Respon Cepat

Respon Cepat
Loading...

Jual Buku Kajian Al-Qur'an di Indonesia: Dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab

Judul: Kajian Al-Qur'an di Indonesia: Dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab
Penulis: Howard M. Federspiel
Penerbit: Mizan, 1999
Tebal: 324 halaman
Kondisi: Stok lama  (bagus)

Terjual Bandung 

Jual Buku John Naisbitt High Tech High Touch

Judul: High Tech High Touch
Penulis: John Naisbitt, Nana Naisbitt & Douglas Philips
Penerbit: Mizan, 2001
Tebal: 280 halaman
Buku bekas (bagus)
Harga: Rp. 70.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Teknologi masa kini," demikian buku ini mencoba meyakinkan pembaca, "adalah kisah Amerika." Dan Amerika itu, selanjutnya, dilukiskan sebagai "tak henti-hentinya melahirkan kisah demi kisah: kebebasan beragama, anak-anak muda yang berpaling ke Barat, jalur kereta tanah, koboi dan Indian, individualisme yang bertabiat keras dan tegar...".

Seperti tak cukup, Amerika itu juga... "membelah dan menjatuhkan bom, membendung komunisme, I have a dream, rock and roll, bangsa pertama yang mendarat di bulan... Hollywood, ekonomi berbasis in- formasi, bangsa terkaya dan terkuat di muka bumi, dan kekuatan adidaya dunia". Kalimat-kalimat di atas jelas menunjukkan kedig- dayaan Barat dalam kemajuan teknologi.

Tak bisa dimungkiri, Barat mendominasi penemuan teknologi hampir di setiap sudut kehidupan -dari militer hingga media. Bahkan lewat in- ovasi di bidang teknologi, kini Barat tengah bertekad terus mencip- takan kemudahan-kemudahan bagi umat manusia di dunia. Dalam per- jalanan waktu, menurut buku ini, Amerika telah mengalami trans- formasi dari tempat yang nyaman secara teknologi menjadi zona mabuk teknologi (ZMT).

Inilah mungkin paradoks terbesar kemajuan teknologi yang dialami publik Amerika. ZMT itu ditandai oleh gejala-gejala berikut ini: kita lebih menyukai penyelesaian pelbagai masalah -dari gizi hingga agama- secara kilat; kita takut sekaligus memuja teknologi; kita mengaburkan perbedaan antara yang nyata dan yang semu; kita menerima kekerasan sebagai hal yang wajar; kita mencintai teknologi dalam wujud mainan; dan kita menjalani kehidupan yang berjarak dan tereng- gut (halaman 24).

Semua itu menghunjamkan rasa cemas dan gemas. Buku ini, misalnya, lahir dari kecemasan terhadap situasi sosio-kultural masyarakat ("kita") Amerika dalam hubungannya dengan teknologi. Ada ambiguitas yang mencolok dalam hubungan tersebut. Televisi, misalnya, sebelum- nya dianggap sebagai "penyatu keluarga" modern.

Tapi, pada kenyataannya, ia justru memencarkan anggota keluarga di ruangan yang berlainan untuk menonton atau mendengarkan musik kegemarannya masing-masing. Mereka tinggal dalam satu rumah, tetapi sebenarnya hidup sendiri-sendiri. Selain itu, pelbagai hal yang dieksplorasi buku ini memang rumit, dan beberapa di antaranya merupakan "pokok bahasan yang mengerikan".

Misalnya soal eugenika, kloning, rekayasa genetika, DNA, anak-anak yang membunuh, atau kekerasan yang meluas. Sesungguhnya kemajuan teknologi tersebut tidak dibarengi dengan kecermatan dalam menempat- kan diri. Dalam kata-kata buku ini, "Tidak banyak dari kita yang benar-benar memahami posisi teknologi atau di mana seharusnya teknologi itu berada dalam kehidupan kita."

Bahkan pun pertanyaan mendasar tentangnya belum terjawab: apakah sebenarnya teknologi itu? Dalam situasi demikian, orang menjadi gamang dan gagap. Kita, misalnya, bingung membedakan yang nyata dari yang artifisial. Ini terjadi ketika perkembangan terbaru dalam rekayasa genetika memungkinkan adanya suatu masa depan yang kelak terbebas dari cacat lahir dan cacat tubuh.

Dan ketika manusia dapat diciptakan di dalam labolatorium semudah di dalam rahim, apa sesungguhnya makna menjadi manusia? Ya, manusia Barat sekian lama melupakan hal ini. Dan ketika peradaban mereka tengah berada di ubun-ubun peradaban global, dan mereka hanyut dalam gelombang kemajuan teknologi, mereka bertekad menemukannya.

Di Barat kini muncul banyak sekali sekte, New Age, meledaknya buku- buku "suplemen" batin seperti serial Chicken Soup. Tapi, menurut penulis buku ini, penyelesaian kilat seperti itu pada akhirnya merupakan kehampaan belaka. Maka, secara keseluruhan, buku ini meng- gaungkan health warning yang penting: bagaimana menyikapi perkem- bangan teknologi secara arif.

Ia tidak harus diterima secara membabi buta seperti dilakukan kaum teknofilia, atau ditolak mentah-mentah seperti dilakukan kaum teknofobia. Meski berbicara tentang masyarakat Amerika, buku ini tak kehilangan relevansi dan signifikansinya bagi "kita" di Indonesia.

Mustofa Alumnus Teologi dan Filsafat, IAIN Jakarta

Jual Buku Pengembangan Pemikiran Keislaman Muhammadiyah: Purifikasi dan Dinamisasi

Judul: Pengembangan Pemikiran Keislaman Muhammadiyah: Purifikasi dan Dinamisasi
Editor: Hamim Ilyas & Muhammad Azhar
Penerbit: LPPI UMY, 2000
Tebal: 357 halaman
Kondisi: Stok lama (cukup)
 
Harga: Rp. 60.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312


Buku ini merupakan kumpulan hasil seminar nasional yang membahas pengembangan pemikiran keislaman di kalangan Muhammadiyah terutama menyangkut purifikasi dan dinamisasi paham keagamaan.

Jual Buku Emha Ainun Najib Surat Kepada Kanjeng Nabi

Judul: Surat Kepada Kanjeng Nabi
Penulis: Emha Ainun Najib
Penerbit: Mizan, 1996
Tebal: 486 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Stok Kosong

Di tengah lesunya pasar buku Indonesia, buku Cak Nun -Emha Ainun Nadjib- tampaknya merupakan pengecualian. Bahkan kumpulan puisinya -jenis buku yang susah dijual- tetap memperoleh sambutan lumayan. Mengapa bukunya digemari? Surat Kepada Kanjeng Nabi ini tampaknya akan menjelaskan.

Lebih dari 100 kolom Emha yang dirangkum buku ini menyajikan tema beragam. Selain sarat anekdot segar, daya tarik lainnya terletak pada bahasanya yang mudah dipahami segala lapisan pembaca. Emha mampu membungkus kritik -sekeras apa pun- dengan humor yang memancing senyum. Tampaknya Emha mengerti betul bahwa bila masalah serius atau peka disampaikan dengan ''main-main'', justru akan mengenai sasaran, tanpa menyakitkan.

Surat Kepada Kanjeng Nabi dibagi menjadi empat bagian yang tak ketat. Bagian pertama mengelompokkan masalah-masalah sosial, bagian kedua menyisir masalah seni dan budaya, bagian ketiga menyingkap masalah politik dan ekonomi, sementara bagian keempat mengungkapkan persoalan agama.

Sebagaimana puluhan buku kumpulan tulisan kolom lain, buku ini mengekspresikan kegelisahan Cak Nun, mungkin juga kegelisahan kita, kegelisahan orang-orang kalah. Cak Nun dengan santai menggugat centang-perenang perekonomian, mampatnya ekspresi politik, akibat perubahan budaya masyarakat yang cepat. Seperti dikatakan Kuntowijoyo yang memberi kata pengantar buku ini, Emha menyuarakan sensibilitas pemuda, yakni pemuda yang kritis, suka protes, sekaligus religius, tapi sekaligus kalah.

Orang-orang kalah yang dalam bahasa agama disebut kaum mustadh'afin memiliki tingkat kerumitan yang kompleks. Ekspresi kekalahan sering tak terstruktur, cenderung mengambil langkah praktis, bahkan mungkin impulsif.

Cak Nun, yang berada pada denyut dan nadi kegelisahan massa, tampaknya harus mewakili bahasa kaumnya. Dalam hal ini menarik untuk diketengahkan teori Cak Nun tentang tiga jenis manusia. Pertama, manusia yang memperoleh kehormatan (karamah) dari Allah untuk memiliki potensi istimewa agar tak terlalu bergantung pada arus lingkungannya, dan memiliki kemampuan berhadapan dengan berbagai tantangan di luar dirinya. Kedua, manusia yang memiliki ketergantungan normal terhadap lingkungan pendidikan, sejarah, dan nilai yang membesarkannya. Ketiga, jenis manusia yang kelak akan cepat memperoleh kasih Allah (halaman 306), yakni mereka yang religius.

Teori yang bersifat personal ini dapat diperlebar menjadi teori sosial yang lebih global. Mungkin dari kacamata teori inilah kita dapat memahami Cak Nun dan kolom-kolomnya, termasuk fenomena bukunya yang laku.

Taufan Hidayat, Alumnus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Jual Buku Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam

Judul: Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam
Penulis: Azyumardi Azra
Penerbit: Logos Wacana Ilmu, 1998
Tebal: 194 halaman
Buku bekas (cukup)
Terjual Pamekasan


Buku esai-esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam mengetengahkan analisa kritis dengan pendekatan multidisipliner. Prof. Dr. Azyumardi Azra sebagai seorang intelektual Muslim, pengamat dan pelaku pendidik dalam dunia pendidkan islam. Buku penting bagi mahasiswa dan dosen, para praktisi dunia pendidikan serta para pengamat dan pemerhati pendidkan dan intelektual Muslim.

Jual Buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis

Judul: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Jendela, 2002
Tebal: 191 halaman 
Kondisi: Bekas (cukup)
Harga: Rp. 50.000 (blm ongkir)

Order: SMS 085225918312
 

Di tahun 2006 ini Pramoedya Ananta Toer meninggal dan kita mewarisi sebuah ikon dan sejumlah karya. Yang belum banyak diingat ialah bahwa ia juga meninggalkan sebuah gagasan tentang sastra yang sebenarnya kontroversial.

Di tahun 1963, ia menyusun satu risalah tentang “Realisme Sosialis”, doktrin yang bagi Pramoedya dapat dan semestinya diterapkan sebagai dasar praktek sastra dan kritiknya. Meskipun dalam wawancaranya dengan Tempo 4 Mei 1999 ia mengatakan, “Saya tak pernah membela realisme sosialis”, risalah yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia itu adalah advokasi yang bersemangat untuk doktrin itu.

