Respon Cepat

Respon Cepat
Loading...

Jual Buku Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X - XVII

Judul: Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X - XVII
Penulis: Claude Guillot
Penerbit: KPG, 2008
Tebal: 430 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 120.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312
PIN BBM: 5244DA2C



Masa lalu memang tak akan pernah kembali dan terulang. Namun, bukan berarti masa lalu dapat dinafikkan begitu saja. Masa lalu dapat menjadi cerminan diri kita apakah akan mengulangi kesalahan yang sama, membiarkan diri masuk ke lubang yang sama atau mau mengubahnya demi masa depan.

Apa yang muncul di benak kita pada masa kini ketika mendengar nama ‘Banten’? Ada berbagai hal menarik yang akan muncul. Salah satunya adalah kisah sejarah kegemilangan Banten di masa silam..

Banten pada masa kini merupakan salah satu pintu gerbang Pulau Jawa melalui udara (Bandara Soekarno-Hatta masuk provinsi Banten). Sedangkan pada masa silam Banten juga menjadi salah satu bandar niaga yang diperhitungkan di dunia internasional. Dengan latar belakang masa kolonial di Banten, Prof. Sartono Kartodirdjo menulis salah satu karya terbaiknya tentang pemberontakan petani Banten 1889. Selain itu, salah satu kabupaten di Banten, Rangkasbitung, menjadi setting novel Max Havelaar karya Multatuli. Novel yang menurut Pramoedya Ananta Toer sebagai novel yang ‘membunuh’ kolonialisme.

Periode sebelum kolonial inilah yang menjadi subyek temporal kumpulan berbagai tulisan karya Claude Guillot beserta penulis lain dalam buku ini. Sumber buku ini adalah kumpulan tulisan yang tersebar di berbagai jurnal dan buku membahas Banten pada abad ke-5 sampai 17. Masa yang luput dari pengamatan dan penelitian para ahli lainnya.

Claude Guillot sendiri adalah peneliti asal Prancis yang pernah menjadi dosen bahasa Prancis di berbagai universitas di Mesir, Tanzania dan Indonesia. Disertasinya membahas perjuangan Kiai Sadrach dan masyarakat Kristen pertama di Desa Karangjoso (1981).

Buku ini terbagi atas tiga bagian ‘Banten sebelum Islam’, lalu ‘Masyarakat dan Politik dalam Kesultanan Banten’, serta ‘Banten dan Dunia asing’. Ketiga bagian itu disusun dari lima belas artikel berbahasa Prancis yang berasal dari majalah ilmiah, seperti Archipel dan sejumlah buku yang diterbitkan tahun 1989 sampai 2006.

Pada bagian pertama dibicarakan sejarah kuno Banten sebelum kedatangan Islam. Ketika itu pusat ibu kota masih di Banten Girang, sepuluh kilometer dari Laut Jawa di hulu Sungai Cibanten. Lalu sebuah peristiwa penting terjadi sewaktu Demak menempatkan raja muslim pertama di Banten pada 1526-1527.

Selama ini kita seolah menyetujui hipotesa Hoesein Djajadiningrat dalam disertasinya di Universiteit Leiden, Critische beschouwing van de Sadjarah Banten. Bijdrage ter keschetsing van de Javaansche geschiedschrijving (1913) yang menjadi rujukan utama tentang sejarah Banten. Djajadingrat ternyata menggunakan sumber-sumber Portugis yang tidak dipilih dengan baik dan mengabaikan sumber-sumber setempat hingga kesimpulannya yang ‘keliru’ yang menyanggah teks yang justru paling lengkap yaitu Sajarah Banten.

