Respon Cepat

Respon Cepat

Jual Buku Bayang-Bayang Fanatisme: Esai-esai Untuk Mengenang Nurcholish Madjid

Judul: Bayang-Bayang Fanatisme: Esai-esai Untuk Mengenang Nurcholish Madjid
Editor: Abd Hakim & Yudi Latif
Penerbit: Pusat Studi Islam dan Kenegaraan, 2007
Tebal: 464 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp 80.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Buku ini berisi tentang wacana serta pemikiran Cak Nur yang mengungkapan kembali peradaban Islam pada masa kejayaannya pada abad ke 9 sampai dengan 13 M.

Jual Buku Bisnis Sosial: Sistem Kapitalisme Baru yang Memihak Kaum Miskin

Judul: Bisnis Sosial: Sistem Kapitalisme Baru yang Memihak Kaum Miskin
Penulis: Muhammad Yunus
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011
Tebal: 263 halaman
Kondisi: Bekas (bagus)
Harga: Rp 80.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312



Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia dilengkapi dengan dua dimensi. Selain memiliki keinginan untuk mengurus diri sendiri, sebagai mahluk sosial, manusia juga memiliki keinginan untuk memberikan sumbangan kepada kesejahteraan dunia.

Kelemahan paling besar dalam teori kapitalisme terletak dalam penjabarannya yang menyesatkan soal ciri dasar manusia. Dalam penafsiran saat ini terhadap kapitalisme, manusia yang terjun ke dunia usaha digambarkan sebagai mahluk satu dimensi yang memiliki tujuan tunggal memaksimalkan keuntungan untuk pemenuhan kebutuhan dirinya sendiri.

Pandangan tentang ciri dasar manusia yang terdistorsi itu merupakan kekurangan fatal yang membuat pemikiran ekonomi kita tidak lengkap dan tidak akurat. Dari waktu ke waktu, pandangan terdistorsi tersebut telah membantu menciptakan sejumlah krisis yang kita hadapi dewasa ini. Regulasi pemerintah, sistem pendidikan, struktur sosial, semua didasarkan pada asumsi bahwa hanya motivasi-motivasi egois yang dianggap “nyata” dan pantas diberi perhatian, akibatnya kita mengandaikan bahwa bisnis-bisnis berorientasi laba adalah sumber utama kreativitas manusia dan kemudian tujuan-tujuan keuntungan pribadi dianggap sebagai pendorong kemajuan.

Begitu kita menyadari dan mengakui kekurangan itu dalam struktur teoritis kita, solusinya akan menjadi jelas. Kita harus menggantikan pribadi satu dimensi dalam teori ekonomi dengan pribadi multidimensi—pribadi yang secara bersamaan memiliki kecenderungan untuk egois dan kecenderungan untuk peduli kepada orang lain. Ketika kita melakukan ini, gambaran kita tentang dunia bisnis langsung berubah. Kita melihat kebutuhan untuk dua macam kegiatan usaha; yaitu untuk keuntungan pribadi, dan untuk membantu orang lain. Jenis kegiatan usaha yang dibangun di atas ciri dasar manusia yang tidak egois disebut “bisnis sosial”. Inilah yang kurang dalam teori ekonomi kita.

Bisnis sosial berbeda sekali dengan bisnis yang memaksimalkan laba yang ditampilkan praktis oleh semua perusahaan swasta di dunia saat ini, maupun oleh organisasi nirlaba yang mengandalkan sumbangan atau dana amal dari para dermawan. Bisnis sosial berada di luar dunia peraihan laba. Sasarannya adalah memecahkan masalah social dengan menggunakan metode bisnis.

Bisnis sosial terdiri atas dua macam. Pertama adalah perusahaan tanpa rugi, tanpa deviden yang diabdikan untuk memecahkan masalah sosial dan dimiliki oleh investor-investor yang menginvestasikan kembali semua keuntungan untuk mengembangkan bisnis. Yang kedua adalah perusahaan pencari laba yang dimiliki oleh penduduk miskin dimana laba yang mengalir bertujuan mengentaskan kemiskinan, Grameen Bank adalah sebuah contoh bisnis sosial ini.