“Realisme sosialis” kini hanya diketahui secara samar-samar oleh generasi yang lahir setelah 1970-an. Penindasan dan pembungkaman atas pikiran-pikiran Marxis sejak 1966-1998 telah menyebabkannya hampir dilihat sebagai sesuatu yang gaib, dan sebab itu tak pernah dianalisis dengan baik. Dilihat sebagai bahan sejarah sastra dan seni, juga sebagai masalah pemikiran, “Realisme Sosialis” amat penting, walaupun umurnya tak panjang. Doktrin itu berbicara tentang masanya: inilah pegangan resmi para seniman anggota Lekra yang, di bawah patronase Partai Komunis Indonesia, merupakan organisasi dan gerakan yang terkuat di kalangan seniman Indonesia antara akhir 1950-an sampai dengan pertengahan 1960-an. Meskipun tak dapat dikatakan “Realisme Sosialis” telah dipahami dan dianut secara merata di kalangan Lekra, doktrin itu penting bagi Pramoedya sendiri. Sejak awal 1960-an ia dengan sadar menggunakannya buat menilai karya sastra – termasuk yang ditulisnya sendiri – dan mempengaruhi corak prosanya yang kemudian.

Buku Eka Kurniawan ini sebuah introduksi yang amat baik bagi mereka yang ingin menelaah karya Pramoedya dalam hubungannya dengan doktrin (atau “teori”, atau “metode”) itu.

Ditulis dengan rapi dan terang, telaah Eka Kurniawan menampilkan lintasan sejarah ide “realisme sosialis” dalam polemik yang berlangsung di Uni Soviet di tahun 1920-an sampai dengan tahun 1930-an, menjelang dan sesudah ia dirumuskan. Disinggung pula bagaimana “realisme sosialis” diterima di RRC di bawah Mao Zhe-dong. Terlebih lagi, dalam buku ini kita akan mendapatkan pandangan teoritikus Marxis terkenal, Grigory Lukacs dan salah satu pendiri Partai Komunis yang cemerlang, Leon Trotsky, yang bertentangan dengan “realisme sosialis” yang diresmikan Stalin – satu hal yang tak disebut, apalagi diperbincangkan, Pramoedya. Dalam arti ini, buku Eka Kurniawan bisa jadi pelengkap risalah yang disusun Pramoedya, yang hampir sepenuhnya mengikuti garis rumusan Zhdanov, pejabat tinggi Partai, besan, dan juru sensor Stalin.

Mungkin sebab itu yang dikemukakan Eka Kurniawan – yang tak menyembunyikan keterpesonaannya kepada Pramoedya – tetap bukan sekedar ungkapan kekaguman seperti berpuluh-puluh pembicaraan tentang Pramoedya semenjak tahun 1970-an.. Di dalamnya sedikit banyak kita temukan pandangan kritis atas karya Pramoedya setelah ia menerapkan doktrin itu sendiri dalam karyanya, misalnya Sekali Peristiwa di Banten Selatan.

Doktrin itu memang tak mudah dipakai. Di tahun 1960 terbit sebuah buku setebal 99 halaman, yang dalam versi Inggris memakai judul On Socialist Realism. Penulisnya “Abram Tertz,” sebenarnya Andrei Siniavsky, seorang sastrawan Soviet yang harus menggunakan nama samaran dan menyelundupkan naskahnya ke Eropa Barat, sebuah tindakan yang kemudian menyebabkan ia dihukum tujuh tahun penjara di tahun 1966. Dalam telaahnya, Tertz menunjukkan, dengan “Realisme Sosialis” orang “menggabungkan apa yang tak dapat digabungkan”, to combine the uncombinable: di satu pihak harus ada tokoh “hero yang positif”, praktis manusia pejuang yang sempurna, di lain pihak ada keniscayaan uraian psikologis, yang menampakkan sang tokoh sebagai subyek yang retak dan tak solid; di satu sisi perlu deskripsi ideal tentang keadaan yang sesuai dengan cita-cita Partai, dan di lain pihak gambaran yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari yang dituntut oleh “realisme”.

Dalam risalahnya tentang “Realisme Sosialis”, Pramoedya sendiri menyatakan, “Realisme Sosialis” adalah “realisme-kreatif”: sang penulis juga “menentang realitas”. Namun seperti dikatakan Lukacs, (yang waktu itu tak disebut sama sekali oleh Pramoedya), dalam kritiknya atas karya bertendens ala Zhdanov – kita menemukannya dalam Essays on Realism, bukan dalam buku ini — ada bahaya bahwa doktrin ini berada dalam “kerangka idealis,” yang menganggap bukan kenyataan sosial-politik yang menentukan gagasan, melainkan sebaliknya: “Bukan satu kecenderungan perkembangan sosial sendiri, yang semata-mata dibuat sadar oleh sang penyair…melainkan satu perintah (yang disusun secara subyektif), yang harus dipenuhi oleh realitas”.

Yang tak disebutkan baik dalam risalah Pramoedya dan hanya tersirat dikemukakan Eka Kurniawan ialah bahwa “perintah” yang “disusun secara subyektif” itu pada akhirnya datang dari Partai, dalam arti Partai Komunis, yang dianggap mewakili kesadaran proletariat. Di masa Stalin, “Partai” itu identik dengan pemimpin Partai dan aparatnya, yang melakukan sensor yang ketat. Militansi ideologis yang berkuasa – yang oleh Pramoedya disebut sebagai watak “Realisme Sosialis”, militansi yang antara lain mengikuti pedoman Maxim Gorky: “jika musuh tak menyerah, ia harus dihancurkan” – berakibat kepada disingkirkannya, sering dengan tak semena-mena, mereka yang dianggap melakukan perlawanan.

Di bawah Zhdanov, dan juga bahkan setelah ia tak ada, sederet sastrawan dan sejumlah jurnal dibungkam dan dibabat. Elan kreatif yang tampak berpendar-pendar penuh harapan pembebasan di awal Revolusi Oktober 1917, semasa Lenin, dengan berangsur-angsur punah. Untuk memakai istilah Lukacs, “mimbar” revolusioner telah digantikan “birokrat” Stalin. Penyair yang mempesona seperti Anna Akhmatova diganyang dan disingkirkan dan Osip Mandelstam ditangkap dan dibuang, hingga meninggal di tempat hukuman. Kita sudah tahu nasib “Abram Tertz” dan lebih terkenal lagi Boris Pasternak.. Dengan “Realisme Sosialis”, seperti yang terutama tampak di Uni Soviet, kritik akhirnya identik dengan apa yang dikatakan George Steiner: “the discerner of heresy”, pemantau kemurtadan.

Pada gilirannya, yang lahir dalam suasana seperti itu adalah karya-karya yang hanya menyuarakan apa yang disebut Lukacs, “optimisme birokratik yang formal dan hampa”, yang selintas seperti bersifat sosialis, tapi dalam faktanya “mati, kehilangan ide, dan tak efektif baik secara estetik maupun sebagai propaganda”. Seperti halnya Lukacs, Pablo Neruda, penyair komunis pemenang hadiah Nobel dari Chile itu, memandang kehidupan kebudayaan di bawah Stalin dengan masygul: di sana tejadi “sebuah pengerasan yang gawat”, un endurecimiento grave, yang lupa bahwa “Revolusi adalah hidup, dan rumus-rumus mencari peti mati mereka sendiri”.
.
“Rumus” seperti itu belum hadir di Indonesia. Meskipun desakan untuk “membabat” mereka yang berpikiran lain berlangsung, dan pemerintahan Demokrasi Terpimpin ikut mengumandangkan “Realisme Sosialis” bagi kesenian Indonesia, kondisi sosial-politik dan posisi Partai Komunis Indonesia belum melahirkan seorang Stalin dan seorang Zhdanov. Bahkan risalah seperti yang disusun Pramoedya di tahun 1963 merupakan pembahasan pertama tentang doktrin itu; yang pasti sebagian besar anggota Lekra hanya samar-samar mengertinya. Semboyan “Seni Untuk Rakyat” bagi mereka sudah cukup, dan memang lebih menarik dan lebih membuka pelbagai kemungkinan tafsir – yang dalam seni rupa menghasilkan karya-karya yang sangat mengesankan dan jauh dari keseragaman, dan dalam puisi menghasilkan karya-karya Agam Wispi, H.R. Bandaharo dan Amarzan Ismail Hamid yang gemanya hidup sampai sekarang.

Karya Pramoedya sendiri mencapai puncaknya justru dari pembuangan di Pulau Buru, satu hal yang dikemukakan dengan baik oleh buku ini – ketika tak ada lagi Partai, pertimbangan-pertimbangan strategis, bahkan dorongan militansi yang disebutnya sebagai ciri “Realisme Sosialis”.

Salah satu nilai tambah telaah Eka Kurniawan ini ialah bahwa ada sikap memandang “Realisme Sosialis” dengan simpati, tapi juga dengan cukup kritis.

Oleh: Goenawan Mohamad
Tulisan ini merupakan pengantar untuk buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Bintang Panggung: Biografi Tati Saleh

Judul: Bintang Panggung: Biografi Tati Saleh
Penulis: Aam Amilia
Penerbit: Granesia, 2001
Tebal: 233 halaman

Apakah seniman dilahirkan, atau "dibuat"? Bagi Tati Saleh, kini 53 tahun, jawabannya adalah kedua-duanya. Seperti terungkap dalam buku ini, pada usia empat tahun, dia sudah bisa melantunkan tembang Cianjuran, yang punya cengkok khas, tanpa bimbingan pelatih. Tati hanya mencuri dengar, tatkala ayah dan saudara-saudaranya berlatih.

Begitu pun dengan kabisa-nya berjoget. Gerakan dasar dikuasainya dari mengintip orang latihan. Giler panon (lirikan mata), godeg (menggerakkan kepala), ngalungkeun soder (melempar selendang), dan keupat (berlenggang) bisa diperagakan Tati kecil dengan cekatan. Bakat alam itu kemudian diasah ayahnya, Abdulllah Saleh, Kepala Jawatan Kebudayaan Ciamis, tempat Tati dibesarkan.

Usaha keras itu membuahkan hasil. Pada usia belia, Tati Saleh sudah jadi bintang panggung. Ketika duduk di kelas I SMP, pada 1959, dia sudah dipercaya membawakan kidung menyambut Ayub Khan, Presiden Pakistan yang berkunjung ke Bandung. Selepas SMP, oleh ayahnya, Tati tak dikirim ke sekolah umum, melainkan disuruh melanjutkan ke sekolah karawitan.

Setelah melewati proses pematangan, jadilah Tati Saleh sebagai seniman serba bisa: penyanyi, penari, juga artis. Namanya dikenal tak hanya di lingkaran etnis Sunda, melainkan juga di tataran nasional. Sebagai penyanyi, dia punya karakter suara yang unik, bisa mencapai empat setengah oktaf, hal yang jarang dipunyai penyanyi lain.

Keistimewaan vokal Tati Saleh, oleh seniman Tan Deseng, disejajarkan dengan biduanita Barat, Katerinna Valente. Sebagai penari, gemulai tangannya sudah melintasi puluhan negara dari berbagai belahan dunia. Tati Saleh juga termasuk berjasa memopulerkan tari jaipongan. Walau usia "emas"-nya sebagai seniman sudah lewat, Tati Saleh masih belum berniat pamit dari panggung pertunjukan. "Saya akan menari dan menyanyi sampai akhir hayat," katanya.

