Respon Cepat

Respon Cepat

Jual Buku Manifesto Partai Komunis

Judul: Manifesto Partai Komunis
Penulis: Karl Marx & Friedrich Engels
Penerbit: Cakrawangsa
Tebal: 107 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 50.000 (blm ongkir)
Order: SMS 085225918312


Manifesto Partai Komunis atau yang dengan sebutannya Communist Manifesto adalah tulisan tulisan dari buah pemikiran Marx dan Engels tas permintaan dari Liga Komunis yang mana tujuan dari penulisannya adalah sebagai media untuk mempropagandakan dan juga mengenalkan prinsip prinsip komunisme, dan mengkritik kapitalisme sebagai sebuah alat kaum borjuis untuk mengeksploitasi kaum proletariat serta ajakan bagi para kaum proletar untuk segera bersatu untuk melakukan revolusi untuk menerapkan sosialisme dengan tujuan untuk menghapuskan kelas kelas yang ada di dunia ini.

Tulisan tulisan pamflet yang akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku ke berbagai bahasa ini, diawali dengan pembahasan bahwa sepanjang sejarah manusia, selalu saja dipenuhi dengan konflik antar kelas yang selalu berulang, yang mana sering dikutip oleh berbagai pembaca dari buku ini, “The history of all hitherto existing society is the history of class struggles” . Konflik antar kelas terus terjadi sepanjang putaran roda sejarah, konflik antara penindas dan orang-orang yang ditindas, antara kelas mayoritas dengan kelas minoritas, sepanjang sejarah konflik terus terjadi dan biasanya diakhiri dengan sebuah revolusi yang mengubah baik tatanan sosial maupun juga tatanan ekonomi dan moda produksi, seperti konflik di awal-awal zaman pertengahan antara feudal lord dan vassal yang lalu melahirnkan konflik antara guild dan journeymen lalu melahirkan konflik antara kelas manufacter dan manufacturing yang akhirnya membawa pada kondisi saat ini antara kaum borjuis dan proletar.

Sebuah revolusi terjadi biasanya juga dikarenakan adanya perubahan pada moda produksinya, ketika industri yang dimonopoli oleh kaum feodal tidak mampu lagi untuk memeneuhi kebutuhan pasar yang meningkat, para kelas feodal akhirnya tersingkirkan oleh kaum manufaktur yang pembagian kerjanya dilakukan perpabrik bukan lagi perguild, lalu permintaan yang semakin besarpun akhirnya harus memaksa para manufaktur untuk menggunakan mesin -mesin, sehingga orang-orang yang berada dikelas menengah manufaktur ini digantikan oleh orang-orang yang berada pada kelas milliuner yang memiliki modal besar untuk membuat industri industri modern yang mana orang-orang ini yang dikenal sebagai bagian dari golongan borjuis saat ini. Setelah berbagai revolusi yang terjadi Marx dan Engel berpendapat bahwa kapitalisme telah membawa kondisi dimana revolusi sosialisme bisa terjadi, dimana setelah ini revolusi yang akan terjadi adalah revolusi oleh kaum mayoritas, kaum proletariat yang berada dibawah penindasan kaum borjuis dengan sistem kapitalismenya. revolusi sosialisme sebagai revolusi setelah kapitalisme menurut Marx akan menghapuskan kelas, karena tidak ada lagi kelas dibawah kelas kaum proletar, sehingga konflik antar kelas bisa diselesaikan dan kondisi harmonis bisa terjadi.

