwajibka, seperti sholat, menunaikan zakat dsb. Lebih jauh dari itu, ibadah adalah berserah diri sepenuhnya kepada Allah, melaksanakan kehendak-Nya melalui jalan dan cara yang telah ditetapkan-Nya.

Inti dari semua itu adalah ibadah dalam bentuk ritual dan dengan itulah satu-satunya kunci untuk melaksanakan ibadah yang penuh makna. Ibadah yang menggali dimensi ruhaniah dan ritus peribadatan. Ruhani disini tidak dimaksudkan sebagai pemilahan antara aspek ruhani dan jasmani. Karenanya, merupakan aspek ritual yang tak terpisahkan.

Buku di tangan pembaca ini merupakan saduran Muhtar Holland dalam edisi inggris dari karya monumental Imam Al-Ghozali, Ihya' Ulumuddin, yang semoga menghantarkan pembaca ke dalam perspektif ibadah yang benar.

Jual Buku Tafsir Esoteris Gazali dan Sam'ani

Judul: Tafsir Esoteris Gazali dan Sam'ani
Penulis: Nicholas Heer & William C. Chittick
Penerbit: Pustaka Sufi, 1999
Tebal: 104 halaman (kecil)
Kondisi: Stok lama (cukup)
Harga: Rp. 10.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312



Tafsir esoteris tidak bertentangan dengan tafsir eksoteris. Tafsir eksoteris harus dikuasasi dulu sebelum melakukan tafsir esoteris. Tak ada harapan bisa mencapai aspek batin Al-Quran sebelum menguasai aspek lahirnya.

Jual Buku Penyair Wanita Sufi: Rabiah Al-Adawiyah

Judul: Penyair Wanita Sufi: Rabiah Al-Adawiyah
Penulis: Muhammad Atiyah Khamis
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1994
Tebal: 97 halaman
Ukuran: agak kecil
Kondisi: Buku stok lama (cukup)
Harga: Rp. 20.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312



Ketenaran Rabi'ah telah tersebar ke mana-mana, sampai menjangkau eropa. Para sarjana Barat sangat kagum akan sejarah hidup wanita yang saleh ini, lebih-lebih karena ia seorang yang tidak pernah menginjakkan kakinya di perguruan tinggi ternama. Namun buah renungannya kaya akan ilmu yang mendalam sehingga para sarjana itu sangat menaruh minat unutk meneliti buah pikirannya. Banyak sarjana Barat yang telah menulis riwayat hidup dan gagasan-gagasannya, diantaranya, margaret Smith yang telah menulis sebuah buku berjudul Rabi'ah dan sufi-sufi wanita dalam Islam buku itu diterbitkan di Cambridge, tahun 1928. Tak kurang pentingnya adalah penelitian yang dilakukan Masignon. Menurut Masignon, Rabi'ah telah mewariskan suatu peninggalan yang tak ternilai harganya. Ilmuwan Barat lainnya, Nicholson, menyatakan, Rabi'ah telah merintis jalan sehingga membangkitkan minat orang terhadap kehidupan sufi.

Jual Buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia

Judul: Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia
Penulis: Azyumardi Azra.
Penerbit: Prenada Media, 2005
Tebal: 466 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Harga: Rp. 125.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Buku yang berjudul asli “The Transmission of Islamic Reformism to Indoesia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama’ in the Seventeenth and Eighteenth Centuries”, adalah merupakan disertasi saudara Azyumardi Azra yang diajukan kepada Departemen Sejarah, Columbia University, New York, pada akhir tahun 1992, guna memperoleh gelar Ph.D. Dalam penelitiannya ini, Dr. Azyumardi Azra telah menghabiskan waktu yang cukup lama, yakni lebih dari dua tahun. Guna mendapatkan data-data yang akurat, maka saudara peneliti telah melakukan kunjungan ke berbagai daerah, seperti Banda Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Ujung Pandang, New York City, Kairo, Madinah, Makkah, Leiden dan Ithaca (New York State), sebagai derah-daerah yang dianggap memilki keterkaitan baik secara langsung maupun tidak, dengan tema penelitian yang sedang dilakukannya.

Dikemukakan lebih jauh, bahwa penelitian ini adalah merupakan langkah awal dalam menyelidiki sejarah sosial dan intelektual ulama dan pemikiran Islam di Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran Islam di pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah. Sehingga setelah diselesaikannya penelitian ini, peneliti masih memiliki obsesi yang sangat besar guna meneruskan penelitian lanjutan dalam tema ini, di masa-masa berikutnya.

Hasil penelitian ini, dapat dikatakan merupakan sebuah karya komprehensif tentang transmisi gagasan–gagasan keagamaan, khususnya gagasan pembaharuan dari pusat-pusat keilmuan Islam, ke bagian-bagian lain Dunia Muslim dipenjuru dunia. Karena tidak mungkin, pembaharuan yang terjadi di berbagai negara Muslim ini tanpa adanya mata rantai yang sambung dengan pusat pertumbuhan dan perkembangan Islam di Timur Tengah.
 
Sejauh ini, tidak terdapat kajian komprehensif tentang jaringan ulang Timur Tengah dan Nusantara. Meski terdapat kajian-kajian penting tentang beberapa tokoh ulama Melayu-Indonesia pada abad ke-17 dan ke-18, tetapi tak banyak upaya dilakukan untuk mengkaji secara kritis sumber-sumber pemikiran mereka, dan khususnya tentang bagaimana gagasan dan pemikiran Islam mereka transmisikan dari jaringan ulama yang ada dan bagaimana gagasan yang mereka transmisikan itu mempengaruhi perjalanan historis Islam di Nusantara. lebih jauh, ketika jaringan keilmuan itu sedikit disinggung, kajian-kajian yang ada lebih berpusat pada aspek " organisasional" jaringan ulama di Timur Tengah dengan mereka yang datang dari bagian-bagian lain Dunia Muslim.