Hidayat Tantan

Irian Jaya - Papua: A Timeless Domain

Judul: Irian Jaya - Papua: A Timeless Domain
Foto dan teks: Julie Campbell
Penerbit: Graham Brash, 2000
Tebal: 240 halaman

Tak banyak yang berubah di Irian Jaya. Setelah dua dasawarsa, koteka masih dipakai dengan bangga, berburu dengan panah dan tombak, dan memasak makanan dengan cara diperam pada lubang yang diisi batu panas masih lazim dilakukan. Burung cenderawasih masih ada, meskipun populasinya sudah menyusut. Hanya meluasnya dataran gersang di wilayah pegunungan, yang digarap oleh Freeport-Newmont, yang paling tak kasatmata.

Waktu memang seakan tak pernah beranjak di Papua -sebutan lain untuk Irian Jaya. Tak banyak informasi yang rinci dari sisi barat pulau besar berhutan lebat itu, meski telah lebih dari tiga dasawarsa Irian Jaya menjadi bagian dari Indonesia. Lalu, tersebutlah Julie Campbell, perempuan Amerika yang sejak 1985 bolak-balik menjelajahi banyak wilayah Irian Jaya dan bergaul dengan masyarakatnya.

Ia lalu membukukan penjelajahannya di Irian. Ia bahkan dianggap ahli, sehingga sejumlah ekpedisi, seperti yang dilakukan National Geographic, menjadikannya pemandu. Ia secara rutin pula memberi konsultasi bagi berbagai perusahaan minyak yang beroperasi di kawasan Papua. Ia tak sekadar melihat-lihat. Pada setiap lokasi yang dikunjungi, ia pun selalu menyempatkan diri tinggal dan hidup di situ.

Campbell kemudian menuangkan catatan-catatan perjalanan dan observasinya ke dalam bentuk buku yang pertama kali diterbitkan pada 1991 ini. Campbell cukup rinci menyertakan informasi penunjang, seperti peta yang akurat, serta ketinggian dan jarak. Ia juga menyampaikan analisis yang dikemukakan oleh orang yang memang ahli untuk mendukung tulisannya.

Buku ini bisa menjadi acuan bagi mereka yang ingin mengetahui Irian Jaya lebih dalam. Foto-foto yang ditampilkan sangat mendukung kejelasan tulisan, meski secara kualitas pas-pasan saja. Sayang, kualitas kertas dan cetakan buku yang bagus tak termanfaatkan maksimal.

Ivan N. Patmadiwiria

Jual Buku Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis, dan Isinya

Judul: Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis, dan Isinya
Penulis: Fr. Wahono Nitiprawiro
Penerbit: LKiS, 2000
Tebal: 172 halaman
Kondisi: Bekas (cukup) 
Stok Kosong

Buku ini menjelaskan secara komprehensif mengenai sejarah teologi hingga perkembangannya sekarang, dari pemikiran hingga ke gerakan yang menyebar ke negara Amerika Latin hingga ke Asia. Buku ini mengeksplorasi secara mendalam dan rinci tentang ideologi dari berbagai perspektif dan beberapa tokoh yang memprakarsai dan memberikan andil dalam perkembangan teologi pembebasan. Ini merupakan salah satu buku "merah" (terlarang) pada masa rezim Orde Baru.

Walau buku ini kecil, namun sangat butuh waktu untuk menyelesaikannya. Ada tiga macam pembebasan yang berkaitan satu sama lain (hal. 12) yaitu:
1. Pembebasan dari belenggu penindasan ekonomi, dan politik, atau alienisasi kultural, atau kemiskinan dan ketidakadilan.
2. pembebasan dari kekerasan yang melembaga yang menghalangi terciptanya manusia baru dan digairahkannya solidaritas antarmanusia atau lingkaran setan kekerasan.
3. pembebasan dari dosa yang meungkinkan manusia masuk dalam persekutuan dengan Tuhan dan semua manusia.

Isu otonomi daerah dan ketidakpuasan akan pembagian keuangan pusat-daerah bukan sekedar kemerdekaan wilayah, namun pembebasan dari keserakahan dan kekerasan yang melembaga sebagai wajah jahat petualangan ekonomi dan politik nasional maupun globalisasi (Kata pengantar hal. 7).

Pengalaman pembebasan dari dunia ketiga di Amerika Latin dan Asia, masih relevan hingga saat ini. Pengaruh globalisasi ternyata menyentuh sendi-sendi pemerataan kesejahteraan yaang diperjuangkan oleh pejuang pembebasan, dan hal itu masih relevan hingga sampai saat ini. Dunia ketiga tetap berjuang.

Jual Buku Biografi Gus Dur (The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid)

Judul: Biografi Gus Dur (The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid)
Penulis: Dr. Greg Barton
Penerbit: LKiS, 2003
Tebal: 516 Halaman (hard cover)
Kondisi : Bekas (cukup)
Harga: Rp. 150.000 (blm ongkir)
Order: SMS 085225918312


Di antara belasan dalil yang menjelaskan akar kontroversi KH Abdurrahman Wahid adalah bahwa ia dianggap paling sering disalahpahami. Lalu berkembanglah teori tentang bagaimana cara yang tepat memahami Gus Dur. Ada beberapa buku yang terbit sebagai penjabar asumsi itu. The Jakarta Post, dua tahun lalu, menerbitkan buku Understanding Gus Dur. Mantan ajudan Gus Dur, Al-Zastrouw Ngatawi, tiga tahun silam, meluncurkan buku Gus Dur Siapa sih Sampean. Yang menarik adalah subjudul buku itu: Tafsir Teoritik atas Tindakan dan Pernyataan Gus Dur.

Greg Barton, dosen mata kuliah agama dan kajian Asia di Universitas Deakin, Australia, juga beranjak dari dalil itu ketika menulis biografi Gus Dur ini. Barton berpendapat, tidak hanya Gus Dur, melainkan juga kalangan Islam tradisional --sebagai basis konstituennya-- sering disalahpahami, termasuk oleh publik Indonesia sendiri. Maka upayanya untuk memahami Gus Dur secara empati dari sudut pandang tokoh yang dikaji diyakini punya nilai signifikan. Apalagi, Barton melakukan observasi dari tangan pertama.

Ketika kuliah di Universitas Monash, Melbourne, Barton beberapa kali menulis artikel tentang dinamika Islam di Indonesia. Puncaknya, pada 1995, ia menyelesaikan disertasi berjudul The Emergence of Neo-Modernism, yang mengupas pemikiran Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid. Jadi, Gus Dur bukanlah kenalan baru. Sejak memulai penelitian biografi ini pada 1997, Barton mendapat keistimewaan akses langsung pada Gus Dur.

Ia mengikuti kampanye Gus Dur ke berbagai daerah menjelang Pemilu 1999. Sepanjang 21 bulan masa kepresidenan Wahid, Barton meluangkan tujuh bulan bersama cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu, mengikuti kunjungan ke daerah dan luar negeri. Cukup beralasan bila Barton mengkalim karyanya sebagai "The Authorized Biography". Namun, ia mengelak jika buku ini kemudian dituding tidak kritis.

Pada beberapa bagian, Barton menulis beberapa catatan kritis untuk Gus Dur. Ia, misalnya, tak segan menyebut langkah Gus Dur memecat Laksamana Sukardi sebagai kesalahan fatal, sekaligus titik balik retaknya duet Gus Dur-Megawati. Buku ini terbagi lima bagian. Pertama, berjudul Pesantren and Family. Menjelaskan kondisi sosio-kultural tempat Gus Dur lahir dan dibesarkan. Barton juga menyisipkan analisis sosial-politik tentang situasi makro saat itu, bahwa kaum santri terbagi dalam dua varian: tradisional dan modernis. Dan masing-masing berafiliasi pada partai politik berbeda: Masyumi dan NU.

Bagian kedua, The Making of an Intellectual, mengisahkan perjalanan intelektual Gus Dur pada masa belajar di Mesir dan Irak. Ia juga merantau 12 bulan di Belanda, Jerman, dan Prancis, karena ingin kuliah perbandingan agama di Universitas Leiden. Namun ia kecewa, pada 1970 itu seluruh kampus di Eropa belum mengakui alumni Timur Tengah. Akhirnya ia pulang ke Pesantren Denanyar Jombang, Jawa Timur, untuk mengajar.

Bagian ketiga dan keempat yang bertema Islam and Modernity, dan Civil Society and Islam, mengulas angle pemikiran Gus Dur serta kiprahnya memimpin Pengurus Besar NU. Gus Dur ditempatkan sebagai pelopor bangkitnya liberalisme Islam di kalangan anak muda NU serta pembawa NU sebagai kekuatan masyarakat sipil yang independen dari negara. Sampai bab ini, isi buku Barton belum banyak berbeda dengan disertasinya yang diterbitkan Paramadina, berjudul Gagasan Islam Liberal di Indonesia.

Ia masih memotret Gus Dur sebagai pemikir, budayawan, dan aktivis lembaga swadaya masyarakat, belum sebagai politikus. Nilai tambah buku terbaru Barton ini terdapat pada bagian kelima, Politics, Reform and The Precidency. Bagian itu justru menelan hampir separuh tebal buku. Mengisahkan manuver politik Gus Dur menjelang turunnya Soeharto sampai turunnya Gus Dur sendiri. Kekuatan bagian ini, antara lain, pada detail cerita.

Barton, misalnya, mencatat jam berapa telepon genggam Alwi Shihab yang duduk di sisi Gus Dur-- berdering menerima suara Akbar Tandjung mendukung Gus Dur pada Sidang Umum MPR 1999. Pada bagian akhir buku ini, Barton juga mengkritik Gus Dur. Ia menyimpulkan, ada selusin penyebab kejatuhan Gus Dur. Di antaranya berasal dari diri Gus Dur, yaitu tiadanya kesadaran membangun koalisi.

Menjelang kejatuhannya, Gus Dur memang tampil konfrontatif dengan mayoritas parlemen. Padahal, partainya tak lebih dari 11% suara. Namun, Barton tetap berpendapat bahwa tidak bijak bila membaca Gus Dur terlalu literal.

Asrori S. Karni

Jual Buku Roger Garaudy Mitos dan Politik Israel

Judul: Mitos dan Politik Israel
Penulis: Roger Garaudy
Penerjemah: Maulida Khiatuddin
Penerbit: Gema Insani Press, 2000
Tebal: 214 halaman
Buku bekas (cukup)

Terjual Karawang
 

Kaum Yahudi tak pernah absen membuat sejarah. Baik di Alkitab (terutama"Perjanjian Lama'') maupun Al-Quran, kisah-kisah kaum Yahudi ini diabadikan. Etnis yang satu ini dikenal ulet, punya kelebihan dari etnis lainnya. Tapi juga dikenal congkak dan pembangkang terhadap para nabi yang diturunkan di antara mereka.