Muhammad Yunus adalah seorang tokoh pembaharu dalam bidang ekonomi yang sangat fokus terhadap permasalahan kemiskinan. Menurutnya, Kapitalisme menyimpan banyak kekurangan—kapitalisme selalu berpihak pada kelompok atau orang yang memiliki capital atau modal, kapitalisme tidak pernah berpihak kepada penduduk miskin. Berawal dari gagasan itulah Yunus berusaha membangun sebuah lembaga keuangan yang berpihak pada kaum miskin. Dia telah mendirikan sebuah bank bernama Grameen Bank yang artinya ‘Bank Pedesaan’. Grameen Bank yang didirikan oleh Yunus telah menunjukkan bahwa meminjamkan uang kepada masyarakat miskin tidak hanya memungkinkan tetapi juga menguntungkan.

Grameen Bank berdiri pada awal era tahun tujuh puluhan, yaitu ketika Negara Bangladesh berada dalam keadaan yang menyedihkan. Kehancuran telah melanda karena serangan angaktan bersenjata Pakistan—diperparah dengan banjir, kekeringan, dan angin ribut. Bencana kelaparan dan wabah penyakit pun menyusul. Dalam upaya menolong rakyat Bangladesh ketika itu, Yunus memulai usahanya dengan menawarkan diri menjadi penjamin untuk pinjaman-pinjaman bagi masyarakat miskin, yang kemudian pada akhirnya dia mendirikan bank sendiri untuk kaum miskin dengan bantuan menteri keuangan Bangladesh. Kini, Grameen Bank menjadi sebuah bank berskala nasional yang melayani masyarakat di setiap desa Bangladesh.

Di antara delapan juta peminjam di Grameen Bank, 97 persennya adalah perempuan. Pada mulanya itu merupakan sebuah bentuk protes terhadap bank konvensional yang menolak meminjamkan uang kepada perempuan, bahkan jika mereka termasuk dalam kelompok berpendapatan tinggi. Yunus melihat bahwa perempuan memiliki dorongan lebih kuat untuk mengatasi kemiskinan. Dia menyadari bahwa meminjamkan uang kepada perempuan di pedesaan miskin Bangladesh adalah cara yang lebih berdaya guna dalam memerangi kemiskinan di masyarakat secara keseluruhan.

Grameen Bank meminjamkan lebih dari 100 juta dolar per bulan dalam bentuk pinjaman tanpa agunan rata-rata sekitar 200 dolar. Tingkat pembayaran kembali pinjaman-pinjaman itu tetap sangat tinggi, sekitar 98%. Grameen Bank bahkan meminjamkan uang kepada kaum pengemis, mereka menggunakan pinjaman itu untuk berjualan kecil-kecilan. Selama empat tahun sejak program tersebut diluncurkan, lebih dari 18.000 orang telah berhenti mengemis. Grameen Bank juga mendorong anak-anak peminjamnya bersekolah, menawarkan pinjaman terjangkau kepada mereka untuk menempuh pendidikan lebih tinggi.

Buku ini menguraikan tentang bagaimana menciptakan sebuah gagasan baru kapitalisme dan sebuah bentuk badan usaha yang didasarkan pada kepedulian terhadap sesama. Buku ini menunjukkan bagaimana bisnis sosial telah menjadi praktik yang inspiratif, diadopsi oleh perusahan-perusahaan terkemuka di dunia termasuk BASF, Intel, Danone, Veolia, dan Adidas, dan juga para entrepreneur dan aktifis sosial di Asia, Amerika Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa.

Dalam buku ini Yunus memperlihatkan bagaimana bisnis sosial bisa mengubah kehidupan. Dia juga menawarkan panduan praktis untuk mereka yang ingin menciptakan bisnis sosial; menerangkan bagaimana kebijakan publik dan perusahaan harus memberi ruang bagi model bisnis sosial dan menunjukkan bagaimana bisnis sosial memiliki potensi untuk mengisi celah yang gagal dipenuhi oeleh perusahan pasar bebas.

Penulis merupakan seorang genius yang telah mempelopori kredit mikro dan berhasil memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 2006 bersama Grameen Bank yang didirikannya. Buku ini tidak hanya inspiratif, namun juga sangat informatif karena didalamnya juga dijelaskan studi kasus yang bagus tentang bagaimana mengelola bisnis dengan cara yang benar. Oleh karena itu, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh para pengusaha, aktifis sosial, aparat pemerintah, pemerhati bisnis, pelajar, atau siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Jual Buku Perubahan Politik dan Hubungan Kekuasaan Makassar 1906-1942

Judul: Perubahan Politik dan Hubungan Kekuasaan Makassar 1906-1942
Penulis: Edward L. Poelinggomang
Penerbit: Ombak, 2004
Tebal: 260 halaman
Kondisi: Bekas (bagus)
Harga: Rp 45.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Buku ini berusaha mengungkapkan bagaimana perubahan politik dan hubungan kekuasaan pada pelaksanaan pemerintahan yang terjadi di wilayah Bagian Pemerintahan Makassar pada tahun 1906-1942. Penulis berusaha menelusuri masalah sebab akibat dalam hubungan politik dan kekuasaan di atas, dengan maksud dapat memberikan manfaat pelajaran unuk masa kini dan masa mendatang.