Dalam buku ini, Marx dan Engel melihat revolusi kaum borjuis sebagai suatu hal yang fenomenal namun menyimpan pula resiko yang besar dikemudian hari. Marx memuji kapitalisme sebagai akselerator dari kehidupan modern, dimana kota kota bertumbuhan pesat, penemuan penemuan seperti telegram dan mesin-mesin industri, serta pelayaran pelayaran yang akhirnya membuka lahan dan pasar baru, dan peningkatan akumulasi kekayaan yang sanagt besar semuanya adalah akibat dari revolusi kaum borjuis dan sistem kapitalisme. Namun Marx melihat bahwa sistem kapitalisme adalah sebuah sistem yang dekstruktif, dimana revolusi ini akhirnya mengubah gaya, kehidupan dan moda produksi lama ke dalam suatu hl yang benar-benar baru dan berbeda. dinamisme dari kapitalisme akhirnya menghancurkan gaya hidup lama, revolusi dalam perdagangan dan industri akhirnya membuat pola pikir masyarakat pun berubah, dan menciptakan buruh buruh bayaran, dimana berbagai jabatan yang sebelumnya diangap mulia akhirnya hanya sekedar menjadi pekerjaan yang digaji, yang bahkan menjadikan para seniman untuk berseni demi upah gaji.  Marx juga melihat bahwa dalam sistem kapitalisme ini produksi tidak dapat dikontrol, dimana sistem ini adalah sistem yang produksinya tidak terencana, dan pada akhirnya sistem ini hanya akan bertujuan untuk mengakumulasikan kekayaaan, dan mengandalkan terlalu banyak spekulasi untuk menjaga keuntungan dari kaum borjuis, bukan lagi memproduksi barang karena memang barang itu diperlukan oleh masyarakat umum, sehingga yan terjadi adalah akhirnya terlalu banyak industri, terlalu banyak perdagangan, dan akirnya produksi tidak terkontrol, dan melebihi permintaan yang ada, sehingga barang tidak terjual, industri mengalami kerugian, pabrik pabrik ditutup, dan akhirnya para pekerja diberhentikan dari pekerjaannya, sehingga pada akhirnya sistem ini bukan membawa kesejahteraan dan kekayaan bagi semua tapi justru akan menimbulkan bencana ekonomi dan sosial yang mana akan paling dirasakan oleh kaum proletar. Kondisi ini lah yang Marx yakini akan menciptkan revolusi, dimana kaum proletar nantinya akan semaki  dirugikan, dan semakin miskin, sehingga kaum proletar akan semakin melihat kaum borjuis sebagai kaum yang tidak pantas untuk memimpin, sehingga mereka akan bersatu melawan penindasan dan pada akhirnya menciptakan reolusi yang akan menghapuskan kelas, revolusi sosialisme oleh kaum proletar.

Marx dan Engels mengangap bahwa kaum proletar adalah kaum yang unik yang dapat memimpin revolusi dan menjatuhkan kaum borjuis. Dimana kaum proletar yang juga merupakan pekerja merupakan kunci dari revolusi ini, mereka adalah kaum yang bekerja untuk menghasilkan kekayaan dan produk yang ada saat ini, dan pengalaman mereka akhirnya juga membiasakan mereka untuk mengorganisir diri sehingga mampu untuk mengorganisisr sebuah revolusi. Selain itu, kaum proletar merupakan kaum mayoritas, berbeda dengan revolusi revolusi sebelumnya, dimana revolusi dilakukan oleh bagian kaum minoritas yang lain, dan akhirnya hanya menghasilkan kelas pemimpin dari golongan minoritas yang lain, pada revolusi kelas proletar itu tidak akan terjadi, karena begitu revolusi berhasil dilakukan maka seketika itu semuanya berada pada kelas yang sama sehingga kelas-kelas dalam masyarakat pun dapat dihapuskan, dan kepentingan masayrakat mayoritas pun akan tersalurkan dengan baik

Karena itulah dalam tulisan tulisan nya Mrax berusaha mempropagandakan agenda dari komunisme untuk menjadikan kaum proletar sebagai kaum penguasa, karena dengan begitu maka kelas bisa dihapuskan, dan dapat tercipta dunia dimana para pekerja tidak lagi berada dibawah kontrol untuk memuhi kebutuhan orang lain, namun para pekerja dapat mengeksploitasi dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan sesama kaum proletar lainnya.  Komunisme juga memiliki agenda untuk menghapuskan kepemilikan pribadi, sehingga menjadikannya sebagai kepemilikan bersama, hingga logika yang terbentuk pada kepemilikan bersama adalah mereka yang bekerja akan mendapatkan imbalan sedangkan yang tidak berkerja tidak akan mendapatkan imbalan apapun, berbeda dengan sistem dibawah kapitalisme yang memungkinkan para pemilik modal yang tidak bekerja sama sekali untuk tetap mendapatkan penghasilan. Agenda komunis yang lain adalah untuk menghapuskan nasionalisme, dimana menurut Marx dalam sistem sosialisme nantinya sentiment sentiment nasionalisme tidak lagi relevant karena telah dihapuskanya kepemilikan pribadi, dan semakin menguatkan industri yang akan menjadi tolak ukur standar kehidupan nantinya, sehingga nanti setiap orang berhak untuk menggunakan sumber daya dari wilayah manapun itu berada, dan semuanya akan berada dibawah kontrol dari negara.