Tidak ada kajian yang membahas "kandungan intelektual" yang terdapat dalam jaringan ulama tersebut. Padahal, kajian tentang aspek intelektual ini sangat penting untuk mengenahui bentuk gagasan dan ajaran yang ditransmisikan melalui jaringan ulama.

Tampaknya inilah buku pertama yang menggunakan sumber-sumber Arab secara ekstensif dalam pengkajian yang berkenaan dengan sejarah pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Buku ini adalah edisi revisi yang lebih singkat dari disertasi Ph.D yang diajukan ke Departemen Sejarah, Columbia University, New York, pada akhir 1992. Karena itu, pembaca yang ingin memanfaatkan edisi lengkap karya ini, dipersilahkan melihat disertasi aslinya. Disertasi ini sendiri merupakan hasil penelitian selama lebih dari dua tahun di berbagai tempat dan perpustakaan, sejak dari Banda Aceh, jakarta, Ujung Pandang, Yogyakarta, Kairo, Makkah, Madinah, Leiden, New York City sampai ke Ithaca (New York State).

Karya ini merupakan langkah awal dalam upaya menyelidiki sejarah sosial dan intelektual ulama dan pemikiran Islam di Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran Islam di pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah.

Jual Buku Kajian Bahasa Melayu-Betawi

Judul: Kajian Bahasa Melayu-Betawi
Penulis: C. D. Grijns
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti, 1991
Tebal: 298 halaman
Kondisi: Buku stok lama (cukup)
Harga: Rp. 70.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312

Jual Buku Kekuasaan dan Hiburan (Garin Nugroho)

Judul: Kekuasaan dan Hiburan
Penulis: Garin Nugroho
Penerbit: Bentang Budaya, 1998
Tebal: 194 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Stok Kosong


Buku yang berisi kumpulan artikel yang ditulis sutradara terkenal Garin Nugroho. Artikel banyak membahas kritik film dan program televisi di Indonesia.

Jual Buku Sejarah Filsafat Barat

Judul: Sejarah Filsafat Barat
Penulis: Bertrand Russel
penerbit: Pustaka Pelajar
Tebal: 1136 halaman (hard cover)
Kondisi: Buku baru (bagus)
Harga: Rp. 175.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


 DAFTAR ISI :

BUKU I. FILSAFAT KUNO

Bagian I. Zaman Pra-Sokrates
Bab 1. Lahirnya Peradaban Yunani
Bab 2. Mazhab Milesain
Bab 3. Pythagoras
Bab 4. Heraklitus
Bab 5. Parmenides
Bab 6. Empedokles
Bab 7. Athena dan Hubungannya dengan Kebudayaan
Bab 8. Anaxagoras
Bab 9. Kaum Atomis
Bab 10. Protagoras

Bagian II. Sokrates, Plato dan Aristoteles
Bab 11. Sokrates
Bab 12. Pengaruh Sparta
Bab 13. Beberapa Sumber Gagasan Plato
Bab 14. Plato dan Negara Utopia
Bab 15. Teori Ide
Bab 16. Teori Plato tentang Imortalitas
Bab 17. Kosmogoni Plato
Bab 18. Pengetahuan dan Persepsi dalam Filsafat Plato
Bab 19. Metafisika Aristoteles
Bab 20. Etika Aristoteles
Bab 21. Politik Aristoteles
Bab 22. Logika Aristoteles
Bab 23. Fisika Aristoteles
Bab 24. Matematika dan Astronomi YUnani Awal

Bagian III. Failsafat Kuno Pasca-Aristoteles
Bab 25. Dunia Hellenistis
Bab 26. Kaum Sinis dan Kaum Skeptis
Bab 27. Kaum Epikuren
Bab 28. Stoisisme
Bab 29. Imperium Romawi dan Hubungannya dengan Kebudayaan
Bab 30. Plotinus

BUKU II. FILSAFAT KATOLIK

Pengantar

Bagian I. Para Bapa
Bab 1. Perkembangan Agama Bangsa Yahudi
Bab 2. Kristianitas di Sepanjang Empat Abad Permulaan
Bab 3. Tiga Dokter Gereja
Bab 4. Filsafat dan Teologi Santo Agustinus
            A. Filsafat Murni
            B. Kota Allah
            C. Kontroversi Pelagian
Bab 5. Abad Kelima dan Keenam
Bab 6. St. Benedict dan Gregory Yang Agung

Bagian II. Para Filsuf Abad Pertengahan
Bab 7. Kepausan dalam Abad Kegelapan
Bab 8. John The Scot
Bab 9. Reformasi Gereja Pada Abad Kesebelas
Bab 10. Kebudayaan dan Filsafat Islam
Bab 11. Abad Keduabelas
             A. Konflik Kaisar dengan Paus
             B. Lahirnya KOta-KOta Lombard
             C. Perang Salib
             D. Tumbuhnya Skolastisisme
Bab 12. Abad Ketigabelas
Bab 13. St Thomas Aquinas
Bab 14. Kaum Skolastik Franciscan
Bab 15. Kemunduran Lembaga Kepausan

BAKU III. FILSAFAT MODERN

Bagian I. Dari Renaisans Sampai Hume
Bab 1. Ciri-ciri Umum
Bab 2. Renaisans Italia
Bab 3. Machiavelli
Bab 4. Erasmus dan More
Bab 5. Reformasi dan Kontra-Reformasi
Bab 6. Bangkitnya Sains
Bab 7. Francis Bacon
Bab 8. Leviathan Hobbes
Bab 9. Decartes
Bab 10. Spinoza
Bab 11. Leibniz
Bab 12. Liberalisme Filosofis
Bab 13. Teori Pengetahuan Locke
Bab 14. Filsafat Politik Locke
             A. Prinsip Keterwarisan
             B. Negara Alami, dan Hukum Alam
             C. Kesepakatan Sosial
             D. Hak Milik
             E. Pengawasan dan Penyetimbangan
Bab 15. Pengaruh Locke
Bab 16. Berkeley
Bab 17. Hume
Bab 18. Gerakan Romantisme
Bab 19. Rousseau
Bab 20. Kant
             A. Idealisme Jerman secara Umum
             B. Uraian Umum tentang Filsafat Kant
             C. Teori Kant tentang Ruang dan Waktu
Bab 21. Pernikahan Mutakhir di Abad Kesembilanbelas
Bab 22. Hegel
Bab 23. Byron
Bab 24. Schopenhauer
Bab 25. Nietzsche
Bab 26. Utilitarian
Bab 27. Karl Marx
Bab 28. Bergson
Bab 29. William James
Bab 30. John Dewey
Bab 31. Filsafat Analisis Logis. 