Keseluruhan gambaran yang diungkapkan dari masa pemerintahan yang dibahas dalam buku ini jelas menunjukkan bahwa pemerintah menempatkan kekuasaan sebagai tujuan dan bukan sebagai alat, sehingga dapat menciptakan kehidupan politik yang sehat dari hakikat politik yang menunjukkan pertentangan (conflict dan pemaduan (integration). Kekuasaan sebagai tujuan telah berakibat manipulasi menggarisbawahi segala tindakan dalam pelaksanaan pemerintahan sehingga hanya menciptakan wajah pertentangan belaka yang bersifat sepihak karena setiap wargaterpisahkan dan mengasingkan diri dari satu trhadap yang lain oleh ketidakpercayaannya.

Buku ini layak dibaca oleh siapa saja, bukan hanya karena ditulis oleh Dr. Edward L. Poelinggomang, sejarawan terdepan Indonesia, tetapi oleh karena relevansinya atas situasi politik kontemporer Indonesia!

Jual Buku Bank Kaum Miskin (Muhammad Yunus)

Judul: Bank Kaum Miskin
Penulis: Muhammad Yunus
Penerbit: Marjin Kiri, 2013
Tebal: 288 halaman
Kondisi: Bekas (bagus)
Harga: Rp 60.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Buku “Bank Kaum Miskin” adalah biografi Muhammad Yunus, seorang dosen ekonomi lulusan Amerika Serikat yang berasal dari kota pelabuhan terbesar di Bangladesh, Chittagong. Buku ini berkisah mengenai kegigihan dan pergulatan prinsip dari seorang Muhamad Yunus dalam memberantas kemiskinan di negaranya selama lebih dari 30 tahun melalui program kredit mikro. Perjuangan keras Yunus telah membuahkan hasil yang lebih dari sepadan : hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2006 untuk Muhammad Yunus dan Grameen Bank yang didirikannya. Pemberian nobel perdamaian bagi seorang dosen ekonomi terbilang langka, namun memberikan pesan penting ke seluruh penjuru dunia yang sedang dilanda isu-isu terorisme, bahwa kemiskinanlah akar masalah dari peperangan dan konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini.

Perjuangan Muhamad Yunus dalam mengentaskan kemiskinan melalui Grameen Bank diawali dari kegelisahannya sebagai seorang dosen di Universitas Chittagong. Betapa teori-teori yang diajarkannya di ruang kelas tidak berdaya dalam menghadapi bencana kemiskinan dan kelaparan yang melanda Bangladesh pada tahun 1974. Pun terhadap kemiskinan di Desa Jobra, desa yang berlokasi di lingkungan sekitar universitas. Kegelisahannya kian bertambah ketika menemukan fakta bahwa seorang perempuan Desa Jobra mendadak menjadi ’budak belian’ seorang rentenir, hanya disebabkan oleh pinjaman sebesar kurang dari US$1 (+ Rp. 9.000). Kenyataan pahit itu, bahwa hidup mati seseorang hanya ditentukan oleh sejumlah ’recehan’, mendorong Yunus untuk menemukan cara-cara baru untuk mengentaskan kemiskinan di perdesaan Bangladesh

Gebrakan besar memang perlu dilakukan Yunus. Karena untuk memerangi kemiskinan secara kolosal tidak dapat dilakukan hanya dengan sekedar merogoh kantung dan memberi si miskin uang receh untuk membayar hutangnya. Perlu ada terobosan penyelesaian masalah secara struktural dan berkelanjutan. Salah satu solusinya adalah dengan memberikan kredit usaha bagi kaum miskin melalui lembaga perbankan. Namun disinilah inti permasalahannya : Bank tidak memberikan kredit bagi mereka yang tidak memiliki agunan, karena resiko tidak kembali yang sangat besar. Dengan demikian, kaum paling miskin tidak akan pernah tersentuh oleh kredit perbankan. Mereka tidak memiliki agunan. Logika perbankan tersebut sepintas lalu wajar jika dilihat dari kacamata bisnis, namun bagi Yunus hal tersebut merupakan masalah besar. Perbankan telah berlaku tidak adil kepada kaum miskin, kaum yang justru sangat membutuhkan akses kredit, untuk membebaskan diri dari jeratan para rentenir, melakukan usaha, dan memperbaiki kualitas hidupnya.