Bukti mengenai ‘kekeliruan’ tersebut disajikan dalam tulisan pertama buku ini. Karya bersama Guillot dengan Lukman Nurhakim dan Sonny Wibowo ‘Negeri Banten Girang ‘dari hasil penggalian arkeologi selama empat tahun (1988-1992) di situs Banten Girang, sepuluh kilometer di hulu Banten, pinggiran selatan kota Serang (hal.16). Simpulan hasil penggalian adalah ternyata dinasti Islam bukanlah pendiri Banten tetapi dinasti inilah perebut kekuasaan dalam ‘negara’ yang telah memiliki sejarah yang panjang dalam perniagaan internasional. Tulisan menarik lainnya adalah ‘Perjanjian Antara Portugis dan Sunda Tahun 1522 dan Masalahnya’ (hal.31). Tulisan ini merupakan penafsiran sumber-sumber tertulis yang masih menjadi kendala bagi para sejawaran Indonesia karena menggunakan bahasa Portugis. Teks-teks tersebut antara lain catatan dua penulis kronik asal Portugis, Joao de Barros dan Diogo de Couto, serta teks perjanjian asli antara kerajaan Sunda dan Portugis.

Beberapa sumber dalam beberapa artikel menggunakan laporan pengunjung asing khususnya orang Eropa. Hal yang menarik adalah beberapa laporan tersebut ternyata merupakan laporan rahasia hasil ’spionase’ pada abad ke-17 yang ditulis musuh dan sekaligus tetangga mereka yaitu orang Belanda di Batavia. Orang Belanda itu khawatir dan iri terhadap kemajuan Banten.

Pada bagian kedua diuraikan aspek-aspek sejarah kemasyarakatan dan peradaban Banten pada jaman Islam. Di sini dibahas aspek tata kota, orang Keling, orang Tionghoa penghasil gula, politik produksi pangan, serta perjuangan masyarakat Banten merebut kekuasaan.

Bagian terakhir disajikan hubungan Banten dengan pihak asing. Dalam salah satu artikel disebutkan seorang ’tukang insinyur’ dari abad ke-17 di Banten. Ia adalah Kiyai Ngabehi Cakradana yang namanya kerap disebut oleh para pendatang Eropa yang singgah dan berniaga di Banten pada masa itu (hal.351). Dari berbagai sumber diketahui jika Kiyai Ngabehi Cakradana mengawali karirnya dari seorang “Touckan Bessi” (Tukang Besi) dan Syahbandar. Yang menarik dari sumber yang lain diketahui bahwa ternyata ia adalah seorang keturunan China yang beragama Islam (hal.353).Bagian ketiga ini ditutup dengan tulisan mengenai citra Banten yang muncul dalam kesusastraan Inggris, Prancis dan Belanda. Misalnya dalam The Alchemist (1610) karya Ben Jonson, The Court of the King of Bantam (1689) karya Aphra Ben, La Princesse de Java (1739) karya Madeleine de Gomez, lalu Agon, Sulthan van Bantam (1769) karya Onno Zwier van Haren.

Banten memang sebuah negeri yang kaya akan sumber sejarah. Banten tidak hanya telah menulis sejarahnya sendiri tetapi juga merangsang banyak tulisan dari pengunjung asing. Secara garis besar buku ini tidak meliputi sejarah Banten secara keseluruhan dengan maksud seperti yang juga diungkapkan penulisnya, agar kelak ada peneliti atau pihak-pihak lain yang akan menuliskannya. Namun, sebagai kajian sejarah dan arkeologi buku ini patut untuk disimak oleh mereka yang berminat pada sejarah dan peradaban Banten di masa silam.

Jual Buku Stalinisme dan Bolshevisme (Leon Trotsky)

Judul: Stalinisme dan Bolshevisme
Penulis: Leon Trotsky
Penerbit: Sega Arsy
Tebal: 210 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 40.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312
PIN BBM: 5244DA2C



Benarkah Stalinisme mewakili produk yang sah dari Bolshevisme, sebagaimana dipertahankan oleh semua kaum reaksioner, sebagaimana diklaim oleh Stalin, sebagaimana diyakini oleh kaum Menshevik, Anarkis, dan orang-orang doktriner Kiri yang menganggap diri mereka Marxis? “Kami telah meramalkan hal ini,” kata mereka. “Setelah memulai dengan melarang partai-partai Sosialis yang lain, menindas kaum Anarkis, dan mendirikan kediktatoran Bolshevik dalam Soviet-soviet, Revolusi Oktober hanya mungkin bermuara pada kediktatoran birokrasi. Stalin adalah kelanjutan dari Leninisme dan juga sekaligus kebangkrutan dari Leninisme.”