Dalam Al-Quran dikisahkan. Ketika Nabi Musa meninggalkan kaumnya selama 40 hari untuk menerima Taurat, kemudian kembali ke tengah mereka, kaum itu telah berpaling dari Tuhan. Musa amat murka ketika menemukan kaumnya membuat anak sapi dari emas, yang mereka jadikan Tuhan (Al-Baqarah: 51). Di Al-Quran, sedikitnya 136 ayat menyinggung kaum yang dikenal suka membantah itu.

Kehadiran negara Israel, pada 1948, juga tak jauh dari penindasan nan berdarah-darah. Mereka merampas tanah milik bangsa Palestina dengan kekerasan. Mereka membenarkan agresi itu dengan dalil teologis:"Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari Sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, Sungai Euphrates'' (Kejadian, XV: 18).

Golda Meir, Perdana Menteri Israel pada suatu masa, menyatakan kepada Sunday Times, 15 Juni 1969,"pembenaran'' dalil teologis tersebut."Tidak ada bangsa Palestina...,'' katanya."Ini tidaklah seperti kita mengusir mereka keluar dan mengambil tanah mereka. (Sebab) Mereka tidak ada.'' Tapi, argumen teologis itu dibantah Rabi Elmer Berger.

Dalam ceramah yang disampaikannya di Universitas Leiden, Belanda, 20 Maret 1968, mantan Presiden Liga untuk Judaisme di Amerika Serikat itu mengatakan,"Tidak ada bangsa atau tanah yang suci dan berhak atas keistimewaan apa pun di dunia.'' Selain"tanah yang dijanjikan'', mereka juga punya mitos bahwa etnis Yahudi-lah yang mendapat perlakuan paling kejam selama Perang Dunia II.

Mereka menyodorkan angka empat juta orang Yahudi yang dibantai Adolf Hitler, penguasa Nazi Jerman yang memang termasyhur kejamnya. Tetapi, mengutip harian Le Monde, 23 Juli 1990, Garaudy menulis,"... para ahli sepakat tentang jumlah korban, yang berkisar antara minimal 950.000 jiwa dan maksimal 1,5 juta jiwa'' (halaman 105).

Buku ini ditulis seorang filsuf Prancis, Roger Garaudy, yang beraliran kiri dan kini telah masuk Islam. Dengan studi kepustakaan yang serius lagi jujur, Garaudy dengan piawai membantah mitos-mitos yang dibangun kaum Yahudi. Mitos-mitos itulah, menurut Garaudy, yang selama ini dipakai sebagai pembenar eksistensi negara Israel yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya itu.

Bahkan, Israel bukan hanya sebuah negara, melainkan sudah menjadi berhala yang disembah dan disakralkan. Adalah Profesor Israel Shahak, yang mukim di Israel, menuturkan:"Orang-orang Yahudi percaya dan mengatakan tiga kali sehari bahwa seorang Yahudi harus menyerahkan diri kepada Tuhan, dan hanya kepada Tuhan.''

"Karena mencintai Yahwe, Tuhan kamu, dengan seluruh hatimu, dengan seluruh jiwamu dan seluruh kekuasaanmu'' (Ulangan, VI: 5)."Minoritas yang kecil masih percaya kepada hal itu. Tetapi, menurut saya, mayoritas bangsa Israel telah kehilangan Tuhan mereka, dan menggantikannya dengan sebuah berhala, sama persis ketika mereka memuja anak sapi emas di padang pasir, di mana mereka mengorbankan semua emasnya untuk membuat patung. Nama berhala modern mereka adalah negara Israel'' (halaman 126)

Kini, Israel punya perdana menteri baru, Ariel Sharon, yang dalam sejarah"pengabdiannya'' pada negaranya tak pernah lepas dari lumuran darah penduduk Palestina. Ribuan rumah dihancurkan, ratusan warga dibantai, dan ribuan orang Palestina diusir dari tanah leluhurnya. Apakah Sharon juga akan membangun mitos-mitos baru?

Herry Mohammad

Jual Buku Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam

Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam
Penulis: Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A.
Penerbit: Paramadina, 1999
Tebal: 268 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Harga: Rp. 60.000 (blm ongkir)
Order: SMS 085225918312
 

Buku ini membahas perspektif teologi Islam tentang kerukunan hidup beragama dan konsekuensinya antara umat beragama yang berkaitan erat dengan doktrin Islam tentang hubungan antara sesama manusia dan hubungan antara Islam dengan agama-agama lain.

Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern: Respon dan Transformasi Nilai-nilai Islam Menuju Masyarakat Madani

Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern: Respon dan Transformasi Nilai-nilai Islam Menuju Masyarakat Madani
Penulis: Dr. Nurcholish Madjid et. al. (Komaruddin Hidayat, Bahtiar Effendy, Azyumardi Azra dll.)
Pengantar: Djohan Effendi
Penebit: Mediacita, 2000
Tebal: 551 halaman
Buku bekas (cukup)
Terjual ke Malang


Perkembangan masyarakat kita agaknya memang memerlukan bacaan keagamaan yang lebih relevan dengan tantangan budaya dalam segala aspek kompleksitasnya. Kita mungkin perlu merenungi kembali asumsi-asumsi, idiom-idiom dan paradigma-paradima keagamaan lama kita dalam sorotan tantangan-tantangan yang kita hadapi saat ini. Salah satu tantangan yang kita hadapi saat ini adalah, munculnya fenomena budaya kekerasan dalam masyarakat kita. Atas nama agama, tidak sedikit orang yang merasa dibenarkan melakukan tindakan kekerasan, bahkan kebengisan. Boleh jadi, gejala ini merupakan salah satu perwujudan dari gejala "kehampaan spiritual" yang mungkin dialami masyarakat kita.

Ketika manusia merasa telah berdoa panjang namun hanya gelap yang datang, merasa telah melakukan segalanya tetapi tidak diperolehnya karunia, ia justru terpelanting memungut sengsara, lalu murka ketika melihat Tuhan merangkul "bagundal" yang insyaf. Dalam kondisi sesuram-pucat itulah manusia cenderung menyalahkan Tuhan, cenderung melihat Tuhan berlaku tidak adil. Karena manusia mengira bahwa Tuhan tidak lagi mendengar keluh-kesahnya, tidak juga menyambut ratap-tangisnya, malah tidak jua menghargai segenap amal-baktinya. Bila sekacau-balau ini kondisinya, bagaimanakah kesadaran keagamaan seseorang dapat ditemukan kembali? Agaknya, disinilah Dr. Nurcholish Madjid dkk, dalam buku yang berjudul "Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern: Respon dan Transformasi Nilai-nilai Islam Menuju Masyarakat Madani" ini dihadirkan untuk menjawab pertanyaan fundamental di atas!

Jual Buku Nurcholish Madjid 30 Sajian Ruhani (Renungan di Bulan Ramadlan)

Judul: 30 Sajian Ruhani (Renungan di Bulan Ramadlan)
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Mizan, 2001
Tebal: 276 halaman
buku bekas (cukup) 
Terjual Lubuk Linggau 

Tujuan diperintahkannya puasa kepada orang beriman adalah untuk menjadi lebih bertakwa, yaitu keyakinan kepada yang gaib, mendapatkan penanaman dan peneguhan khusus melalui puasa karena dari semua bentuk ibadah, puasa adalah ibadah yang paling pribadi, personal, atau private tanpa kemungkinan bagi orang lain untuk dapat sepenuhnya melihat, mengetahui, apalagi menilainya.

Ibadah puasa juga mengandung hikma kemanusiaan yang diperteguh melalui pelatihan menahan diri, menanggung derita sementara untuk kebahagian jangka panjang di waktu yang akan datang, dan mempertajam kemampuan empati. Lewat puasa, seseorang akan mampu akan merasakan secara total penderitaan orang-orang yang kelaparan.

Buku ini dirancang untuk menumbuhkan pengertian mengenai makna amalan di bulan Ramadlan, dibuat secara populer dan secara praktis sebagai renungan harian selama bulan suci ini. Tersedia tiga puluhn renungan harian yang bisa dibaca setiap hari. Dalam tiga puluh hari puasa, dengan merenungkan dan mengamalkan isi buku ini, Anda akan memperoleh wawasan yang dapat membimbing Anda menjalani ibadah puasa secara terarah sehingga tercapailah tujuan puncak puasa, yaitu takwa.

"Cak Nur tidak saja menjelaskan hakikat puasa, tetapi juga telah tampil sebagai mufasir Al-Qur'an , sehingga menjadikan buku ini memiliki nilai lebih." Kompas, 10 Januari 1999

Tujuan diperintahkannya puasa kepada orang beriman adalah untuk menjadi lebih bertakwa (QS Al-Baqarah [2]: 183). Unsur utama takwa, yaitu keyakinan kepada yang gaib, mendapatkan penanaman dan peneguhan khusus melalui puasa karena dari semua bentuk ibadah, puasa adalah ibadah yang paling pribadi, personal, atau privat tanpa kemungkinan bagi orang lain untuk dapat sepenuhnya melihat, mengetahui, apalagi menilainya. Ibadah puasa juga mengandung hikmah kemanusiaan yang diperteguh melalui pelatihan menahan diri, menanggung derita sementara untuk kebahagiaan jangka panjang di waktu yang akan datang, dan mempertajam kemampuan empati. Lewat puasa, seseorang akan mampu merasakan secara total penderitaan orang-orang yang kelaparan. Buku ini dirancang untuk menumbuhkan pengertian mengenai makna amalan di bulan Ramadlan, dibuat secara populer dan praktis sebagai renungan harian yang bisa dibaca setiap hari. Dalam tiga puluh hari puasa, dengan merenungkan dan mengamalkan isi buku ini, Anda menjalani ibadah puasa secara terarah sehingga tercapailah tujuan puncak puasa, yaitu takwa.

Jual Buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib

Judul: Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib
Penulis: Ahmad Wahib
Penerbit: LP3ES, 2003
Tebal: 414 Halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 45.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Bagi pembaca yang tidak mengenalnya secara pribadi, sulit mendapatkan kesan utuh tentang diri Ahmad Wahib hanya dari bukunya ini. Pemikir muda muslim yang mati muda ini (1943-1973), menyajikan dalam catatan harian yang diwariskannya, beberapa kepingan yang mungkin dapat menyajikan gambaran lengkap tentang kepribadian yang bulat, hanya setelah pengenalan pribadi yang cukup lama. Ketulusan untuk memperoleh kebenaran dengan pertaruhan tertinggi. Keberanian menghadapkan diri sendiri kepada masalah-masalah keimanan terdalam –yang berarti pengakuan penuh atas keraguan mendasar dalam hati sendiri. Dan kemampuan untuk memetik pelajaran dari pihak mana pun. Semua itu adalah hal-hal yang saling bertentangan tetapi berkembang dalam hidup Ahmad Wahib.