Tantangan terberat Yunus adalah membalik paradigma yang dianut para bankir konvensional, tidak hanya di Bangladesh tapi juga di seluruh dunia. Yunus memiliki keyakinan bahwa kaum miskin sebanarnya layak memperoleh kredit. Ide dibalik keyakinan Yunus sebenarnya sangat sederhana : kaum miskin punya alasan untuk mengembalikan pinjaman, yaitu untuk mendapatkan pinjaman lagi dan melanjutkan hidup mereka keesokan harinya. Jadi menurut Yunus, agunan terbaik kaum miskin adalah nyawa mereka !

Yunus tidak pernah menyerah untuk membuktikan keyakinannya tersebut meskipuin menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah. Pada tahun 1983, Yunus berhasil mendirikan Grameen Bank (Bank Perdesaan), sebagai ’antitesa’ dari pendekatan yang digunakan sistem perbankan konvesional. Antitesa tersebut tercermin dalam strategi-strategi yang diterapkan Grameen Bank yang amat berbeda dengan bank-bank konvensional : memberikan kredit tanpa agunan berbunga rendah kepada mereka yang termiskin dari golongan miskin, sistem cicilan setiap hari sehingga tidak memberatkan saat jatuh tempo, menciptakan birokrasi yang simpel namun inovatif sehingga kaum buta huruf pun dapat berhubungan dengan bank, mengkhususkan diri pada nasabah kaum perempuan, membentuk sistem kelembagaan berupa ’kelompok lima’, menjadikan nasabah juga sebagai pemegang saham dan komisaris, dan sebagainya.

Menjadikan perempuan sebagai nasabah merupakan strategi yang sangat menarik. Dengan memberikan pinjaman kepada kaum perempuan Bangladesh ternyata memberikan dampak yang sangat besar bagi peningkatan ekonomi keluarga dibandingkan kepada laki-laki. Pembentukan kelembagaan dalam bentuk ’kelompok lima’ juga merupakan kunci lain bagi keberhasilan program kredit Grameen Bank. Para nasabah diwajibkan membuat kelompok sebanyak 5-6 orang. Jika seseorang tidak mampu atau tidak mampu membayar kembali pinjamannya, kelompoknya akan dianggap tidak layak memperoleh kredit yang lebih besar di tahun berikutnya sampai masalah pembayaran bisa ditanggulangi. Dengan cara ini, tercipta insentif yang sangat kuat bagi peminjam untuk saling membantu memecahkan masalah dan mencegah timbulnya masalah. Sistem ini juga mendorong tanggungjawab pribadi yang besar untuk mengembalikan pinjaman.

Upaya yang dilakukan Yunus membuahkan hasil yang spektakuler. Program kredit mikro Grameen Bank, yang bermula dari pilot proyek kecil-kecilan di di Desa Jobra, saat ini telah berkembang dan menjangkau 7 juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 97 persen diantaranya perempuan. Grameen Bank telah memperoleh pengakuan dari pemerintah Bengladesh dan telah dipayungi oleh satu UU tersendiri. Pola yang dilakukan Grameen Bank juga telah diadaptasi oleh 100 negara di 5 benua. Layanan yang diberikan saat ini sangat beragam, meliputi kredit bebas agunan untuk mata pencaharian, perumahan, sekolah, dan usaha mikro untuk keluarga-keluarga miskin. Grameen Bank juga menawarkan program tabungan yang atraktif, dana pensiun, dan asuransi untuk para anggotanya. Bahkan kredit perumahan telah dipakai untuk membangun 640.000 rumah yang dimiliki secara legal bagi kaum perempuan. Secara kumulatif, Grameen Bank telah memberikan kredit sebesar sekitar US$6 miliar dengan tingkat pengembalian 99 persen dan telah mampu mengangkat 58 persen nasabah dari garis kemiskinan. Dengan fakta-fakta ini, Yunus telah membuktikan, bahwa premis ‘kaum miskin tanpa agunan tidak dapat mengembalikan pinjaman’ adalah salah.