Jual Buku Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje Jilid VI: Karangan-karangan Mengenai Arab dan Turki

Judul: Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje Jilid VI: Karangan-karangan Mengenai Arab dan Turki
Penulis: Snouck Hurgronje
Penerbit: INIS, 1995
Tebal: 174 halaman (ukuran agak besar)
Kondisi: Buku bekas (cukup)
Terjual Solo


Daftar Isi :
-Tarekat agama, mekah dan pan-islamisme, 1900
-Kekhalifahan sultan konstantinopel, 1901
-Turki muda kenang-kenangan dari istambul 25 Juli-23 September 1908
-Perang suci "buatan jerman", 1915
-Jerman dan perang suci, 1915
-Perang suci dan penyebaran agama, 1915
-Para jemaah haji dan peperangan, 1915
-Revolusi di tanah arab, 1916
-Sebuah dokumen penting mengenai perang suci islam (1914) dan sebuah -pembetulan resmi, 1917
-Politik Qatadah dalam pengasingan Hijaz secara sempurna, 1920
-Arti kekhalifahan, 1923

Jual Buku Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje Jilid III: Tulisan Mengenai Hukum Islam

Judul: Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje Jilid III: Tulisan Mengenai Hukum Islam
Penulis: Snouck Hurgronje
penerbit: INIS, 1995
Tebal: 204 halaman (ukuran agak besar)
Kondisi: Buku bekas (cukup)
Terjual Solo

Jual Buku Berahi Jean Baudrillard

Judul: Berahi
Penulis: Jean Baudrillard
Penerbit: Bentang Budaya, 2000
Tebal: 312 halaman
Kondisi: Stok lama (cukup)
Stok Kosong


Jean Baudrillard akan lebih baik dengan setiap kata. Tidak seorang pun pernah menjelaskan rayuan dengan perbaikan tersebut dan kefasihan. "Untuk tidak ada yang bisa lebih besar dari rayuan, dari rayuan itu sendiri, bahkan tidak urutan yang menghancurkan itu".

Baudrillard dalam teks ini menjadi tantangan bagi pertanyaan psikoanalisa dari anatomi (tubuh manusia) menjadi takdir dengan pembebasan seks. Seduction selalu dikategorikan sebagai tindakan memikat konklusif terhadap seks, sebuah forte feminin. Jika demikian, maka bagaimana mawar merah bila articulately ditempatkan dalam sebuah karangan bunga terlihat memikat? Rayuan sebagai titik Baudrillard keluar adalah permainan ritual dan simulasi yang mengatur politik, kehidupan sosial, budaya, jenis kelamin dan bahkan kematian. Rayuan adalah abadi, permainan pikiran yang dimainkan tanpa aturan tetapi dengan akurasi belaka yang pesona, menangkap dan menarik kerentanan terdalam menyebabkan keruntuhannya. Ini adalah ilusi yang menyembunyikan kebenaran membingungkan menciptakan berlebihan dan lingkungan menipu.

Dengan referensi untuk 'Diary of a Penggoda' s Kierkegaard, stereo-pornografi, cyclorama vagina Jepang dan lainnya terang-terangan menampilkan kesenangan seksual, Baudrillard penekanan yang bertindak seks, fetishes dan obsesi menyebabkan kematian rayuan bermutasi bentuk berbahaya dari penyimpangan.

Ini adalah buku yang brilian nubuat bahwa meskipun rayuan hari ini tumbuh subur di sisa-sisa bayangan, itu akan meningkat seperti phoenix dan menjadi takdir tak terelakkan manusia. Sesuai judulnya, saya tidak bisa melepaskan buku bahkan setelah membaca kata terakhir.

Jual Buku Bangsawan dan Kuasa: Kembalinya Para Ningrat di Dua Kota

Judul: Bangsawan dan Kuasa: Kembalinya Para Ningrat di Dua Kota
Penulis: AA. GN. Ari Dwipayana
penerbit: IRE Press, 2004
Tebal: 184 halaman
Kondisi: Buku baru stok lama (bagus)
Harga: Rp. 50.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312

Jual Buku Gerakan 30 September 1965: Kesaksian Letkol (PNB) Heru Atmodjo

Judul: Gerakan 30 September 1965: Kesaksian Letkol (PNB) Heru Atmodjo
Editor: Garda Sembiring
Penerbit: Hasta Mitra, 2004
Tebal: 327 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Stok Kosong


Buku Heru Atmodjo ini bagus bila disandingkan dan dibandingkan dengan buku yang diterbitkan sebelumnya oleh AURI. Bila ada fakta yang bertentangan, kita perlu melakukan cek-silang. Di sini letak pentingnya sejarah lisan memberikan kesempatan kepada korban untuk bersuara, meskipun mungkin suara itu berbeda.
- Asvi Warman Adam


Jual Buku Mitologi dan Toleransi Orang Jawa

Judul: Mitologi dan Toleransi Orang Jawa
Penulis: Benedict R.O.G. Anderson
Penerbit: Qalam, 2000
Tebal: 172 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Stok Kosong



Ini buku yang sangat berharga, dicetak selama lebih dari tiga puluh tahun, memberikan kontribusi yang langgeng untuk pemahaman kita tentang masyarakat Jawa. Insight datang melalui analisis wayang (wayang Jawa), tidak hanya sebagai teater tetapi dalam konteks sosial yang lebih luas. Edisi revisi telah sepenuhnya diformat ulang dan kualitas karya seni yang kaya telah ditingkatkan.