Mengejar kebenaran secara tuntas mengandaikan kepastian sikap yang penuh — katakanlah semacam lan vitalnya seorang filosof. Sedangkan introspeksi ke dalam, justru menampakkan wajah yang berkebalikan. Lalu bagaimana pula keduanya harus dipertalikan dengan kelemahan hati seorang yang mampu belajar dari siapa pun? Sulit diketahui ‘bagaimananya’ pergolakan pemikiran Ahmad Wahib. Terlebih-lebih kalau diteropong dari sisi lain watak hidupnya sendiri: kebimbangan (atau justru rasa rendah dirinya?) untuk mewujudkan tindak lanjut bagi ikatan kasih yang dijalinnya dengan seorang gadis, umpamanya. Atau sifat pemalunya yang demikian besar. Kesan tiadanya keutuhan gambaran itulah yang muncul dari membaca buku ini. Padahal pribadi yang digambirkan justru sangat kuat proyeksinya kepada pembaca sebagai sesuatu yang utuh! Hanya orang tidak tahu keseluruhan wajah keutuhan itu sendiri. Di sinilah harus disayangkan kegagalan kata pengantar Prof. Dr. A. Mukti Ali dan pendahuluan Djohan Effendi.

Sebagai bekas pembimbing intelektual-keagamaan dan kawan terdekat Ahmad Wahib, seharusnya kedua orang tersebut menjelaskan secara terperinci aspekaspek pergulatannya yang tidak tertangkap oleh orang lain. Manakah gambaran jelas tentang bermulanya proses itu? Dera apakah yang harus dijalani Ahmad A’ahib dalam hidupnya, yang membentuk kepribadiannya? Sejauh manakah pemikir muda ini disengsarakan kejujurannya yang demikian mutlak itu? Kita tahu ia harus bergulat, tetapi apa lingkup pergulatannya, kesakitannya sewaktu menjalani proses tersebut, harapan yang dirumuskannya sebagai uung pergulatan?

Tetapi yang luar biasa dari buku ini adalah kenyataan akan tingginya intenitas pergulatan pemikiran dalam diri Ahmad Wahib. Tanpa ada kejelasan situasinya sekalipun, kita tetap merasakan betapa besar arti pergulatan itu bagi diri Ahmad Wahib sendiri dan bagi temanteman sejawatnya. Bahkan mungkin bagi perkembangan Islam sendiri, di sini! Begitu kuat keterlibatan Ahmad Wahib kepada penentuan masa depan agama yang dicintainya itu, terasa bagi kita. adahal, tetap saja tidak jelas apa visinya akan masa lampau agama tersebut. Kalau ia dapati kekurangan sedemikian mendasar di dalamnya, mengapakah Ahmad Wahib tidak menolaknya? Bahkan, sebaliknya, ia lebih dalam mencintainya –bagaikan orang mencintai pelacur walaupun tahu apa yang dilakukan pelacur itu sehari-hari.

Berpikir Nisbi Dalam pernyataannya bahwa ia harus meragukan adanya Tuhan untuk dapat lebih merasakan makna kehadiran-Nya (hal. 23, 30 dan 47, umpamanya), jelas menunjukkan kebutuhannya sendiri kepada Tuhan yang itu-itu juga–bukannya Tuhan yang lain hasil ‘buatannya’ sendiri. Inilah yang merupakan inti kehadiran Ahmad Wahib dalam kehidupan kaum muslimin kita di permulaan tahun tujuhpuluhan ketundukannya yang penuh kepada Yang Mutlak, dengan menggunakan cara-cara berpikir nisbi. Selebihnya menarik Jterutama sebagai kesaksian historis akan potensinya yang besar di bidang pemikiran keagamaan seandainya ia tidak mati begitu muda. Betapa ia mengerti hakikat ‘kebidatan’nya NU, sambil tetap tidak mampu melepaskan diri dari belenggu kecintaan kepada HMI. Betapa pandainya ia memaki kawan seiring, karena kepengecutan mereka dalam menanggung konsekuensi logis pemikiran mereka. Tetapi sambil merasa ketakutan, bahwa ia akan menganiaya mereka dengan tuntutan-tuntutan terlalu berat. Dan betapa Ahmao Wahib mampu mengajukan begitu banyak pertanyaan fundamental kepada teman-teman seagamanya, padahal ia sendiri sangat kekurangan pengetahuan dasar tentang pemikiran keagamaan itu sendiri !

Ia menyadari bahwa keterlibatannya kepada ‘pembaharuan Islam’ justru muncul dari kenyataan begitu besarnya kemelut kehidupan kaum muslimin sendiri. Dengan kata lain, Ahmad Wahib sedalam-dalamnya menyadari bahwa hanya satu-dua orang saja yang akan mampu mengikutinya. Sisanya, tetap saja berada dalam kemelut mereka. Toh ia tak juga mau meninggalkan upaya ‘meningkatkan keimanan’ mereka, meskipun ia tahu akan gagal total. Dilakukannya itu tidak lain karena kecintaannya kepada Islam yang ‘apa adanya saja’, sebagaimana tampak di pelupuk matanya. Upayanya memberonak tidak lain karena ketakutan akan irelevansi ‘Islam apa adanya’ itu bagi orang lain di kemudian hari, bukan bagi dirinya.

Ternyata, kalau dilihat dari sudut ini, Ahmad Wahib merupakan sisi lain dari mata uang yang sama: ketakutan akan erosi keimanan kaum muslimin di kemudian hari. Wajah satunya lagi, adalah kuatnya kecenderungan sementara lulusan dan jebolan disiplin ilmiah eksakta untuk mengajukan ‘kebenaran’ Islam secara formal. Ahmad Wahib sendiri adalah dari kelompok ‘jebolan eksakta’, yang kemudian lari ke filsafat. Tetapi ia mellolak formalisme seperti itu. Namun tetap saja ia melakukan kerja mengukuhkan kehadiran Islam, seperti ‘kaum formalis’ itu. Mengukuhkan Agama Memang, sedalam-dalamnya Ahmad Wahib adalah seorang muslim dengan keimanan penuh. Pemberontakan yang dilakukannya justru bertujuan mengukuhkan agama yang diyakininya itu. Bak tukang batu yang menghantamkan palunya ke tembok, untuk menguji kekuatan dan daya tahan tembok tersebut.

Siapa dapat mengatakan menjadi ‘muslim bergolak dan pemberontak’ seperti Ahmad Wahib ini lebih rendah kadarnya dari ‘kemusliman’ mereka yang tidak pernah mempertanyakan kebenaran agama mereka sekali pun? Kutipan berikut dari catatan harian Ahmad Wahib dengan tepat menggambarkan kesimpulan itu. “Aku bukan nasionalis, bukan katolik. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin bahwa orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia”. (hal. 46). Alangkah mulianya pribadi Ahmad Wahib, dan alangkah sempurna kemuslimannya.

Oleh: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Jual Buku Beyond Belief: Esai-esai Tentang Agama di Dunia Modern

Judul: Beyond Belief: Esai-esai Tentang Agama di Dunia Modern
Penulis: Robert N.Bellah
Penerjemah: Rudy Harisyah Alam
Pengantar: Olaf Schuman
Penerbit: Paramadina & The Ford Foundation, 2000
Tebal: 474 halaman
Buku bekas (cukup) 
Terjual by Karang Anyar


Kita beriman tanpa iman, melampaui iman (We believe without belief, beyond belief). Kutipan Robert N. Bellah dari syair Wallace Stevens itu menggambarkan isi buku ini, yang sekaligus meminjam judul syair itu, Beyond Belief. Bellah dewasa ini adalah profesor (emeritus) sosiologi paling terkemuka di Amerika Serikat.

Namanya begitu besar di sana, sehingga kalau dia memberikan ceramah, pendengar datang bagaikan menghadiri sebuah showbiz para selebriti. Ia begitu terkenal, bukan hanya di kalangan akademisi, melainkan juga bagi peminat awam yang ingin mengetahui segi-segi yang menarik dari kehidupan keagamaan dalam masyarakat.

Ia juga dikenal karena telah menyumbangkan pemahaman yang mendalam, yang dalam bahasa Indonesia sekarang mungkin bisa diterjemahkan dengan"Agama Madani'' -istilah untuk civil religion. Buku Beyond Belief: Esai-esai tentang Agama di Dunia Modern ini aslinya diterbitkan pada era 1970-an, tentu saja dengan ilustrasi situasi keagamaan Amerika yang pada waktu itu sangat optimistis mengenai sekularisasi pada dekade 1960.

Tetapi, ia bukanlah seorang sosiolog agama yang mau mempromosikan sekularisme. Bellah lebih sebagai ahli yang menaruh agama dalam dunia privat, yang dipisahkan dari negara, tetapi dalam bingkai transendensi yang malah diharapkan dapat memberikan nilai-nilai umum dari agama-agama itu, dalam kehidupan sosial-politik. Inilah civil religion itu.

Beragama, bagi Bellah, tidaklah berhenti pada simbol. Yang disebut"melampaui iman'' itu menunjukkan bahwa simbolisme tadi, kendati tak dapat dihindari, tidaklah final, melainkan bersifat sementara. Sebab, manusia -tentu saja dengan agamanya- akan terus- menerus mencoba memaknai dan memberikan konsepsi-konsepsi baru tentang kehidupan ini, yang jelas akan membawanya pada rahasia kemanusiaan itu sendiri secara lebih mendalam.

Buku Bellah, yang sangat apresiasif terhadap usaha"menemukan kembali arti agama'', ini mempersiapkan kita untuk melihat segi yang positif dari agama, dalam suatu wacana civil society. Sebelumnya, orang menaruh agama pada bingkai komunitas. Agama tidak menjadi urusan masyarakat urban yang pluralistis dalam hal tata nilai.

Karena itu, hanya nilai-nilai sekuler yang bisa mengikat dalam civil society, atau nilai-nilai tradisional lainnya. Dalam civil society, nilai-nilai yang sifatnya sekuler itu disepakati bersama dalam aturan hukum. Sebuah kata pengantar sengaja diminta untuk melihat relevansi pandangan Robert N. Bellah ini dalam konteks Indonesia.

Kata pengantar dibuat oleh Prof. dr. Olaf Schumann, guru besar Islamologi pada Universitas Hamburg, Jerman. Olaf pernah 10 tahun bekerja sebagai ahli Islam pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, dan selalu menjadi promotor ujian doktor dalam studi Islam pada beberapa STT di Indonesia dan Malaysia. Dalam pengantarnya, ia menekankan pentingnya agama bebas dari -atau secara relatif dipisahkan dari- negara.

Pembaca muslim yang melihat buku ini pasti akan tertarik pada artikel nomor delapan,"Tradisional Islam dan Masalah Modernisasi''. Tulisan ini sangat artikulatif dalam menggambarkan segi-segi modernitas Islam. Begitu modernnya Islam itu, tetapi karena perangkat kelembagaan sosial-politiknya belum ada, modernitas Islam pun gagal mewujudkannya dalam kenyataan kehidupan sosial-politik umat Islam pada waktu itu.

Sebagai sebuah renungan orang Amerika atas refleksi nilai-nilai agama Protestan di Amerika Serikat, buku ini sangat menarik bagi kita, bahkan relevan dengan kondisi kita sekarang ini. Pertanyaan yang muncul ketika membaca buku ini: apakah dengan kondisi antaragama yang cenderung tidak toleran dalam kehidupan sehari-hari umat beragama di Indonesia sekarang ini, gagasan civil religion bisa diwujudkan? Inilah pekerjaan rumah kita bersama.