Marx juga dalam buku ini membahas tentang kritiknya terhadap beberapa aliran pemikira sosialis yang ada diberbagai belahan Eropa, seperti di Inggris, perancis, Itali, dan Jerman yang dikritik oleh Marx sebagai pemikiran sosialis yang ahistoris ataupun pemikiran sosialis yang utopis karena sebagaian besar tidak praktikal ataupun justru menolak fondasi dasar dari sosialisme untuk mengakui adanya konflik antar kelas, dan pentingnya itu menghapuskan kelas kelas dalam masyarakat dengan memperjuangkan kepentingan dan memperkuat kelas proletar dan menjadikan kelas proletar sebagai kelas revolusioner yang akan menjadi kelas pemimpin. Sehingga Marx mengajak kepada seluruh masyarakat kela sproletar untuk bersama sama komunisme memperjuangkan kepentingan kepentingan dari kaum mayoritas, yaitu kaum proletar dengan terus memperkuat mereka dan mempersenjatai mereka dengan berbagai hal sehingga sampai pada kondisi dimana mereka akan mampu untuk memulai dan memenangkan revolusi mewalan kelas borjuis dan kapitalisme-nya. Mengutip kata penutup dari Marx, “”Let the ruling classes tremble at a Communistic revolution. The proletarians have nothing to lose but their chains. They have a world to win. Working men of all countries, unite!”

Jual Buku The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966

Judul: The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966
Editor: Robert Cribb
Penerbit: Mata Bangsa, 2003
Tebal: 489 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 250.000 (blm ongkir)
Order: SMS 085225918312


Buku ini diterbitkan pada Februari tahun 2004, dan kemudian dicetak lagi dan terbit September 2004. Sebenarnya buku ini sudah diterbitkan sejak lama. Cetakan pertamanya Desember 2000, namun kembali dicetak ulang kedua kalinya pada bulan Oktober 2003. Maklum saja, di tahun 2000, buku ini dilarang peredarannya. Buku ini adalah salah satu buku yang terkena sweeping buku “kiri” yang dilakukan Aliansi Anti Komunisme di Jakarta dan Yogyakarta. Akhirnya, buku ini praktis menghilang dari peredaran karena dianggap menyesatkan.

Cap komunis bagi para korban tahanan politik Orde Baru dan tragedi pembantaian PKI 1965-1966 menjadi sisi negatif bagi sosok mereka. Wacana tentang pengungkapan kebenaran pada G30S belum begitu tersebar dan wacana pengungkapan tragedi pembantaian PKI di Jawa dan Bali baru dalam tahap awal menunjukkan diri dalam masyarakat. Peristiwa G30S 1965 memang telah lama diperdebatkan di Indonesia dan Barat dalam berbagai versi, dugaan pelaku, pemberontakan yang terjadi dibelakangnya.

Tapi tidak demikian halnya dengan pengungkapan reaksi balik yang tidak kalah biadabnya dari gerakan 30 September 1965 yang menimpa orang dituduh anggota dan simpatisan PKI. Pembantaian, pemberangusan, penghilangan lawan politik yang kejam dan diluar batas nilai-nilai kemanusiaan. Para korban Orde Baru dan tragedi 1965 mulai berkumpul, berbagi pengalaman, menerbitkan buletin untuk membersihkan nama baik mereka, meluruskan sejarah, dan mengungkapkan kebenaran.

Buku ini disusun oleh bebarapa karya, artikel, makalah dan tulisan para Indonesianis di antaranya seperti Robert Crib, Michael van Langerberg, Kennet R Young, Keith Foulcher, Kenneth Orr dan Anton Lucas. Juga ada laporan jurnalistik dari wartawan Indonesia Maskun Iskandar dan Jopie Lasut tentang pembantaian di Purwodadi, Jawa Tengah. Ada juga laporan dari Pusat Penelitian dan Studi Pedesaaan dan Kawasan Universitas Gajah Mada serta dokumen dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Jawa Tengah. Sisi menarik lainnya dari buku ini adalah disertakannya essai Soe Hok Gie tentang riuh dan brutalnya pembantaian PKI di Bali.

Kisah pengalaman dari seorang istri tahanan politik bernama Yeti dan Marni. Yeti dan Marni adalah seorang perempuan yang selamat dari kamp-kamp. Beban mereka adalah lolos dari kematian dengan segala pertanyaan tentang apa salahnya dan makna yang mengikutinya, dan tahun-tahun panjang yang menakutkan dalam kerja keras. (hal.386). Berbagai kisah para korban inilah yang menjadi daya tarik dan nilai lebih dari buku ini.

Cerita Bali ditulis oleh Robert Cribb, Soe Hok Gie serta tambahan laporan dari Pusat Studi Pedesaan Universitas Gajah Mada yang dicatat dari pemberitaan harian Suara Indonesia yang terbit di Denpasar. Juga ada dokumen dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Bali.