Lakon wayang yang memiliki pluralisme moralitas pada saat buku ini dituliskan sedang mengalami perubahan: menjadi sesuatu yang semata oposisional. Padahal dalam pengamatan Ben Anderson ketika itu ada toleransi Jawa yang berbeda, dengan hadirnya pluralisme moralitas itu. Bukan semata Kurawa vs Pandawa tetapi juga masalah pantes , yang menjadi salah satu konsep kunci dalam toleransi ala Jawa.

Perubahan itu dicurigai datang dari pengaruh "asing" maupun konstelasi politik lokal yang sering menggunakannya sebagai propaganda kepentingan kelompok. Di sini muncul Arjuna yang melankolis, Yudhistira yang tidak diidolakan oleh masyarakat luas karena dianggap kurang berperan dengan "hanya" kebijaksanaannya, dibandingkan kesaktian saudaranya yang lain. Kecintaan Wibisana kepada kebenaran kurang digemari dibandingkan dengan nasionalisme "benar salah negaraku-nya" Komabakarna. Padahal sebelumnya setiap tokoh menempati kepantesannya sendiri-sendiri bahkan untuk tokoh semacam Baladewa yang emosional dan sering dikerjai Kresna saudara mudanya itu demi membela kepentingan Pandawa. Kresna yang memiliki nuansa Machiavelian dalam pemikirannya ditafsirkan semata realisme politik yang kejam.

Dalam buku terjemahan yang tipis yang saya baca sepanjang perjalanan kereta berhiaskan hijaunya sawah, betapa saya malu untuk bilang wayang yang saya pahami sama dengan wayang yang dahulu pernah disaksikan pada zaman sebelum Anderson menulis buku ini. Parahnya pergeseran penting ini tidak disadari.

Semangat itu lenyap, bersisa kerisauan Anderson yang bisa jadi hanya bermodal awal kuriusitas akademis. Kerisauan yang keluar dari mulut orang luar, bukan dari mereka yang mengaku pewaris budaya ini.

Jual Buku Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi

Judul: Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi
Penulis: Dr. Mansour Fakih
Penerbit: Pustaka Pelajar, 2002
Tebal: 262 halaman
Kondisi: Buku bekas (cukup)
Harga: Rp. 35.000 (belum ongkir)
Terjual Bogor


Ini buku yang sarat menyajikan teori-teori perubahan sosial alternatif sebagai tandingan dari teori pembangunan, dari mulai yang beraliran kanan, kiri, hingga “jalan ketiga” — kritik dan perdebatan di antara teori-teori tersebut.

Namun, yang lebih esensial, buku “Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi” ini mengupas tuntas persoalan kegagalan pembangunanisme. Di buku ini dipertanyakan, apakah tudingan-tudingan itu benar atau memang pembangunanisme telah gagal sebagai sebuah teori atau paradigma yang akan membawa perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih adil sejahtera.

Dalam kata pengantar buku ini, dikemukakan pula di mana letak kegagalan teori pembangunan, sekaligus kritik-kritik terhadap teori pembangunan, termasuk fenomena terbaru dari pembangunanisme yaitu globalisasi kapitalisme. Konon yang paling dicemaskan dari gagasan pembangunanisme bukanlah kegagalannya, melainkan justru keberhasilannya. Karena keberhasilan pembangunanisme akan mengantarkan dunia pada perspektif tunggal, yang secara budaya dianggap menghancurkan peradaban manusia.

Pembangunan memang disebut-sebut sebagai paradigma dan teori perubahan sosial yang sangat diagung-agungkan oleh banyak pemerintahan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Padahal, dewasa ini pembangunan berada pada masa krisis dan mengalami kegagalan penerapan di berbagai negara Dunia Ketiga. Tudingan menyoal kegagalan itu banyak dialamatkan pada korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjangkiti pemerintah negara Dunia Ketiga.

Sebagaimana dikatakan penulisnya, buku ini ditulis melalui proses yang panjang, dikumpulkan dan dikonstruksi dari catatan-catatan yang tercecer. Buku ini merupakan kesaksian dan refleksi dari perjalanan dan keterlibatan penulis bersama para praktisi lapangan di kalangan aktivis Ornop. Keterlibatan selama perubahan sosial di tingkat akar rumput di Indonesia selama hampir tiga dasawarsa.

Oleh karena itu, kata penulisnya, buku ini bukan bermaksud menjelaskan secara akademis teori-teori perubahan sosial ataupun teori pembangunan. Buku ini bukan pula hasil dari studi empirik mengenai bagaimana teori perubahan sosial dan teori pembangunan diterapkan di lapangan. Sepenuhnya buku ini adalah semacam kesaksian, pengakuan dan refleksi terhadap proses perubahan sosial. Ia juga merupakan narasi perihal teori perubahan sosial dan teori pembangunan termasuk bagaimana penerapan secara implikasinya di masyarakat.

Ketika pertama kali diterbitkan pada 2001, buku ini langsung mendapat sambutan yang luas dan hangat dari pembaca. Selain karena merupakan salah satu buku pertama yang “mempreteli” pembangunanisme di Indonesia, juga karena sang penulis, Mansour Fakih, bersama dengan INSIST-nya merupakan pelopor “transformasi sosial” — sebagai sebuah paradigma dan teori tandingan dari “pembangunan” — untuk mencapai perubahan sosial menuju tatanan masyarakat baru yang adil sejahtera tanpa eksploitasi.

Setidaknya, kehadiran buku ini bisa menyegarkan dahaga para pemerhati, praktisi, maupun siapa saja yang selalu peduli pada perubahan sosial di Indonesia.