Budhy Munawar Rachman

Jual Buku Perempuan dalam Dunia Kakawin

Judul: Perempuan dalam Dunia Kakawin: Perkawinan dan Seksualitas di Istana Indic Jawa dan Bali
Penulis: Helen Creese
Penerbit: Pustaka Larasan, 2012
Tebal: 330 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Terjual Jakarta


Kakawin atau cerita berformat puisi adalah warisan yang kaya dalam sejarah klasik di Indonesia. Meski fiksi, kakawin tetap penting sebagai sumber informasi perihal posisi sosial kehidupan masyarakat Indonesia di zaman kerajaan kuno. Kakawin terutama bisa dimanfaatkan untuk menilai posisi sosial perempuan, khususnya perempuan keraton.

Kakawin melambangkan pujian umum terhadap kekuasaan istana dan capaian hegemoni melalui kemenangan dalam perang dan persekutuan melalui perkawinan. Wanita yang digambarkan dalam kakawin merepresentasikan konstruksi yang diidealkan mengenai kaum elite istana yang sebagian besar laki-laki dan berkuasa secara politis.

Dalam dunia yang diciptakan oleh penyair, kakawin juga merupakan dunia elite, yakni sebuah dunia yang diikat oleh aturan-aturan lingkungan sosial istana yang sangat ketat. Dan, kakawin juga memberikan model perilaku yang pantas dan perlu ditiru oleh mereka yang memiliki hubungan dekat dengan istana.

Di dalamnya ditekankan kewajiban sosial para laki-laki dan perempuan dari kalangan kesatria, atau kelas pemimpin, yaitu kelompok sosial asal para penguasa yang menjadi patron perpuisian. Tidaklah mengejutkan kalau sumber-sumber kakawin tidak memberikan gambaran umum tentang masyarakat, tetapi sebaliknya merefleksikan kepentingan dan keinginan para elite sosial.

Sebab, dalam hampir semua kakawin, tokohnya dari kalangan bangsawan. Kalaupun ada orang biasa masuk dalam cerita kakawin, mereka adalah abdi dan pembantu yang juga merupakan bagian dari dunia istana.

Kakawin juga bukan merupakan ungkapan kreativitas individu (penyair). Dalam buku ini, Helen Creese menegaskan, para fungsionaris religius di kalangan istana kerajaan di Jawa dan Bali --yang menyandang gelar mpu-- bertugas sebagai juru tulis dan tata usaha pengkajian dalam melestarikan naskah-naskah religius dan sekuler. Mereka ini juga berperan pementasan lisan atau melantunkan karya-karya sastra pada waktu diadakan upacara tertentu.

Ini bersesuaian dengan kajian yang dilakukan P.J. Zoetmulder dalam Kawi and Kakawin (1974), yang menunjukkan peran penyair hanya sebagai anggota keluarga istana, mendampingi rajanya saat bepergian, berburu, dan bahkan saat berperang. Kajian itu secara tidak langsung memberikan pengertian yang sangat berarti bagi pemahaman terhadap hakikat dan fungsi penyair kakawin, serta cara mereka memuji keindahan dan cinta.

Kakawin tertua, Kakawin Ramayana dalam bahasa Jawa Kuno, ditulis pada pertengahan abad ke-9 dan berakhir pada abad ke-15 atau awal abad ke-16, saat jatuhnya kerajaan Hindu Jawa terakhir. Sebagian besar karya kakawin pra-Islam yang masih bertahan ditulis oleh para penyair istana berada di bawah dukungan penguasa dan bangsawan dalam kerajaan Indic di Jawa. Sementara di Bali, kakawin berkembang sampai akhir abad ke-19 dan berakhir pada saat pengintegrasian Pulau Bali ke dalam wilayah kerajaan kolonial Belanda pada 1908.

Korpus kakawin Bali mencirikan keragaman yang menunjukkan bahwa penulisannya tersebar luas di luar istana. Kira-kira separuh karya kakawin Bali berupa kakawin epik. Sisanya, berupa puisi-puisi lirik yang lebih pendek yang mengandung berbagai topik termasuk tema-tema religius, moral, dan didaktik. Sejumlah kakawin juga berisi seni penulisan kakawin dan beberapa teks lirik pendek yang secara umum dapat dipandang sebagai puisi cinta.

Buku ini mencoba melihat representasi perempuan dan seksualitas serta pranata-pranata istana dan perkawinan dalam kerajaan-kerajaan pengaruh India (Indic) di Jawa dan Bali melalui tradisi kakawin. Helen Creese memulai penelusuran dari para wanita dalam dunia istana—dalam dunia kakawin.

Fokus perhatiannya terletak pada putri-putri bangsawan dan lingkungan pelayan serta dayang-dayangnya yang tinggal di pusat istana yang menjadi latar belakang cerita kakawin. Menelusuri pengalaman mereka dari awal kebangkitan dan kesadaran seksual melalui proses panjang hubungan romantik masa pacaran sampai perkawinan dan pemuasan hasrat seksual.

M. Nafiul Haris
Peneliti di el-Wahid Center, Universitas Wahid Hasyim, Semarang

Jual Buku Kumpulan Budak Setan

Judul: Kumpulan Budak Setan
Penulis: Intan Paramaditha, Eka Kurniawan, Ugoran Prasad
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2010
Tebal: 192 halaman
Buku baru (segelan)
Terjual Bandung


Tetap ingatkah anda pada abdullah harahap ? untuk anda yang suka cerita-cerita horor lebih kurang th. 70-80-an pasti ingat benar abdullah harahap yang senantiasa bercerita sekitar balas dendam, seks, pembunuhan, dan motif-motif cerita setan, arwah penasaran, objek gaib ( jimat, topeng, susuk ), serta manusia jadi-jadian.

namun untuk anda yang tidak ingat dikarenakan tidak paham, janganlah cemas dikarenakan anda saat ini dapat diajak tiga penulis muda memiliki bakat ; eka kurniawan, intan paramaditha, serta ugoran prasad untuk melacak jejak cerita-cerita horor yang diusung abdullah harahap didalam sesuatu buku berjudul himpunan budak setan.

dari membaca judul bukunya serta penampilan sampulnya memperlihatkan wanita wajahnya seram dengan berceceran darah, kita dibikin merinding, terlebih untuk membaca cerpen-cerpen didalamnya. namun kembali saya mengingatkan anda untuk tidak cemas dikarenakan ketiga penulis itu tidak sebatas mengulang cerita-cerita horor, tetapi dengan penuh kesadaran mengambil sudut cerita yang aktual dengan kondisi saat ini.

makin penasaran bukan hanya ? layaknya apa cerpen-cerpen horor didalamnya yang dikatakan aktual dengan kondisi saat ini ? lantas apa yang sesungguhnya di tawarkan dari buku gabungan cerpen ini ?

membaca lagi, menakar kebebasan
walau penulisan buku ini berangkat dari membaca lagi karya-karya abdullah harahap, namun serta-merta terjerat tema cerita-cerita horor yang diusungnya, dikarenakan nyatanya ketiga penulis tersebut kelihatannya coba menuntaskan dahaga penasarannya untuk lantas menakar kebebasan bercerita yang pasti cocok dengan daya kreatif mereka tiap-tiap. dimulai dari eka kurniawan yang pada 2004 menulis cerita horor manusia harimau itu tidak terus-terusan mengangkat tentang mistiknya, layaknya pada cerita “jimat sero” ( perihal 31-41 ), namun ia coba suatu hal yang baru dengan style khas berceritanya untuk menguji kemampuan gaib jimat itu.

ada logika yang eka gunakan didalam bercerita untuk tidak serta-merta segera menyimpulkan bahwa benda bernama jimat itu memanglah mempunyai kemampuan ghaib, namun lebih pada kondisi psikis tokoh utama saya yang dihadapinya saat berhadapan dengan lawan cerita didalamnya yang bikin jimat lantas mempunyai ìkekuatanî. akhir cerita apalagi dibikin amat mengejutkan dikarenakan yang memberinya jimat, artinya ìmemberi kemampuan lebih pada dirinyaî, justru lantas berkhianat dengan meniduri kekasihnya, namun ia tidak dendam, namun cuma membiarkannya. anehnya apalagi ia senang-senang saja.
akhir cerita layaknya ini barangkali ìmenjadi lainî seandainya di tangan abdullah harahap.

begitupun dengan intan paramaditha yang dulu menulis himpunan cerita horor sihir wanita ( 2005 ).
di antara cerpennya “goyang penasaran” ( perihal 43-58 ) yang mengangkat cerita sehari-harinya di penduduk kita, yakni perihal tokoh utama salimah, penyanyi dangdut yang mati tragis sekali dikarenakan digebuki massa. sesuatu cerita yang sesungguhnya kental tentang seksualitas dengan dibumbui ada intrik-intrik politik, namun dikemas dengan langkah tidak sama dikarenakan di akhir cerita intan sekilas ” membangkitkan” salimah dengan pesona cerita yang terus menampilkan salimah menggoda dengan goyangan erotis hingga bikin orang dapat senantiasa penasaran.

style bercerita layaknya itu tampaknya dampak dari cerita film horor ala barat yang tidak serta-merta berhenti pada seorang tokoh antagonis mati, namun pada pesona cerita tokoh yang menarik perhatian pemirsa supaya pemirsa penasaran.

walau sekilas namun dapat terus membekas hingga terbuka kesempatan untuk sambungan cerita selanjutnya. barangkali dikarenakan intan dulu lakukan penelitian serta lantas dibukukan perihal film berkenaan dengan wacana politik, seksualitas, serta ( trans )nasionalisme.

hasrat bebas
adapun ugoran prasad terlihat mengangkat fenomena sadisme yang saat ini makin menggejala berlangsung di penduduk kita. simak saja cerpennya “hidung iblis” ( perihal 153-170 ). simak juga tokoh utama mirna yang narsis demikian dingin dengan suaminya sampai hingga pada kematian sang suami ia tidak bersedih dikarenakan suami dianggapnya sebagai seorang budak.

layaknya pada pengantar buku ini, ketiga penulis mengerti sebagai budak sejati, mereka juga ada di dalam-tengah : pada hasrat untuk merdeka serta kesetiaan tidak terjelaskan. kita pasti cukup tahu, sebagai penulis kreatif pasti mereka pingin kebebasan saat mengunakan imajinasi serta lantas menuangkannya didalam tulisan, walau mereka mesti terus merujuk pada karya-karya abdullah harahap.

nama abdullah harahap memanglah tidak jadi sisi dari kanon sastra indonesia, namun karya-karyanya walau dinilai sebagai novel horor ” picisanî terlihat menempel di hati penduduk. ini memanglah masalah serius yang terus menghinggapi dunia kepenulisan kita di indonesia hingga tetap nampak dikotomi pada pop serta sastra. ada yang tetap terus di lokasi pop dikarenakan dengan demikian penduduk pembacanya terus banyak, namun ada juga yang terus ” serius” di lokasi sastra walau karyanya tidak dilirik penduduk dikarenakan memanglah ia n menyakini jalur ditempuhnya yaitu ” jalur sunyi”.

penerbitan buku ini semoga dapat menjembatani ke-2 kubu itu. dapat dikatakan sebagai karya pop yang sastra atau sastra yang pop. apalagi dapat juga mempunyai kubu sendiri dikarenakan layaknya keberanian mereka menentukan tema cerita horor. begitupun dengan karyanya dikarenakan ceritanya realitas berlangsung di dalam penduduk, namun tidak terus-terusan menceritakan perihal yang ada di permukaan, tetapi lebih ke didalam lagi pada perenungan mereka yang mendalam perihal hidup serta kehidupan.