Jual Buku Warisan Sufi: Warisan Sufisme Persia Abad Pertengahan (1150-1500)

Judul: Warisan Sufi: Warisan Sufisme Persia Abad Pertengahan (1150-1500)
Penulis: Seyyed Hossein Nasr, Annemarie Schimel, Leonard Lewisohn (ed), Wiliam C.Chittick, et. all.
Penerbit: Pustaka Sufi, 2003
Tebal: 784 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Terjual Jakarta

Buku ini menampilkan kajian dari 23 tokoh paling otoritatif di dunia dalam bidang tasawuf. Isinya meliputi puisi dan citraan Rumi, Musik sufi dan ide tentang ekstase, kewalian dan neoplatonisme, metafisika komparatif dan kesusastraan, teori kesatuan agama dalam filsafat sufi.

Jual Buku Varieties of Civil Religion

Judul: Varieties of Civil Religion
Penulis: Robert N. Bellah & Phillip E. Hammond
Penerbit: IRCiSoD, 2003
Tebal: 301 halaman
Kondisi: Bekas (bagus)
Terjual Jakarta


Buku ini adalah mengupas berbagai bentuk agama sipil dalam beragam situasi kekuasaan, politik, kultural, ekonomi dan sosial.

Jual Buku Seni dan Sastra di Tengah-tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan

Judul: Seni dan Sastra di Tengah-tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan
Penulis: Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit: Dian Rakyat, 2011
Tebal: 192 halaman
Kondisi: Bekas (bagus)
Harga: Rp. 60.000 (blm ongkir)
Order: SMS 085225918312


Buku ini adalah kumpulan karangan tentang seni dan sastra yang pertama diterbitkan tahun 1985 sebagai keseluruhan pemikiran STA tentang kedua bidang kebudayaan itu.

Jual Buku Kondisi Kelas Pekerja Inggris: Embrio Sosialisme Ilmiah

Judul: Kondisi Kelas Pekerja Inggris: Embrio Sosialisme Ilmiah
Penulis: Friedrich Engels
Penerbit: Pustaka Nusantara, 2012
Tebal: 179 halaman
Kondisi: Bekas (bagus)
Terjual Jakarta


Ini buku yang sangat menarik untuk dibaca, karena mengungkapkan data empiris mengenai eksploitasi kelas pekerja di Inggris yang secara langsung diamati oleh Engels muda—pada tahun 1840-an—hingga sampai pada kesimpulan bahwa, menurut Engels, revolusi proletar diperlukan.

Engels menulis buku ini ketika berumur 24 tahun, ketika bekerja di pabrik kapas milik ayahnya di Manchester, Inggris. Pada saat itu ia sedang terpikat dengan filsafat Hegel berkat komunikasinya dengan kaum demokrat muda Eropa masa itu. Kaum demokrat tersebut adalah sekelompok Intelektual muda yang Ingin menerapkan dialektika Hegel sebagai obor terhadap bangunan politik dan agama yang ada.

Selama perjalanan ke Cologne pada tahun 1841, Engels bertemu dengan para editor Rheinische Zeitung, sebuah surat kabar yang didirikan oleh para industrialis radikal untuk menyebarkan gagasan liberal mereka, yakni ide mengenai perdagangan bebas. Surat kabar itu didirikan oleh seorang Hegelian muda yang bernama Musa Hess, yang memiliki julukan "Rabi Merah". Komunisme Hess dipengaruhi oleh sosialisme utopis Saint Simon, pendahulu dari sosialisme ilmiah Marx dan Engels. Hess bertemu dengan Engels muda dan menulis tentang pertemuan mereka, "Kami Bicara tentang berbagai masalah seharian. Dan Engels adalah seorang komunis yang sangat bergairah."

Kondisi Kelas Pekerja di Inggris  adalah buku pertama Engels, ditulis selama tinggal di Manchester tahun 1842—1844. Manchester kemudian kemudian menjadi jantung dari Revolusi Industri, dan Engels menyusun studinya dari pengamatannya sendiri dan dari laporan-laporan yang detail. Engels berpandangan bahwa Revolusi Industri telah membuat pekerja lebih buruk.  Dalam bab pembukaan, "Kota-Kota Besar", Engels menggambarkan suatu alienasi yang menimpa London tahun 1840; perlakuan brutal dan isolasi tak berperasaan yang semakin menjijikkan.

Buku ini merupakan cacatan klasik mengenai kondisi universal dari kelas pekerja. Putra tertua dari seorang industrialis tekstil yang sukses Jerman, Engels, terlibat dalam jurnalisme radikal di masa mudanya. Apa yang dilihatnya di Inggris membuatnya menjadi seorang pemuda yang radikal dan revolusioner. Dan kemudian, sepanjang hidupnya diabdikan untuk menjadi kawan sejati Marx dalam membangun Sosialisme Ilmiah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tolong like Facebook kami, trims