Buku Biografi Mahfud MD: Terus Mengalir

Judul: Biografi Mahfud MD: Terus Mengalir
Penulis: Rita Triana Budiarti
Penerbit: Konstitusi Press, Jakarta, 2013
Tebal: 646 halaman


Suatu hari di awal November 1999, seorang beretnis India bertandang ke kantor Mahfud. Waktu itu, Mahfud menjabat sebagai Pembantu Rektor I Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Melihat Mahfud, orang itu lalu melihat tangan Mahfud dan berkata, "Sebentar lagi Bapak mau pindah ke Jakarta." Mahfud bingung. Bagaimana mungkin. Ia sudah menetap dan menjadi pegawai negeri sipil di Yogyakarta. Lagi pula, ia tak percaya ramalan. "Bapak diperlukan oleh negara. Ini sebentar lagi, minggu ketiga Bapak akan mendapat kejutan promosi," kata orang itu meyakinkan.

Tamu itu lalu mengeluarkan sebuah batu warna hijau. Ukurannya kecil, hanya seruas jari kelingking. Ia mengatakan, batu itu ia bawa dari Sungai Gangga. Diberikannya batu hijau itu kepada Mahfud. "Bapak pegang saja. Nanti, suatu saat diperlukan, mungkin Bapak ingat saya," katanya. Karena tak percaya ramalan mirip dongeng itu, usai tamunya pulang, Mahfud membuang batu hijau itu ke tempat sampah.

Tiga minggu kemudian, seorang pegawai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menelepon Mahfud. Ia mengatakan bahwa Dewan Guru Besar Dirjen Dikti menyetujui Mahfud untuk menjadi guru besar. SK-nya pun sudah turun. "Kini Bapak guru besar," kata pegawai itu.

Terang saja Mahfud kaget. Ia yang baru golongan lektor muda langsung meloncat ke puncak tertinggi profesi dosen menjadi guru besar. Promosi ini menjadikannya sebagai guru besar termuda saat itu, usia 41 tahun. Mahfud langsung teringat pada batu hijau dan ramalan orang India itu. Jangan-jangan orang itu benar, batinnya.

Sebulan kemudian, Mahfud ditelepon Hasballah M. Saad, yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Negara Urusan HAM. Hasballah meminta Mahfud menjadi staf ahli di bidang peraturan perundang-undangan HAM. Lagi-lagi Mahfud teringat pada batu hijau dan ramalan itu. Penasaran, ia pun membongkar tempat sampah tempat batu hijau dibuangnya dulu. Tentu saja usahanya sia-sia, karena tempat sampah itu dibersihkan setiap hari.

Seperti sudah ada yang mengatur, berbagai "tawaran" pun terus datang. Pada 15 Agustus 2001, ajudan Gus Dur menelepon Mahfud. Gus Dur yang saat itu menjadi presiden Kabinet Persatuan Nasional ingin ketemu Mahfud dan menawari jabatan Menteri Pertahanan. Sejak itu, hidup dengan berbagai kewajiban yang harus diembannya seperti mengalir. Sampai kemudian, dirinya dilantik menjadi Ketua Hakim Konstitusi pada 19 Agustus 2008.

Ditulis oleh mantan wartawan Gatra, memakai data hasil wawancara intensif dengan Mahfud dan sejumlah tokoh, didukung dengan berbagai arsip, dan rampung dalam waktu lima bulan, buku ini dibagi ke dalam lima bab. Masa kecil Mahfud, sejak masih dalam kandungan hingga Mahfud menjadi besar dan menyukai filsafat Kho Ping Ho, dituangkan di bab pertama.

Bab kedua menceritakan perjuangan Mahfud bersekolah di Yogyakarta, tertarik menjadi wakil Tuhan di dunia dengan bercita-cita menjadi hakim, hingga ia menjadi guru besar termuda. Bab ketiga berkisah tentang perjalanan karier Mahfud di Jakarta hingga demisioner dari posisi Menteri Kehakiman dan HAM. Aktivitas Mahfud terjun ke partai politik diceritakan pada bab berikutnya. Sedangkan bab kelima berkisah tentang perjalanan Mahfud menjadi hakim konstitusi.

Saat buku itu diluncurkan Senin pekan lalu di aula Mahkamah Konstitusi, sejumlah tokoh penting menghadirinya. Siang itu, Pramono Anung (Wakil Ketua DPP PDIP), Prof. Laica Marzuki (mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi), budayawan Emha Ainun Nadjib, dan Prof. Hikmahanto Juwana (guru besar hukum internasional Universitas Indonesia) hadir membahas buku tersebut.

Pramono menanggapi kisah cinta pertama Mahfud dengan Zaizatun Nihayati. "Saya baru tahu cinta pertama Pak Mahfud dengan Mbak Yati memakai vespa merah ini. Pak Mahfud tidak pernah pacaran dengan siapa pun. Terus terang di bagian ini saya nggak yakin," kata Pramono, disusul gelak tawa audiens.

Bagi Laica, Mahfud adalah penegak hukum sejati. Pemikiran Mahfud kerap bertolak belakang dengan teori hukum yang ada. Namun pemikiran Mahfud bermanfaat bagi masyarakat luas. Sementara itu, Emha Ainun Nadjib mengatakan bahwa tugas Mahfud ke depan ada tiga pilihan.

Pertama, jika tidak ada perubahan cara berpikir yang signifikan, pilihan Mahfud menjadi presiden. Jika kemungkinan ada perubahan cara berpikir politik yang kemudian dielaborasi menjadi lebih tinggi, maka dibutuhkan konsep kenegarawanan figur begawanan, dan Mahfud akan menjadi ketua dewan negara. Sedangkan pilihan ketiga, Mahfud harus mencari perahu untuk menyusuri Sungai Bengawan Solo. "Judul buku ini belum selesai. Kalau dinyanyikan, kan terus mengalir sampai jauh," kata Emha sambil melantunkan lagu Bengawan Solo.