Jual Buku Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman

Judul: Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman
Penulis: Tim Buku TEMPO
Penerbit: KPG, 2010
Tebal: 172 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 50.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312
PIN BBM: 5244DA2C



“Pemimpin berarti suri tauladan dalam segala perbuatannya…”

Boleh jadi, inilah, kata-kata terkuat yang ada di buku ini. Sebenarnya ini adalah coretan tangan bertanggal 2 Juli 1949, di sebuah rumah di Pulau Bangka. Sepintas tak istimewa kecuali karena ditulis oleh seseorang yang harum dan besar namanya dalam sejarah Bangsa Indonesia: Mohammad Hatta.

Hatta dilahirkan oleh Saleha Djamil di Desa Tajungkang, Bukittingi pada 12 Agustus 1902. Ayah beliau Haji Mohammad Djamil. Hatta meninggal di Jakarta 14 Maret 1980 meninggalkan orang-orang yang mencintainya, kenangan dan keteladanan seperti petikan tulisannya di atas yang bersemangat.

Mohammad Hatta adalah sosok yang kuat dalam tiga hal:

Seorang religius
Semasa kecilnya Hatta belajar  mengaji kepada Syekh Mohammad  Djamil Djambek sampai mengkhatamkan Al-Qur’an. Tak pernah alpa menghadiri majelis beliau di surau, selepas belajar di Europeesche Lagere School (ELS). Saat belajar di Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) di Padang, Hatta juga memperoleh bimbingan agama dari Haji Abdullah Ahmad. Bersamaan dengan itu Hatta mengenal Jong Sumatranen Bond dan mendengarkan ceramah dari tokoh-tokoh agama dan pergerakan.

Selama hidupnya Hatta dikenal sebagai sosok yang taat agama, menjaga sholat dan menghargai waktu, selain kesederhanaannya. Saat pengasingannya bersama Sutan Sjahrir di Banda, hari-harinya dihabiskan dengan diskusi, jalan-jalan ke perkebunan, belajar, membaca buku dan menulis untuk untuk surat kabar. Bahkan saking disiplinnya, Hatta dijadikan jam bagi para pekerja perkebunan pala. Mereka menandai kemunculan Hatta sebagai jam lima, yang berarti saatnya berhenti bekerja.

Kelak, pemahamannya terhadap nilai-nilai agama juga mempengaruhi cara dan sikapnya dalam kesehariannya maupun berpolitik.

Seorang akademisi
Pendidikan tinggi Hatta adalah Rotterdamse Handelshogeschool – sebuah sekolah ekonomi bergengsi di Belanda. Hatta masuk saat usia 19 tahun. Di sanalah Hatta bertemu dengan sesama pelajar Indonesia yang memiliki semangat untuk memerdekakan Indonesia dari tangan Belanda melaui wadah Perhimpunan Indonesia. Hatta pernah menjadi ketuanya. Jadilah Hatta sebagai seorang doktor ekonomi dan aktivis pergerakan. Sikapnya yang tegas menentang penjajahan kolonial membuatnya dipenjara oleh pemerintah Belanda.

Ia menaruh perhatian yang tinggi dalam ilmu pengetahuan. Kecintaannya terhadap buku sudah tidak perlu diragukan lagi. Bacaan bukunya melimpah. Itulah amunisinya, untuk membuat tulisan-tulisanya menjadi senjata yang tajam dan menggetarkan. Apalagi Hatta juga fasih berbahasa Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman, membuat tulisan dan pidatonya memiliki gaung internasional.

Uniknya, emas kawin untuk menikahi istrinya, Rahmi, pada November 1945 adalah buku! Buku Alam Pikiran Yunani yang ditulisnya sendiri. Memang Hatta!

Sedangkan perhatiannya terhadap dunia ekonomi hadir lewat koperasi yang kita kenal hingga saat ini.