“Bank Kaum Miskin” merupakan buku yang sangat menarik dan perlu dibaca oleh para pengambil dan pelaksana kebijakan, termasuk bagi mereka yang bergerak dalam upaya pengembangan kawasan. Buku ini tidak hanya berbicara mengenai peran kredit mikro perbankan dalam pengentasan kemiskinan, namun juga mengajarkan pentingnya setiap pengambil kebijakan memahami masalah-masalah dalam masyarakat dari sisi masyarakat itu sendiri. Dengan gaya penulisan yang memikat, melalui buku ini Muhamad Yunus mampu mengilhami pembaca bahwa perubahan dalam masyarakat bukan hal yang mustahil dilakukan, namun dapat diciptakan melalui paradigma yang tepat, visi yang jelas, strategi yang inovatif, serta kerja keras dalam mewujudkannya.

Jual Buku Agama, Negara dan Penerapan Syariah (Muhammad Abid Al-Jabiri)

Judul: Agama, Negara dan Penerapan Syariah
Penulis: Muhammad Abid Al-Jabiri
Penerbit: Fajar Pustaka, 2001
Tebal: 228 halaman
Kondisi: Bekas (bagus)
Harga: Rp 45.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Perdebatan mengenai hubungan antara agama dan negara tidak pernah selesai, seolah persoalan tersebut menjadi persoalan abadi. Hampir setiap fase dalam sejarah sebuah bangsa selalu saja muncul persoalan ini. Meskipun di beberapa negara, utamanya negara Barat dan Eropa yang menganut sistem Demokrasi Liberal diselesaikan dengan sekularisasi, namun kembali melahirkan permasalahan-permasalahan baru dan lebih komplik. Jika demikian, persoalan mengenai hubungan Negara dan Agama pada dasarnya terletak pada masalah, apakah dalam Agama dapat diinstitusionalisasikan dalam berbagai lembaga formal, termasuk negara atau tidak? Atau apakah negara sebagai sebuah sistem sosial yang dibentuk berdasarkan kesepakatan publik harus mendasarkan dari secara ideologis kepada institusinalisasi sebuah Agama atau tidak? Jika demikian, persoalan tersebut bermuara kepada bagaimana asumsi masyarakat atau manusia terhadap Agama dan juga terhadap Negara? Asumsi tersebut berpengaruh secara masif terhadap persepsi dan sikap mereka atas posisi Agama vis-a-vis Negara, begitu pula sebaliknya.

Dalam Islampun, permasalahan Agama dan negara sangat pelik, disamping keterbatan teks yang membahas tentang keduanya lebih–lebih lagi ketika teks itu masuk dalam ranah diskursus pemikiran dan pemahan dan berbagai macam penafsiran dan interpretensi. Disaat problematika dan isu-isu baru bermunculan, seperti kita temukan akhir-akhir ini, muncullah sederetan intelektual muslim -dengan berbagai sudut pandangnya yang- berusaha untuk menggaungkan kembali jargon agung yang tertidur kurang lebih selama empat belas abad yang lalu; “Islam adalah solusi bagi segalanya“, “Islam Way of Life”, “al-Islam Huwa al-Hil”, teori ini di pelopori oleh beberapa pemikir dan pembaharu semisal Imam Hasan Al Banna, Prof. Dr. Muhamad ‘Imarah dan kawan-kawannya, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menebang habis isu tersebut dengan berbagai macam sistem dan metodologi yang berciri khas Islami dari teori dan prakteknya. Sementara itu, dari kaum rasionalis muslim, muncullah beberapa sarjana terkenal, di antaranya Hasan Hanafi, Muhammad ‘Abid al-Jabiri, Muhammad Arkoun, Ahmad Nu’aim, Hasan Abu Turabi, Muhammad Syahrur, Khaled M. Aboe al-Fadl dan lain-lainnya yang mereka rekam lewat beberapa aksi dan karya ilmiahnya. Diantara karya tersebut adalah tulisan al-Jabiri yang mendongkrak tentang tema kenegaraan dan perpolitikan Islam yang ia tuangkan dalam bukunya al-Dîn Wa al-Daulah Wa Tathbîq al-Syarî’ah. Buku ini telah diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia dengan judul Agama, Negara dan Penerapan Syariah.