Sementara itu, Hikmahanto mengatakan bahwa Mahfud orang biasa. Padahal, biasanya orang-orang yang memilih jurusan hukum adalah orang yang super-elite yang lahir dari orangtua yang elite. Namun, sebagai orang biasa, Mahfud tahu apa yang menjadi kegelisahan di masyarakat. "Mahfud tidak bisa membiarkan ketidakadilan, kegundahan, dan kegelisahan terus-menerus ada di masyarakat," kata kawan dekat Mahfud ini.

Mahfud sendiri memuji usaha sang penulis. Demi buku ini, penulis mengunjungi langsung kampung Mahfud di Madura dan Yogyakarta serta sekolahnya dulu. "Buku ini bisa menggambarkan yang sesungguhnya dengan cara penulisan yang bisa dinikmati semua orang, baik orang biasa, pejabat tinggi, anak SMA, maupun profesi berbeda-beda," kata Mahfud.

Hayati Nupus

Jual Buku Miss Lu: Putri Cina yang Terjebak Konflik Etnik dan Politik

Judul: Miss Lu: Putri Cina yang Terjebak Konflik Etnik dan Politik (novel)
Penulis: Naning Pranoto
penerbit: Grasindo, 2004
Tebal: 264 Halaman
Kondisi: Buku stok lama (bagus)
Harga: Rp. 40.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Ceritanya sebetulnya sangat sederhana, menceritakan seorang seniman muda bernama Bismo, yang sudah melalang buana keluar negeri mementaskan kebudayaan Jawa. Namun sayang hal ini kurang disambut baik oleh tunangannya –Sinta, yang menanggap bahwa kehidupan seniman itu madesu (masa depan suram) sehingga memcoba berbisnis kue yang ternyata lumayan maju, menambah tekanan-tekanan menuju pernikahan mereka kian terasa sulit. Beda sekali dengan ibu Bismo dan juga kedua calon mertuanya –Tante Utari dan Om Handoko, yang sangat mendukung aktifitas Bismo di dunia kesenian, dan sudah tidak sabar bermantukan Bismo.

Secara tidak sengaja, ketika akan pulang dari Belanda, di bandara Schipol, Bismo berkenalan dengan seorang wanita cantik bernama Bella Margarita Alexandra Gomez-Lu (Miss Lu) yang secara langsung meminta bantuannya untuk mendatangkan omanya ke Indonesia, Oma Miss Lu, memiliki pengalaman sejarah yang kelam, apalagi dengan statusnya yang keturunan, sehingga kian mempersulit kehidupannya pada saat itu (tahun 1950-an).

Sepanjang kisah novel ini, penuh dengan upaya Miss Lu muda untuk mendatangkan Miss Lu tua ke Indonesia untuk mengenang kisah-kisah kehidupannya dimasa yang lalu.

Gaya pengambaran mbak Naning hampir sama dengan yang biasa dilakukan oleh Om Remy Syilado. Banyak menggunakan bahasa-bahasa asing (inggris, jawa dan sedikit bahasa cina), selain itu juga pengetahuan mbak Naning mengenai negara-negara lain cukup memadai, sehingga ketika membaca novel ini kita seperti seolah dihadapkan langsung dengan apa yang dituturkan.

Pengetahuan sejarahnya juga hampir sama seperti Om Remy. Dalam Miss Lu, juga sempat di ceritakan sedikit mengenai kembang jepun (yang diceritakan secara detail oleh Om Remy, dalam novelnya yang berjudul sama), dan juga sejarah kehidupan masyarakat cina di zaman lalu.

Aku suka penggambara novel ini yang sederhana (lebih sederhana dibandingkan dengan Om Remy) makanya novel ini bisa aku santap dengan sekali duduk. Kekurangannya, menurutku lebih kepada tokoh Miss Lu muda yang diceritakan hampir tanpa cela, karena sebagaian orang menganggap ini bisa juga dijadikan titik kelemahan. Yaaa... hampir sama dengan tokoh Fahri di Ayat-ayat Cintalah....

oh ya, ending novel ini cukup mengejutkan dan menyenangkan. Hmm... untuk kenikmatan bagi yang belum baca, aku sengaja tidak menceritakannya secara detail. Novel ini cukup berbobot dan berisi, karena terselip berbagai inforasi menarik didalamnya.

Jual Buku Novel Kabar dari Penjara

Judul: Kabar dari Penjara (novel)
Penulis: Nawal el Sa'dawi
Penerbit: Tarawang, 2000
Tebal: 160 halaman
Kondisi: Stok lama (cukup)
Terjual Kosong


Dalam Kabar dari Penjara terlihat juga bagaimana karakter pemberontakan Nawal sangat kental. Dalam novel itu Nawal mengisahkan tentang sesosok perempuan muda, seorang sarjana, yang punya obsesi serta idealisme yang tinggi. Tapi apa yang dicita-citakannya itu berbenturan dengan realitas sosial yang terjadi, di mana ketidakadilan dan penindasan seperti menjadi kelaziman.

Jual Buku Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia

Judul: Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia
Penulis: Taufik Abdullah
Penerbit: LP3ES, 1987
Tebal: 291 Halaman
Kondisi: Buku bekas (cukup)
Harga: Rp. 60.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312

Jual Buku Islam Pasar keadilan: Artikulasi Lokal, Kapitalisme dan Demokrasi

Judul: Islam Pasar Keadilan: Artikulasi Lokal, Kapitalisme dan Demokrasi
Penulis: Robert W. Hefner
Penerbit: LKiS, 2002
Tebal: 353 halaman
Kondisi: Buku stok lama (cukup)
Harga: Rp. 70.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312



Ernest Gellner, seorang filsuf dan antropolog sosial asal Inggris, mengatakan bahwa Islam politik adalah musuh abadi pluralisme dan kebebasan sipil serta gagal mendukung asosiasi-asosiasi tandingan. Islam politik bagi Gellner lebih mengedepankan hukum-hukum Tuhan yang cenderung membunuh kebebasan dan pluralisme sosial.