Seorang negarawan
Ia mencintai negerinya. Bersama Sukarno ia menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya mereka dikenal sebagai Dwitunggal karena menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia. Tetapi mereka berbeda dalam banyak hal. Pertentangan mereka tampak jelas ketika Sukarno menolak mengesahkan Maklumat X yang diteken Hatta untuk meletakkan sistem multipartai dan demokrasi parlementer. Tahun 1956 Sukarno malah mencanangkan Demokrasi Terpimpin sambil berseru, “Marilah sekarang kita kubur semua partai.”

Hatta mengecam konsep Sukarno ini sebagai bentuk kediktatoran. Dan perpecahan pun tak terelakkan. Akhirnya, tahun 1956 Hatta mengundurkan diri dari pemerintahan.

Meski tidak lagi di pemerintahan, Hatta tak kehilangan kekritisannya. Lewat forum-forum dan tulisan-tulisannya  di media massa ia mengkritik sikap politik Sukarno dan pengelolaan Negara yang tidak semestinya. Akibatnya pada tahun 1960 sejumlah surat kabar dibredel penerbitannya. Selanjutnya Hatta menggunakan cara menulis surat pribadi kepada Sukarno agar tak menyusahkan orang lain. Ini dilakukannya pada tahun 1957-1965, saat Sukarno menjadikan dirinya sendiri sebagai presiden seumur hidup.

Di luar segala perbedaan tersebut, Hatta dan Sukarno adalah teman satu sama lain. Pertemuan terakhir mereka adalah saat Hatta menjenguk Sukarno yang diopname di rumah sakit pada 19 Juni 1970. “Hatta, kamu di sini?” Tanya Sukarno. “Ah, apa kabarmu, No?” jawab Hatta sambil menyalami tangan Sukarno dengan hangat.

Hatta terdiam, dan Sukarno berlinangan air mata. Ketika saatnya berpisah, Hatta  masih berat melepaskan tangan Sukarno. Dua hari setelah pertemuan itu, Sukarno meninggal dunia.

Hatta, di antara bapak pendiri bangsa, bersama-bersama yang lain merasakan suka dukanya perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Pembuangannya ke Banda, Bangka dan Digul pun tetap memiliki kesan dan pesan berharga. Seseorang dengan pendidikan eropa, tapi tak kehilangan jati dirinya. Kaulah anak cie pamainan mato (anak yang pada dirinya terpendam kebaikan, dan perangainya mengundang rasa sayang). Tak salah jika bangsa Belanda pun menamakan salah satu jalannya dengan namamu, Mohammed Hattastraat.

Jual Buku Menempuh Jalan Rakyat (D.N. Aidit)

Judul: Menempuh Jalan Rakyat
Penulis: D.N. Aidit
Penerbit: Sega Arsy
Tebal: 150 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 35.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312
PIN BBM: 5244DA2C


Buku ini merupakan karya penting D.N. Aidit yang disampaikan sebagai pidato pada tanggal 26 Mei 1952. Berisi kritik dan evaluasi atas perjuangan bangsa Indonesia menghadapi kolonialisme penjajah dan perubahan-perubahan mendasar di masa depan.

Jual Buku The Divine Message of the DNA: Tuhan dalam Gen Kita

Judul: The Divine Message of the DNA: Tuhan dalam Gen Kita
Penulis: Kazuo Murakami
Penerbit: Mizan, 2008
Tebal: 200 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Harga: Rp. 40.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312
PIN BBM: 5244DA2C


Gen atau DNA (deoxyribonucleic acid) berisi semua informasi yang diperlukan untuk membentuk kehidupan. Gen menentukan fungsi dari sel dan terdapat di nukleus sel makhluk hidup. Kode genetik adalah kumpulan instruksi untuk membentuk protein. Protein bersama dengan air adalah salah satu zat terpenting dalam tubuh kita. Protein juga ditemukan dalam enzim-enzim yang penting untuk reaksi-reaksi kimia yang berlangsung dalam tubuh kita. Dengan kata lain, protein adalah dasar dari fenomena yang kita sebut sebagai kehidupan.