Jual Buku Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim

Judul: Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim
Penulis: Ziauddin Sardar
Penerbit: Mizan, 1991
Tebal: 355 halaman
Buku baru stok lama 
Terjual Jakarta Pusat 

1 tahun lantas, indonesia dulu kehadiran tamu seorang tokoh pemikir islam yang unik serta futuristik. dia bukan hanya jenis pemikir yang senang bermimikri dengan trend yang lagi hot. namun dia berkelanjutan dengan prinsipnya untuk menggarap tema-tema hari esok islam ( islamic future ) dengan progresif. dialah ziauddin sardar. sebelum saat kenal orangnya dengan segera, penduduk indonesia ghalibnya berteman melalui karya-karyanya ( terjemahan ) yang bertebaran pada jaman 1980-an. diantaranya : rekayasa hari esok peradaban islam ( mizan : 1986 ), hari esok islam ( pustaka : 1987 ) ; serta sebagian tulisan lepasnya banyak kita temui di jurnal ulumul qur’an.

tidak dinyana, pada dekade 1990-an, pemikiran sardar sudah menerangsak ke penjuru pelosok nusantara. nama ziauddin sardar tersohor dengan konsep-konsepnya perihal pembagunan, sains, ekonomi, serta sederetan isu yang lain yang amat relevan dengan keadaan umat islam saat itu. sampai saat ini, dia populer dengan sosok pemikir yang integral saat merumuskan ‘kekinian’ ( periode saat ini ) sebagai pijakan passing over untuk ‘keesokan’ ( hari esok ).

nuansa berpikir jenis ini diantaranya dapat kita temui didalam islam, postmodernism, and other futures ( 2003 ). sardar mewanti-wanti, “apa yang kita sebut sebagai hari esok tidaklah netral serta memiliki kandungan bias-bias ideologis serta kultural. ” tiap-tiap kajian yang concern dengan hari esok tentu didahului dengan pra-andaian spesifik yang dengan implisit pingin mengarahkan kencenderungan-kecenderungan periode saat ini menuju hari esok “alamiah”, yakni hari esok yang berlangsung menurut konsekuensi-konsekuensi logis dari periode saat ini. dikarenakan itu, tiap-tiap kajian futuristik nyaris senantiasa adalah self fulfilling prophecy yang berupaya meramalkan perubahan di periode mendatang dengan kerangka yang kita bangun di periode saat ini.

irit penulis, ada dua perihal yang menarik didalam pemikiran intelektual kelahiran pakistan yang dibesarkan di inggris ini. pertama, restorasi peran umat islam supaya jadi “agen sejarah”. serta ke-2, terobosan pemikirannya perihal “syari’at islam”.

bertindak sebagai “agen sejarah”
penulis teringat dengan ungkapan kang jalal ( 1999 ), “sejarah bukan hanya berlangsung demikian saja, namun disebabkan dari rekayasa sosial. ” irit saya, bila umat islam tidak memiliki peran, maka histori hidupnya—secara tidak langsung—akan senantiasa ditentukan oleh orang lain. perumpamaan konkritnya ya layaknya keadaan negara kita sekarang ini, ketergantungannya dengan luar negeri ( asing ) amat luar biasa. masalah inilah yang dikira sardar mutlak untuk diketahui oleh umat islam supaya mereka melek serta tidak nostalgia terus dengan periode lantas.

untuk sardar, di antara hambatan utama kebangkitan umat islam yaitu mentalitas abad pertengahan yang pasif, yang beberapa besar dibentuk oleh memahami determinisme didalam teologi skolastik. serta sekarang ini, mentalitas jenis ini mesti diusir jauh-jauh karena dapat menghalangi peran umat islam sebagi “agen sejarah”. umat islam waktunya mengerti bahwa merka mempunyai kebebasan mutlak untuk mewujudkan dambaan serta harapan mereka. umat islam mesti kerap ‘berkotemplasi’ untuk mendapatkan ‘diri’-nya supaya tidak quo vadis serta terus statis.

ketidakdewasan umat islam, satu contoh menurut sardar, tercermin waktu momen 11 september 2001 ( baca : terorisme ). saat bencana memilukan itu berlangsung, banyak umat islam menyalahkan amerika serta berasumsi terorisme sebagai disebabkan dari beragam kebijakan hegemoniknya. walau sebenarnya, sardar mengingatkan, “hegemoni tidak senantiasa ditimpakan, terkadang ia diundang. ingat, kondisi internal didalam islam yaitu sesuatu undangan terbuka. ” masalah terorisme pasti hanya satu ilustrasi kecil dari begitu kompleksnya probhlem internal umat islam. karena sangat banyaknya masalah yang dihadapi, umat islam seakan mengidap apa yang diistilahkan sardar—dalam artikel yang tidak lama ditulis sesudah perihal itu—sebagai a deep state of denial : penyangkalan bahwa umat islam dengan inhern bertanggung jawab atas semua perihal yang saat ini mereka alami ( baca, ziauddin sardar, islam has become its enemy, the observer, 21/10/2001 ).

keadaan diatas mencerminkan bahwa kesediaan terima kritik dengan terbuka belum jadi kesadaran umum. dikarenakan itu, beberapa intelektual muslim tetap butuh berkerja keras untuk terus-menerus menyadarkan umat islam dapat problem-problem intelektualnya. kritik itu dibutuhkan bukan hanya saja untuk mengasah kepekaan mereka pada realitas eksternal, namun lebih didalam lagi untuk mengembalikan umat islam pada “kecemasan purba” ( angst ) yang sepanjang ini mereka bentengai dengan ilusi serta romantisme kejayaan periode silam. sungguh ironis.

dikarenakan itu, menurut sardar, supaya umat islam bisa bertindak sebagai ‘agen sejarah’ serta bangun dari keterpurukan, maka kecemasan-kecemasan tersebut mesti dilewatkan menyembul ke permukanan, baru sesudah itu lakukan otokritik sebagai fasilitas ‘berkaca’ untuk mengevaluasi diri serta mengkreasi jalan keluar alternatif beserta kemungkinan-kemungkinan yang dapat berlangsung. ( islam, postmodernism, and other futures, 2003 ). karena, umat islam dapat mengerti dirinya serta tidak gampang menyalahkan orang lain, dan kiat yang dilancarkan lalu dapat berarti didalam histori.

syari’at sebagai metodologi, bukan hanya hanya aturan
persepsi yang berkembang di umumnya penduduk indonesia tentang syari’at islam yaitu hukum cambuk, potong tangan, rajam, khilafah islamiyah dan lain-lain. seluruh itu tidak lain yaitu pemaknaan syari’at sebagai aturan atau hukum resmi. perumpamaan konkrit masalah ini yaitu hukum cambuk yang telah berlaku di nangroe aceh darussalam. logika sederhananya, bila ada maling tertangkap kok tidak dihukum cambuk bermakna tidak menggerakkan syariat islam.

pemikiran ini bertolak belakang dengan sardar. baginya, syari’at—yang bermakna “jalan”—sebenarnya adalah metodologi atau kerangka berpikir pragmatis yang spesial didesain untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan umat islam selama zaman. karenanya, syari’at sediakan prinsip-prinsip pokok yang bisa dimodifikasi cocok dengan keperluan temporal yang beralih. contohnya prinsip maslahah yang mengedepankan kemaslahatan publik, atau prinsip al-dharuriyiyat al-khamsah yang menanggung hak-hak asasi manusia sebagai individu. seluruh prinsip ini, bila diaplikasikan dengan optimal, dapat membuahkan rumusan konkret perihal demokrasi, keadilan, ham, pluralisme, serta beragam isu kontemporer yang lain.

 maka sungguh sayang seribu sayang bila saat ini syari’at sudah direduksi jadi hanya aturan-aturan fikih. menurut sardar, pemaknaan syari’at sebagai hukum resmi yaitu justru kurangi bobot syari’at sendiri sebagai metodologi yang workable. serta sebagai konsekwensinya, syari’at dapat gampang usang bila dihadapkan dengan problem-problem ‘kekinian’ serta ‘keesokan’. lantas pertanyaannya yaitu bagaimana jadikan syari’at sebagai metodologi yang siap gunakan ?

untuk sardar, perihal tersebut dapat dikerjakan gunakan dua pendekatan. pertama, syari’at mesti dipandang dengan holistik, yakni tiap-tiap aspek hukum atau ketetapan yang berkenaan dengan tujuan vertikal ( teosentris ) ataupun horisontal ( antroposentris ). saat syari’at dilihat sebagai kesatuan yang integral, maka penerapan tiap-tiap hukum tak lagi berbenturan dengan aspek lain yang lebih mendasar atau prinsip etis yang dijunjung oleh syari’at.

karena, tidak masuk akal apabila didalam sesuatu penduduk yang dirundung kemiskinan, kita mengaplikasikan hukum potong tangan sesukanya pada seseorang yang mengambil dikarenakan terpaksa. begitupun, didalam sesuatu penduduk yang plural dengan beragam umat beragama, ketentuan-ketentuan syari’at tidak bisa diberlakukan jika sebagai norma etis untuk menjaga toleransi serta menghindar berlangsungnya kekerasan pada grup lain. nilai-nilai syari’at bisa menumbuhkan sikap respek pada komune beragama lain, dikarenakan inilah pijakan etis syari’at saat menyikapi perbedaan agama.

ke-2, meletakkan syari’at dengan gradual cocok dengan konteks historis. berarti, penerapan syari’at ini bukan hanya bermakna memformalkan, namun bagaimana kita dapat mengambil intisari dari nilai-nilai yang terdapat didalam syari’at. butuh diingat, bahwa meletakkan syariat hanya aturan formal—seperti yang banyak didapati di negara-negara muslim—terbukti cuma melahirkan tatanan sosial yang semu yang dibangun diatas ketakutan serta penderitaan orang banyak. serta tak hanya itu, implementasi syari’at sejenis ini juga beruntung ulama sebagai hanya satu penafsir yang otoroitatif, yang bermakna hilangnya partisipasi publik didalam pengambilan ketentuan. didalam kondisi ini, syari’at dengan gampang dimanipulasi untuk membetulkan otoritarianisme serta menampik demokrasi. ( the syari’at as masalah solving methodology didalam islamic futures : the shape of ideas to came, 1985 ).

demikian pentingnya fungsi syari’at didalam kehidupan, terlebih sekarang ini gelombang modernisasi serta liberalisme sedang menempa di antero jagad. umat islam mesti dapat meletakkan syari’at pada porsinya, supaya tidak menyebabkan kerancuan serta menelorkan fatwa-fatwa yang sepihak serta tendensius. dikarenakan itu, saat ini umat islam dituntut pro aktif untuk memfalsifikasi kebenaran yang mereka yakini dengan berdialog dengan gawat dengan grup lain. dengan langkah demikianlah, umat islam bisa menghadirkan syari’at sebagai wujud penghargaan pada perbedaan serta pluralitas. syari’at tak akan jadi sumber perpecahan, tetapi fondasi untuk kontinuitas kerja sama antaragama di masa-masa mendatang serta pelopor pergantian menuju kemaslahatan.