Penerjemah buku ini, sebelum masuk kedalam pembahasan yang diulas al-Jabiri, ia berupaya untuk menjembatani pembahasan dalam buku al-Jabiri ini dan memposisikan sosok al-Jabiri. Ia menulis bahwa al-Jabiri mempunyai proyek kebangkitan Islam melalui gagasannya dengan membongkar bangunan tradisi Islam (Turast) melalui telaah Kontemporer (Qira’ah Mu’ashirah) yang ia wujudkan dalam grand proyeknya Kritik Nalar Arab (Naqd al’Aql al-‘Arabi).

Grand proyek al-Jabiri ini yang membuahkan pandangan-pandangannya terhadap isu-isu krusial kontemporer seperti relasi agama dan negara, penerapan syariah, demokrasi dan Hak Asasi Manusia, nasionalisme Arab dan permasalahan Israel pun juga tidak luput dari komentar al-Jabiri. Dari beberapa permasalahan itulah yang mana didalam bukunya ini al-Jabiri membidik tentang relasi agama dan negara dan dikaitkan dengan implementasi hukum Islam.

Al-Jabiri merupakan seorang aktifis politik berideologi sosialis, pemikir kontemporer dari Maroko. Ia memperoleh Diploma Arabic High School setelah Maroko merdeka dan pernah menempuh pendidkan filsafat di Universitas Damaskus, Syiria, dilanjutkan di Sekolah Tinggi Filsafat Fakultas Sastra Universitas Muhammad V di Rabat, dan meraih gelar master dengan tesis tentang “Filsafat Sejarah Ibn Khaldun” (Falsafatut Târîkh ‘inda Ibn Khaldûn) di bawah bimbingan N. Aziz Lahbabi. Doktor bidang Filsafat, ia raih di Fakultas Sastra Universitas Muhammad V, Rabat, dengan disertasi yang berbicara tentang “Fanatisme dan Negara: Elemen-Elemen Teoritik Khaldunian dalam Sejarah Islam” (Al-‘Ashabiyyah wad Dawlah: Ma’âlim Nadzariyyah Khaldûiyyah fit Târikhil Islâmî). Disertasi tersebut kemudian dibukukan tahun 1971. Al-Jabiri dalam menulis selalu kreatif menelurkan ide-ide cerdas, realistis dan logis khususnya dalam menyikapi kajian-kajian keislaman kontemporer, disamping ia produktif dalam dunia tulis-menulis sampai menjelang usia senja, ia masih gemar membaca dan peka terhadap fenomena seputar umat Islam di sertai dengan kemampuannya dalam menguasai tiga bahasa: Arab, Inggris dan Prancis.

Jual Buku Benua Ketiga dan Terakhir (Jhumpa Lahiri)

Judul: Benua Ketiga dan Terakhir
Penulis: Jhumpa Lahiri
Penerbit: Jalasutra, 2002
Tebal: 364 halaman
Kondisi: Bekas (bagus)
Harga: Rp 45.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Berisi sembilan cerpen yang rata-rata menceritakan fragmen hidup para imigran asal India dan Pakistan. Mengutip sinopsis di bagian belakang buku; “Dalam kumpulan cerpen ini, secara cerdas dan lugas Jhumpa Lahiri berbagi detail kehidupan orang India, sekaligus secara universal membahas tema-tema tentang perasaan kesepian dan terasing. Sembilan cerita dalam kumpulan ini disampaikan secara sederhana dan menggugah.”

Masing-masing cerita membawa jenis kesepian tersendiri. Tema perjodohan yang diatur juga bertaburan. Tapi jangan berharap menemukan teriakan wanita yang menginginkan kebebasan di buku ini. Di beberapa cerita bahkan penulisnya menggunakan sudut pandang tokoh laki-laki, yang juga sama canggungnya menghadapi istri yang baru dikenalnya saat pernikahan. Favorit saya adalah cerita pembuka dan penutup buku ini; Masalah Sementara dan Benua Ketiga dan Terakhir.

Masalah Sementara menceritakan pasangan suami-istri yang akhirnya bisa saling terbuka saat rumah mereka terkena pemadaman listrik akibat perbaikan sementara. Benua Ketiga dan Terakhir menceritakan seorang pria yang melintasi tiga benua; Asia (India) tempat ia berasal, Eropa (Inggris, London) untuk kuliah sambil bekerja, lalu Amerika (Boston) dimana timbul persahabatan dengan wanita Amerika berumur 100 tahun lebih, pemilik rumah tempat ia menyewa kamar. Tokoh pria ini konon didasari kisah dan watak ayah Jhumpa Lahiri sendiri.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tolong like Facebook kami, trims