Untuk kasus Indonesia, benarkah demikian? Persoalan hubungan antara Islam dan cita-cita terciptanya masyarakat yang demokratis merupakan persoalan yang tak pernah kehilangan nilai aktualitasnya. Islam Indonesia secara kuantitatif mewakili lebih dari 80% masyarakat, sehingga peranan Islam untuk menciptakan masyarakat demokratis tidak dapat disepelekan. Hanya saja, persoalannya adalah apakah Islam politik dalam kasus Indonesia mendukung bagi upaya peningkatan dukungan sosial bagi demokrasi, toleransi, dan penegakan hak-hak asasi manusia, ataukah sebaliknya?

Robert W. Hefner melalui buku terbarunya ini secara tegas menampik segala jenis universalisasi dan berbagai simplifikasi yang stereotip terhadap Islam politik, seperti tercermin dalam pandangan Gellner di atas. Bagi Hefner, tidak ada satu penjelasan tunggal bagi fenomena-fenomena sosial semisal masalah Islam dan demokrasi, kapitalisme, masyarakat sipil, atau tentang Orde Baru. Masing-masing kisah menurut Hefner memiliki kekuatan-kekuatan potensial berupa artikulasi-artikulasi lokal yang saling tarik-menarik dan tidak sederhana. Ia dapat meliputi variabel interaksi masyarakat, peran negara, struktur politik, dan kebudayaan—dan itu semua terjalin secara cukup rumit.

Islam politik dan wacana masyarakat sipil misalnya dalam kasus Indonesia ternyata memiliki dinamika sejarah yang begitu panjang dan tidak sederhana. Benih-benih potensial bagi masyarakat sipil bahkan oleh Hefner dilacak sepanjang lima abad yang lalu, bersama-sama dengan proses islamisasi dan menjelang datangnya gelombang kolonialisme bangsa Eropa di wilayah Asia Tenggara. Kedatangan Islam awalnya memang cenderung menggantikan pengaruh Hindu-Budha dalam tradisi religio-politik sehingga Islam mewujud dalam pola “raja-sentris”. Kerajaan Islam bermunculan di sana-sini. Akan tetapi, di sisi yang lain, pedagang-pedagang Nusantara juga menunjukkan independensi yang tinggi terhadap penetrasi negara. Anthony Reid menggambarkan bagaimana kekuatan pedagang-pedagang Nusantara pada abad ke-15 hingga ke-17 mampu membentuk pasar ekonomi yang makmur dan mandiri di kawasan Asia Tenggara.

Struktur Islam politik dan struktur masyarakat sipil yang demikian tidak berumur panjang, sehubungan dengan datangnya kolonialisme Eropa. Kejadian ini ternyata telah meruntuhkan struktur sosial-politik dan ekonomi yang mulai terbentuk di kawasan Nusantara. Dukungan kaum kolonial terhadap penguasa-penguasa lokal dengan maksud untuk memudahkan penguasaan sumber daya alam telah menggeser kekuatan Islam politik ke wilayah rakyat bawah (“masyarakat sipil”). Islam politik yang berbasis rakyat tiba-tiba menguat dan menunjukkan vitalitasnya yang tinggi berhadapan dengan kekuatan-kekuatan asing baru yang didukung oleh elit pribumi.

Pergeseran ini telah menyuburkan lahirnya berbagai gerakan sosial yang berada di bawah kontrol kepemimpinan non-pemerintah. Inilah awal bagi munculnya rasa curiga dan sikap hati-hati kalangan Islam politik terhadap segala bentuk kekuasaan yang berpusat pada negara.

Akan tetapi, ketika Negara Indonesia hendak dibentuk, terjadi beragam penafsiran terhadap warisan sejarah Islam politik itu sendiri. Ada beberapa kalangan yang menghendaki potret Islam politik ideal yang didasarkan pada kesatuan kekuasaan agama dan negara, di samping adanya kehendak beberapa kalangan lain untuk tetap menjaga jarak dengan bentuk kekuasaan negara dan lebih mempertahankan diri pada level masyarakat bawah. Dua bentuk penafsiran inilah yang dalam proses sejarah seterusnya mengalami proses tarik-menarik yang tiada henti—bahkan hingga saat ini.

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, kekuatan Islam politik yang berorientasi pada pemberlakukan hukum Islam mengalami cukup banyak kesulitan untuk merealisasikan impiannya, hingga pada akhirnya partai Masyumi—partai Islam yang paling getol memperjuangkan gerakan Islam politik berorientasi penguasaan negara—dilarang secara resmi oleh pemerintah.

Kekuatan Islam politik pada awal Orde Baru mulanya memang diberi tempat yang cukup nyaman. Akan tetapi, bagi Hefner hal ini jelas menggambarkan pola politik Presiden Soeharto yang berusaha mencari sumber kekuatan bagi usaha pemberangusan sisa-sisa Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Terbukti, sejak awal 1970-an Soeharto mulai menyingkirkan Islam politik yang terasa mengancam. Penundukan terhadap gerakan Islam politik yang semakin kuat melakukan tuntutan demokratisasi terus dilakukan, terutama dengan langkah penetapan Pancasila sebagai asas tunggal dan pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Menurut Hefner, sikap akomodatif Soeharto terhadap kekuatan Islam politik sejak awal dasawarsa 1990-an bukan karena komitmen politik Soeharto terhadap Islam, melainkan lebih karena kehendak untuk mengontrol Islam politik yang mulai menggeliat bangkit dari keterpurukannya. Pada periode inilah, kekuatan Islam politik benar-benar mulai menunjukkan revivalitasnya. Akan tetapi, catatan penting dari Hefner yang patut digarisbawahi adalah bahwa kekuatan-kekuatan Islam politik pada periode ini tidak bersifat seragam. Bahkan, titik tolak yang menjadi entri-point beberapa tokoh terhadap gerakan tuntutan demokratisasi juga beragam, bukan hanya berdasar pada kesadaran normatif-teologis (Islam).