***
begitulah sosok sardar serta sekilas pemikirannya. saat ini, di dalam kesibukannya sebagai guru besar postcolonial studies di city university, london, dia tercatat sebagi ubahor terus futures serta third text, dua jurnal bergengsi yang spesial mendalami studi-studi kebijakan serta rencana ( plannieng and policy studies ), dan isu-isu mukhtahir perihal budaya kontemporer. tak hanya itu, dia juga mengelola center for policy and future studies di kampus est west, chicago, sesuatu instansi akademis yang spesifik pada kajian-kajian futuristik. dikarenakan ketekunan pemikiran serta kajiannya di bidang futuristik, oleh kelompok umur islam, dia dijuluki sebagai ‘arsitek’ hari esok islam.

Jual Buku Ijtihad dalam Sorotan

Judul: Ijtihad dalam Sorotan
Penulis: Ahmad Azhar Basyir, Munawir Sjadzali, Zainal Abidin, Ibrahim Hosen, Harun Nasution, Muchtar Adam, Muhammad Al-Baqir, Ali Yafie
Penerbit: Mizan, 1988
Tebal: 211 halaman
Buku baru stok lama

Terjual Solo

Jual Buku Agama Ramah Lingkungan Perspektif Al-Qur'an

Judul: Agama Ramah Lingkungan Perspektif Al-Qur'an
Penulis: Dr. Mujiyono Abdillah, MA.
Penerbit: Paramadina, 2001
Tebal: 235 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Stok Kosong

Ketika Adam dan Hawa sedang berasyik masyuk di alam surga, mereka dibujuk iblis untuk memakan buah khuldi. Arti harfiah kata "khuldi" adalah "keabadian". Iblis menjanjikan, Adam dan Hawa akan abadi berada di surga kalau mereka memakan buah tersebut. Tergiur oleh bujukan iblis, akhirnya mereka mendekati dan memakan buah yang sebenarnya telah dilarang Tuhan itu.

Akibatnya, oleh Tuhan, Adam dan Hawa diusir dari surga yang penuh kenikmatan tersebut --dan diturunkan ke bumi. Dalam tafsiran ekologis yang mutakhir diasumsikan bahwa buah khuldi itu merupakan metafor mengenai salah satu unsur di dalam ekosistem yang tidak boleh diganggu. Apabila diganggu, akan timbul bencana.

Kesadaran ekologis yang dibangun dengan landasan teologis (iman) salah satunya bermula dari penafsiran bahwa Adam dan Hawa telah merusak lingkungan dengan memetik buah khuldi yang mengakibatkan terganggunya ekosistem surga. Mereka telah melakukan dosa ekologis. Pemahaman mengenai dosa ekologis itulah yang kini menghilang dari kesadaran umat manusia.

Akibatnya, manusia menggunduli hutan, mencemari sungai dan laut, dan mengotori udara dengan polusi industri, tanpa merasa berdosa sama sekali. Bahkan, ketika perbuatannya tersebut menyebabkan bencana seperti banjir dan longsor, serta rusaknya lapisan ozon yang menimbulkan pemanasan global dan menaiknya permukaan air laut, manusia masih belum sadar.

Buku ini menggugat cara pandang demikian. Menurut penulisnya, bencana alam harus dipahami sebagai dampak perilaku manusia yang menentang sunah lingkungan, dan bukan sebagai kutukan Tuhan. Dengan kata lain, fenomena ekologi jangan dicampuradukkan dengan fenomena teologi, lebih-lebih menuduh Tuhan sebagai penanggung jawab terjadinya bencana alam.

Terdiri dari lima bab, buku yang berasal dari disertasi di Institut Agama Islam Negeri Jakarta ini sebenarnya mengajak kaum muslim untuk mulai mempertimbangan etika Al-Quran dalam melihat dan memahami isu lingkungan hidup kontemporer. Artinya, umat Islam seharusnya tidak perlu kehilangan perspektif dalam melihat permasalahan lingkungan.

Sebab, isi kandungan Al-Quran justru sarat dengan petunjuk mengenai bagaimana memperlakukan lingkungan, bagaimana hidup selaras dengan alam, dan bagaimana akibat yang timbul dari perilaku yang melawan sunah lingkungan. Berbagai kisah yang dimuat Al-Quran mengenai bencana lingkungan hidup, seperti banjir di negeri Saba', banjir yang menimpa kaum Nabi Nuh dan Nabi Hud, diangkat dalam buku ini dengan penafsiran kontemporer.

Karena itu, kita akan menemukan perkembangan dari apa yang diistilahkannya dengan "teologi banjir" menuju "neo-teologi banjir"; dari "teologi energi" menuju "neo-teologi energi". Juga dibahas mengenai teologi musim, teologi cuaca, dan teologi pemanasan global, yang menurut penulisnya belum pernah ada dalam tradisi Islam.

Buku ini lahir dari sebuah ijtihad penafsiran yang cukup "berani" atas Al-Quran. Berani, karena penulisnya tidak lagi menggunakan versi terjemahan yang sudah umum dikenal, entah dari berbagai penafsir "swasta" maupun terjemahan versi Departemen Agama. Justru karena itu, penafsiran ayat-ayat lingkungan menjadi lebih hidup dan bernuansa.

Misalnya, terjemahan surat Al-Baqarah ayat 22 menjadi sebagai berikut: "Yang menjadikan bumi sebagai lingkungan hidup bagi manusia dan atmosfer sebagai pelindung keseimbangan ekosistem." Kesimpulannya, ekologi yang berkembang sejauh ini adalah ekologi ateistik dan sekularistik yang tidak ramah lingkungan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong eksploitasi alam secara besar-besaran. Manusia pun memperlakukan alam seolah-olah tanpa perasaan. Manusia, seperti pernah disinyalir Hossein Nasr, lupa bahwa alam atau lingkungan ini sebenarnya "bernyawa", memiliki dimensi spiritualitas. Menurut penulis buku ini, yang perlu dikembangkan adalah ekologi alternatif yang bernuansa religius- spiritual.

R. Raka Alam, Pemerhati masalah lingkungan hidup, tinggal di Jakarta

Jual Buku Islam Murni dalam Masyarakat Petani

Judul: Islam Murni dalam Masyarakat Petani
Penulis: Abdul Munir Mulkhan
Penerbit: Yayasan Bentang Budaya, 2000
Tebal: 446 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Stok Kosong


Penyakit apa yang paling berbahaya di Indonesia? Bila pertanyaan itu diajukan kepada aktivis Muhammadiyah, jawabannya bukan AIDS, melainkan TBC. Tapi, jangan silap. Inilah singkatan "takhayul, bid'ah, dan c(k)hurafat". Persoalan penyimpangan umat dari kemurnian ajaran Islam inilah yang selalu menjadi agenda penting setiap bahasan Muhammadiyah.

Menurut James L. Peacock (1978), layaknya gerakan Wahabi di Arab Saudi, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk memerangi setiap bentuk sinkretisme Islam. Itulah yang mendorong Abdul Munir Mulkhan, dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menulis disertasi doktoral yang sangat menarik untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dengan mengambil sampel masyarakat petani di Kecamatan Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Mulkhan mengembangkan diafora yang selama ini terpendam. Betulkah pemberantasan penyakit "TBC" di kalangan petani, dan penyebaran Muhammadiyah, merupakan dua hal yang bertentangan? Itukah yang menyebabkan Muhammadiyah sulit mengakar di pedesaan?

Sejak berdiri pada 1912, sasaran utama dakwah Muhammadiyah memang masyarakat kota. Tingkat rasionalisasi kota memungkinkan dakwah Muhammadiyah diterima, karena ketergantungan mereka pada "TBC" tadi itu lebih rendah. Tradisi- tradisi keagamaan seperti tarhim menjelang salat, zikir bersama, menabuh beduk, salawatan, dan tahlilan lebih berkembang di desa ketimbang di kota (halaman 97).

Akibatnya, Islam murni, yang ditawarkan Muhammadiyah, tidak menyentuh warga desa dengan cepat. Mulkhan menemukan, sesungguhnya Muhammadiyah telah masuk ke Kecamatan Wuluhan, dan kawasan lainnya di Jember, sejak 1924. Tetapi baru berkembang pesat pada 1965, dengan pertambahan anggota terdaftar rata-rata 100%.

Hanya saja, banyak jalan kompromi harus ditempuh. Misalnya, warga Wuluhan biasa memberi sesajen agar hasil buminya sukses. Setelah Muhammadiyah datang, mereka beralih kepada orang saleh (Bagian IV). Muhammadiyah setidaknya melakukan tiga pendekatan: kasuistik, antisipatif, dan kultural. Warga desa yang masih menyakralkan kuburan, misalnya, diajari ziarah kubur hanya untuk mengingatkan kematian.

Pendekatan kultural dilakukan dengan menggelar pengajian mingguan. Pada kasus Wuluhan, menurut Mulkhan, pengajian banyak diberikan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah yang datang dari Solo, Yogya, dan Malang. Misalnya Haji Duwan, Haji Bakit, dan Haji Saleh. Mereka berperan dalam menanamkan Muhammadiyah di desa.

Dibandingkan dengan penelitian Mitsuo Nakamura di Kotagede (1983), dan Irwan Abdullah di Klaten (1994), sumbangsih Mulkhan memang patut dihargai. Nakamura dan Irwan lebih memusatkan perhatian pada masyarakat kota. Temuan- temuan Mulkhan menegaskan, ternyata membangun kultur Muhammadiyah di desa bukan cuma sulit. Salah-salah bisa menimbulkan ketersinggungan. Apalagi bila bersentuhan dengan tradisi Nahdlatul Ulama.

Memang, seperti kata Kuntowijoyo, selama ini Islam di tangan Muhammadiyah sudah menjadi agama yang sederhana dan terbuka. Sebaliknya, di tangan Muhammadiyah, Islam juga tampak sebagai agama yang miskin, kering, dan kurang gereget (halaman xx). Padahal, warga desa memahami agama bukan cuma sebagai akidah, melainkan juga simbol-simbol yang menenteramkan mereka. Karena itu, menurut Kuntowijoyo, usaha "menghias Islam" diperlukan agar dakwah Muhammadiyah juga populer di kalangan pedesaan.

Inayatullah Hasyim
Dosen Tazkia Institute for Shariah Finance and Management Specialist, Jakarta

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tolong like Facebook kami, trims

 
Blogger Widgets