Struktur DNA ditemukan pada tahun 1953 dan sekarang kita dapat membaca cetak biru yang tertulis pada DNA--kode genetik dari bakteri, hewan, dan bahkan manusia. Kode genetik manusia tersusun dari lebih dari tiga milliar "huruf-huruf kimia' yang tersimpan dalam untai-untai mikroskopik yang memiliki berat hanya satu per 200 miliar gram dan lebar hanya 1/500.000 milimeter, namun jika direnggangkan memiliki panjang sekitar tiga meter. Wow.. betapa kecilnya!

Walaupun gen diperlengkapi dengan begitu banyak informasi, namun tidak seluruh informasi itu digunakan. Gen dalam nukleus ditranskripsikan kepada setiap RNA (ribonucleic acid) bila diperlukan. RNA dalam sel dengan segera diterjemahkan menjadi protein dan enzim, yang merupakan zat-zat paling penting bagi aktivitas sel. Namun, pada saat yang sama, mereka juga mencegah dibacanya informasi yang tidak perlu. Seperti mekanisme nyala padam pada peralatan listrik. Berdasarkan penemuan ini, penulis buku ini--Kazuo Murakami, Ph.D., ahli genetika terkemuka di dunia, pemenang Max Planck Research Award (1990) dan Japan Academy Prize (1996)-- meyakini bahwa kita dapat mengaktifkan gen-gen kita yang bermanfaat dan menjadikan mereka berguna bagi kita, dan sebaliknya menonaktifkan gen-gen yang tidak bermanfaat.

Ada tiga faktor yang terlibat dalam aktivasi gen, yaitu gen itu sendiri, lingkungan, dan pikiran. Banyak orang percaya bahwa ciri-ciri yang diwariskan tidak pernah berubah. Sesuatu kemampuan (misal: kecerdasan atau atletik) memang berkaitan dengan gen. Namun tidak berarti bahwa seseorang sama sekali tidak memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan itu ada tetapi belum dinyalakan. Jika kita menghilangkan semua hambatan dan menyediakan lingkungan yang sesuai, maka potensi kita untuk berkembang akan tidak terbatas. Kemudian, berpikir positif--teruatama ketika mengalami kesulitan atau mengalami saat-saat buruk-- dapat menyalakan gen, merangsang otak dan tubuh untuk memproduksi hormon yang bermanfaat. Hal ini berarti mengembangkan kemampuan untuk mencari makna bahkan dalam kesulitan yang paling buruk, untuk memandang apa yang terjadi pada kita sebagai sebuah pesan atau hadiah. Segala sesuatu yang terjadi kepada kita memang perlu terjadi, baik maupun buruk.

Di buku ini juga ditulis mengenai teori lain mengenai evolusi yang diajukan Lynn Margulis pada era 1960-an, yang dikenal sebagai Teori Endosimbiotik. Berbeda dengan teori evolusi Darwin, bahwa kita berevolusi melalui seleksi alam dan mutasi dan hanya yang paling layaklah yang dapat bertahan, Teori Endosimbiotik didasarkan pada ide bahwa kehidupan berevolusi melalui kerja sama mutualisme. Proses evolusi dimulai dari organisme bersel satu tanpa nukleus. Penggabungan antara beberapa sel sederhana atau bagian sel yang bekerja bersama untuk membentuk jenis sel baru membawa evolusi ke tingkatan berikutnya, yaitu sel yang memiliki nukleus.

Motoo Kimura, seorang ahli genetik yang terkenal dengan teori evolusi netral, menyatakan bahwa kemungkinan sesosok makhluk hidup dapat dilahirkan sama dengan kemungkinan satu orang memenangi lotre $100 juta berturut-turut selama satu juta kali. Bahwa kita lahir saja adalah suatu prestasi yang ajaib! (yang karenanya harus disyukuri)

Selama puluhan tahun meneliti gen yang sangat mikro, Kazuo Murakami yakin bahwa kode genetik tidak terjadi secara kebetulan, bahwa ada yang menuliskan cetak biru tersebut. Kazuo Murakami memiliki tiga saran yang dianggapnya sangat berguna dalam hidupnya. Saran-saran tersebut adalah (1) miliki niat yang mulia, (2) hidup dengan rasa terima kasih, dan (3) berpikir positif.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tolong like Facebook kami, trims

 
Blogger Widgets