Hal lain yang cukup menarik dikemukakan adalah adanya upaya-upaya pemanfaatan kekuatan Islam politik ini oleh rezim Orde Baru untuk melestarikan kekuasaannya. Kasus ICMI misalnya adalah salah satu contoh yang bisa dikemukakan. Selain itu, kedekatan beberapa orang dari kelompok Islam politik beraliran konservatif dengan penguasa malah semakin memperkeruh situasi politik. Beberapa kelompok pendukung rezim Orde Baru diam-diam “mengelabuhi” kekuatan Islam politik konservatif dengan memanfaatkan isu agama demi mendukung kekuasaan politiknya.

Kompleksitas konfigurasi Islam politik tentu saja tidak dapat cair dan terintegrasi dalam waktu yang singkat. Bahkan, hingga saat ini, ketika kekuatan-kekuatan Islam politik dari berbagai aliran telah cukup banyak menguasi lembaga-lembaga negara, trik-trik politik antara berbagai elemen Islam politik itu masih kelihatan terus mengeras.

Lalu, adakah masa depan demokrasi dalam gerakan Islam politik yang saat ini seperti “menguasai” wacana demokrasi di Indonesia itu? Catatan menarik yang dikemukakan Hefner dalam buku ini adalah bahwa agenda penting yang perlu dilakukan oleh pelbagai bentuk gerakan Islam politik mau tidak mau adalah berupa upaya bagaimana agama (Islam politik) mampu memperkuat cita-cita demokrasi, dengan cara menjaga jarak secara hati-hati, dan tidak membiarkan diri mereka atau ideal-ideal mereka disubordinasikan terhadap tingkah penguasa atau program partai. Tatanan keagamaan juga harus dibuat seefektif mungkin hingga dapat mendukung kemajuan demokrasi. Untuk itulah, wawasan Islam politik yang pluralistik dan toleran—seperti juga ajaran tentang tidak adanya paksaan dalam beragama—amat penting dikedepankan. Kekerasan dalam beragama harus diminimalisasi, dengan memposisikan institusi agama lebih sebagai media kontrol ketimbang penopang kekuasaan politik.

Bertolak dari gagasan-gagasan itu, Hefner mengusulkan agar agenda penguatan masyarakat sipil menjadi program utama. Warisan sejarah Islam politik yang amat kaya bagi Hefner telah cukup mampu menjadi pelajaran penting untuk lebih menekankan peran Islam politik dalam wilayah yang lebih “aman”: mengantisipasi berbagai bentuk pembalikan peran agama ke dalam medan yang kotor. Menurut Hefner, agama yang disalahgunakan dan ditunggangi akan menjadi ancaman serius bagi demokrasi. Karena itulah, orientasi gerakan Islam politik akan lebih efektif bila ia bergerak di luar negara, yang dalam terminologi ilmu politik populer disebut dengan istilah masyarakat sipil.

Dalam konteks kehidupan politik Indonesia saat ini buku ini seperti hendak memberi aba-aba sekaligus peringatan bagi berbagai elemen gerakan Islam politik yang beragam terhadap berbagai ancaman potensial terulangnya kembali kecelakaan sejarah yang dapat mencitrakan Islam politik sebagai sesuatu yang anti-demokrasi. Pelajaran berharga ini yang dikemas dalam perspektif historis dan komprehensif oleh Hefner dibangun di atas suatu “kearifan metodologis” yang khas, yakni bahwa berbagai fenomena sosial-politik di seluruh penjuru dunia sama sekali tak bisa dijelaskan dengan bentuk-bentuk stereotyping tertentu, sehingga mengabaikan artikulasi lokal yang bersifat kompleks dan lebih menentukan. Untuk itu dalam buku ini Hefner amat menekankan aspek-aspek lokal yang khas yang membentuk arus sejarah pergulatan Islam dan demokrasi.

Gagasan tentang kehidupan demokrasi dan masyarakat sipil bagi bangsa Indonesia memang masih berupa suatu eksprimentasi sejarah yang mungkin membutuhkan lorong yang panjang. Dan, umat Islam melalui beragam bentuk gerakannya dapat mendukung cita-cita ini asalkan mampu menghargai berbagai bentuk pluralisme yang menyebar di sepanjang kepulauan Nusantara. Kita tunggu.

Jual Buku Intelektualisme dalam Perspektif Neo-Modernisme: Studi atas Pemikiran Pendidikan Islam Fazlur Rahman

Judul: Intelektualisme dalam Perspektif Neo-Modernisme: Studi atas Pemikiran Pendidikan Islam Fazlur Rahman
Penulis: Syarif Hidayatullah, M.A.
Penerbit: Tiara Wacana, 2000
Tebal: 281 halaman
Ukuran: agak kecil
Kondisi: Buku stok lama (cukup)
Harga: Rp. 25.000 (belum ongkir)
Terjual Makassar


Ketika sistem pendidikan Islam tradisional semakin dirasakan tertinggal jauh di belakang,orang mulai mencari pendidikan Islam yang modern, yang bersifat akomodatif terhadap ilmu pengetahuan modern (yang nota bene dari Barat), namun tetap berjalan di atas rel nilai-nilai Islami yang bersumber dari Al-Quran sebagai landasan etika moral bagi pendidikan Islam.

Fazlur Rahman, seorang tokoh neo-modernisme Islam yang concren pada masalah pendidikan, mencoba memberi solusi untuk memperbarui perndidikan Islam salah satunya dengan mengubah pandangan dikotomis terhadap ilmu pengetahuan, dengan mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum secara organis dan menyeluruh.

Bagaimana pemikirannya tentang intelektualisme Islam sebagai esensi pendidikan Islam, permasalahan mendasar yang dihadapi dunia pendidikan Islam beserta solusinya, dapat anda simak dalam kajian yang tersaji dalam buku ini.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tolong like Facebook kami, trims